Kisah Heroik 19 Santri di Kediri, Sabetan Pedangnya Bikin Ribuan Orang PKI Kalang Kabut
Sabtu, 23 September 2023 - 02:45 WIB
loading...
A
A
A
Mereka tetap bersikap beringas, bergerak memerangi semua yang dianggap lawan, termasuk menyerang pondok pesantren NU (Nahdlatul Ulama). Sebab sejak Masyumi dibubarkan karena dianggap terlibat pemberontakan PRRI/Permesta, satu-satunya lawan terkuat PKI dari kalangan Islam tinggal NU dan juga tentara.
Berdasarkan catatan peneliti asing Herbert Feith, dalam Pemilu 1955 di Indonesia, perolehan suara PKI pada Pemilu 1955 di Karesidenan Kediri, mencapai 457.000 suara. Perolehan suara PKI itu adalah yang tertinggi, mengalahkan perolehan suara PNI sebanyak 455.000 suara, NU sebanyak 366.000 suara, dan Masyumi sebanyak 155.000 suara.
Hal itu yang membuat orang-orang PKI di Kediri, yakni terutama di Mojo, dan Kras, yang secara geografis letaknya berdekatan, dan merupakan basis PKI, berani dengan leluasa menebar teror. Bahkan sejak menjelang peristiwa G30S/ PKI, intensitas teror semakin meningkat, utamanya kepada kalangan pesantren.
Baca juga: Viral! 3 Wanita Seksi Asyik Goyang Erotis di Dekat Musala, Begini Penampakannya
Akibat teror, jumlah santri di Pondok Pesantren Ploso, yang semula 600 orang menyusut tinggal 22 orang. Sementara meski kalah jauh dari sisi jumlah, para santri yang ditugaskan menghadang orang-orang PKI tidak merasa gentar.
Sebelum berangkat ke medan tempur, 19 santri yang dipimpin Kiai Ghozali Burdah lebih dahulu digembleng. Pertempuran tidak seimbang antara 19 santri Pondok Pesantren Ploso, melawan ribuan orang PKI itu pun meletus.
Berdasarkan catatan peneliti asing Herbert Feith, dalam Pemilu 1955 di Indonesia, perolehan suara PKI pada Pemilu 1955 di Karesidenan Kediri, mencapai 457.000 suara. Perolehan suara PKI itu adalah yang tertinggi, mengalahkan perolehan suara PNI sebanyak 455.000 suara, NU sebanyak 366.000 suara, dan Masyumi sebanyak 155.000 suara.
Hal itu yang membuat orang-orang PKI di Kediri, yakni terutama di Mojo, dan Kras, yang secara geografis letaknya berdekatan, dan merupakan basis PKI, berani dengan leluasa menebar teror. Bahkan sejak menjelang peristiwa G30S/ PKI, intensitas teror semakin meningkat, utamanya kepada kalangan pesantren.
Baca juga: Viral! 3 Wanita Seksi Asyik Goyang Erotis di Dekat Musala, Begini Penampakannya
Akibat teror, jumlah santri di Pondok Pesantren Ploso, yang semula 600 orang menyusut tinggal 22 orang. Sementara meski kalah jauh dari sisi jumlah, para santri yang ditugaskan menghadang orang-orang PKI tidak merasa gentar.
Sebelum berangkat ke medan tempur, 19 santri yang dipimpin Kiai Ghozali Burdah lebih dahulu digembleng. Pertempuran tidak seimbang antara 19 santri Pondok Pesantren Ploso, melawan ribuan orang PKI itu pun meletus.
Lihat Juga :