Kisah Kusni Kasdut, Bandit Legendaris dan Pejuang Kemerdekaan yang Dihukum Mati Presiden Soeharto
Senin, 03 Juli 2023 - 13:20 WIB
loading...
Ignatius Waluyo alias Kusni Kasdut, pejuang kemerdekaan yang dikenal sebagai perampok legendaris di Indonesia. Foto/Repro/Istimewa
A
A
A
Tidak selamanya mereka yang bergerilya di medan perang semasa perjuangan kemerdekaan, berakhir dengan sebutan pahlawan. Gelar pahlawan tidak akan pernah disematkan kepada Ignatius Waluyo alias Kusni Kasdut, mantan pejuang sekaligus dikenal sebagai perampok legendaris.
Pria asal Malang, Jawa Timur ini pernah membuat heboh publik yang hingga kini terus dikenang. Kusni tidak hanya populer di kalangan masyarakat Blitar, tapi juga secara nasional.
Pada tahun 1963, Kusni nekat merampok Museum Nasional Jakarta. Kusni dikenal bernyali sekaligus licin. Saat hendak ditangkap di Semarang, Jawa Tengah, ia melawan dan seorang polisi tewas tertembak.
Baca Juga: Kharisma Raden Asnawi, Ulama Kudus yang Mampu Usir Musuh dari Jarak Jauh
Sejak itu Kusni Kasdut menjadi penjahat yang paling dicari di Indonesia. Aksi kejahatannya tak berhenti. Ia menculik seorang dokter di Surabaya dan kepada keluarga si dokter dimintanya uang tebusan.
Bahkan, Kusni merampok seorang miliarder keturunan Arab di Jakarta dan membuat si miliarder tewas.
Kusni Kasdut tertangkap berulangkali. Namun berkali-kali pula berhasil kabur dari penjara yang membelenggunya. Penjara Semarang, Kalisosok Surabaya, dan Cipinang Jakarta, dengan mudah diterobosnya.
Kepada polisi yang menangkapnya, Kusni Kasdut selalu mengaku berasal dari Blitar. Ia mengatakan lahir di Desa Jatituri, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar pada akhir tahun 1929.
Dalam buku “Kusni Kasdut”, Parakitri menulis, Kusni Kasdut bukan berasal dari Blitar dan Malang. Kusni lahir di Desa Bayan Patikrejo Kabupaten Tulungagung. Kendati demikian publik telanjur lebih memercayai Kusni Kasdut berasal dari Blitar.
Baca Juga: Kisah Perang Bubat antara Majapahit dengan Sunda di Lapangan Ibu Kota
Yang tidak banyak diketahui, pada peristiwa 10 November 1965 di Surabaya, Kusni Kasdut ikut berjuang di garda depan. Ia juga berjuang pada saat agresi Militer Belanda.
Pria asal Malang, Jawa Timur ini pernah membuat heboh publik yang hingga kini terus dikenang. Kusni tidak hanya populer di kalangan masyarakat Blitar, tapi juga secara nasional.
Pada tahun 1963, Kusni nekat merampok Museum Nasional Jakarta. Kusni dikenal bernyali sekaligus licin. Saat hendak ditangkap di Semarang, Jawa Tengah, ia melawan dan seorang polisi tewas tertembak.
Baca Juga: Kharisma Raden Asnawi, Ulama Kudus yang Mampu Usir Musuh dari Jarak Jauh
Sejak itu Kusni Kasdut menjadi penjahat yang paling dicari di Indonesia. Aksi kejahatannya tak berhenti. Ia menculik seorang dokter di Surabaya dan kepada keluarga si dokter dimintanya uang tebusan.
Bahkan, Kusni merampok seorang miliarder keturunan Arab di Jakarta dan membuat si miliarder tewas.
Kusni Kasdut tertangkap berulangkali. Namun berkali-kali pula berhasil kabur dari penjara yang membelenggunya. Penjara Semarang, Kalisosok Surabaya, dan Cipinang Jakarta, dengan mudah diterobosnya.
Kepada polisi yang menangkapnya, Kusni Kasdut selalu mengaku berasal dari Blitar. Ia mengatakan lahir di Desa Jatituri, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar pada akhir tahun 1929.
Dalam buku “Kusni Kasdut”, Parakitri menulis, Kusni Kasdut bukan berasal dari Blitar dan Malang. Kusni lahir di Desa Bayan Patikrejo Kabupaten Tulungagung. Kendati demikian publik telanjur lebih memercayai Kusni Kasdut berasal dari Blitar.
Baca Juga: Kisah Perang Bubat antara Majapahit dengan Sunda di Lapangan Ibu Kota
Yang tidak banyak diketahui, pada peristiwa 10 November 1965 di Surabaya, Kusni Kasdut ikut berjuang di garda depan. Ia juga berjuang pada saat agresi Militer Belanda.
Lihat Juga :