Pemkab Gunungkidul Minta Kegiatan Jamaah Tabligh Dihentikan
Rabu, 29 April 2020 - 20:31 WIB
loading...
Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi telah berkoodinasi dengan kepolisian untuk meniadakan kegiatan jamaah tabligh untuk sementara waktu. FOTO/SINDOnews/SUHARJONO
A
A
A
GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul meminta seluruh kegiatan jamaah tabligh (JT) dihentikan menyusul adanya enam warga Desa Wonosari positif terinfeksi virus corona jenis baru, COVID-19. Dari hasil tracing diketahui kasus ini berawal dari warga yang mengikuti kegiatan tabligh akbar di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan, berbagai kegiatan yang mengumpulkan banyak orang sangat rentan terjadi penularan COVID-19. Ini dibuktikan dengan kasus positif corona di Wonosari diduga berawal dari penjemputan jamaah setelah mengikuti kegiatan di Kebon Jeruk.
"Ini bukan perkara kegiatan keagamaan yang dilarang. Namun karena kita berusaha memutus mata rantai penularan COVID-19. Maka dari itu kami minta kegiatan ditiadakan terlebih dahulu," katanya kepada SINDOnews, Rabu (29/4/2020).
Dijelaskan, dari hasil tracing, pasien positif pertama berawal dari pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 yang tidak jujur kepada petugas. PDP yang meninggal dunia itu belakangan diketahui menjemput satu warga dari Kebon Jeruk yang positif COVID-19. "Dari sini lah kemudian kasus berkembang," ungkapnya.
Semua warga yang positif terinfeksi COVID-19 ternyata melakukan kontak langsung dengan warga yang pulang dari Kebon Jeruk. Meski pulang dari zona merah, warga yang mengikuti kegiatan di Kebon Jeruk menolak melakukan isolasi mandiri. Belakangan diketahui, dia ternyata positif corona.
Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan, berbagai kegiatan yang mengumpulkan banyak orang sangat rentan terjadi penularan COVID-19. Ini dibuktikan dengan kasus positif corona di Wonosari diduga berawal dari penjemputan jamaah setelah mengikuti kegiatan di Kebon Jeruk.
"Ini bukan perkara kegiatan keagamaan yang dilarang. Namun karena kita berusaha memutus mata rantai penularan COVID-19. Maka dari itu kami minta kegiatan ditiadakan terlebih dahulu," katanya kepada SINDOnews, Rabu (29/4/2020).
Dijelaskan, dari hasil tracing, pasien positif pertama berawal dari pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 yang tidak jujur kepada petugas. PDP yang meninggal dunia itu belakangan diketahui menjemput satu warga dari Kebon Jeruk yang positif COVID-19. "Dari sini lah kemudian kasus berkembang," ungkapnya.
Semua warga yang positif terinfeksi COVID-19 ternyata melakukan kontak langsung dengan warga yang pulang dari Kebon Jeruk. Meski pulang dari zona merah, warga yang mengikuti kegiatan di Kebon Jeruk menolak melakukan isolasi mandiri. Belakangan diketahui, dia ternyata positif corona.
Lihat Juga :