Kisah Kusni Kasdut, Bandit Legendaris dan Pejuang Kemerdekaan yang Dihukum Mati Presiden Soeharto
Senin, 03 Juli 2023 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Petualangan Kusni Kasdut sebagai penjahat besar akhirnya berakhir. Setelah Presiden Soeharto menolak grasi yang diajukan, pada 6 Februari 1980, Kusni Kasdut menjalani eksekusi hukuman mati.
Jauh sebelum peristiwa perampokan Museum Nasional Jakarta (1963) yang membuat namanya melegenda, Kusni Kasdut adalah pejuang kemerdekaan.
Tidak banyak yang mengetahui cerita itu. Yang dipahami banyak orang, Kusni yang pernah mengenyam sekolah teknik adalah seorang penjahat besar yang ditakuti. Sebagai tentara di batalyon Matsumura Malang, ia banyak digembleng ilmu perang.
Mengoperasikan senjata, mempelajari ilmu penyamaran, bertempur, menyabotase, bergerilya. Pangkat terakhirnya Jokotei. Saat Jepang bertekuk lutut, Kusni masuk ke dalam barisan pejuang Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.
Baca Juga: Kisah Pertarungan 2 Santri Jombang Surontanu Lawan Joko Tulus karena Beda Prinsip
BKR didirikan empat hari setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu, kabar Proklamasi Kemerdekaan di kalangan pejuang lebih dulu tersebar. Euforia kemerdekaan sontak meluber ke mana-mana.
Di jalan-jalan, lazim terlontar pekik merdeka. Tidak terkecuali di Malang. Tempat Kusni berjuang sekaligus bertempat tinggal. ”Bung Kusni”, begitu sesama laskar pejuang kemerdekaan memanggilnya. Seorang pemurung pendiam yang berkulit cerah. Berkumis tipis.
Posturnya tidak tinggi. Berperawakan kecil sekaligus tidak bertulang besar. Namun liat dan bertenaga kuat. Sorot mata Kasdut tajam dan pemberani. Solidaritasnya sesama pejuang juga tinggi. Saat itu namanya masih Kusni.
Baca Juga: Pertarungan Sengit Santri KH Hasyim Asy'ari Melawan Pendekar Sakti dari Lokalisasi Kebo Ireng
Belum ada tambahan Kasdut di belakangnya. Kusni juga terlibat aksi pelucutan senjata tentara Jepang. Di Malang. Ia ikut memimpin penyerbuan gudang-gudang senjata. Menggasak amunisi sekaligus membagi-bagikan ke sesama pejuang.
Tidak terkecuali aset-aset vital. Kusni juga ikut merebut paksa. Tentara Jepang yang mentalnya sudah ambruk karena kalah perang, ditawan. Yang nekat melawan, dengan terpaksa mereka habisi. Jelang akhir Oktober 1945.
Jauh sebelum peristiwa perampokan Museum Nasional Jakarta (1963) yang membuat namanya melegenda, Kusni Kasdut adalah pejuang kemerdekaan.
Tidak banyak yang mengetahui cerita itu. Yang dipahami banyak orang, Kusni yang pernah mengenyam sekolah teknik adalah seorang penjahat besar yang ditakuti. Sebagai tentara di batalyon Matsumura Malang, ia banyak digembleng ilmu perang.
Mengoperasikan senjata, mempelajari ilmu penyamaran, bertempur, menyabotase, bergerilya. Pangkat terakhirnya Jokotei. Saat Jepang bertekuk lutut, Kusni masuk ke dalam barisan pejuang Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.
Baca Juga: Kisah Pertarungan 2 Santri Jombang Surontanu Lawan Joko Tulus karena Beda Prinsip
BKR didirikan empat hari setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu, kabar Proklamasi Kemerdekaan di kalangan pejuang lebih dulu tersebar. Euforia kemerdekaan sontak meluber ke mana-mana.
Di jalan-jalan, lazim terlontar pekik merdeka. Tidak terkecuali di Malang. Tempat Kusni berjuang sekaligus bertempat tinggal. ”Bung Kusni”, begitu sesama laskar pejuang kemerdekaan memanggilnya. Seorang pemurung pendiam yang berkulit cerah. Berkumis tipis.
Posturnya tidak tinggi. Berperawakan kecil sekaligus tidak bertulang besar. Namun liat dan bertenaga kuat. Sorot mata Kasdut tajam dan pemberani. Solidaritasnya sesama pejuang juga tinggi. Saat itu namanya masih Kusni.
Baca Juga: Pertarungan Sengit Santri KH Hasyim Asy'ari Melawan Pendekar Sakti dari Lokalisasi Kebo Ireng
Belum ada tambahan Kasdut di belakangnya. Kusni juga terlibat aksi pelucutan senjata tentara Jepang. Di Malang. Ia ikut memimpin penyerbuan gudang-gudang senjata. Menggasak amunisi sekaligus membagi-bagikan ke sesama pejuang.
Tidak terkecuali aset-aset vital. Kusni juga ikut merebut paksa. Tentara Jepang yang mentalnya sudah ambruk karena kalah perang, ditawan. Yang nekat melawan, dengan terpaksa mereka habisi. Jelang akhir Oktober 1945.
Lihat Juga :