Kisah Perdamaian Mataram dengan Belanda di Era Sultan Amangkurat I
Senin, 19 Juni 2023 - 06:10 WIB
loading...
A
A
A
Konsekuensi kedudukan sebagai vazal, menurut pengertian Jawa, membawa keharusan untuk membantu Sultan Amangkurat I dalam setiap peperangan yang dilakukannya. Kompeni tidak mau menerima hal ini, dan hanya mau mendukung raja dalam menghadapi musuh-musuh yang juga menjadi musuhnya sendiri.
Baca juga: Selingkuh dengan Istri Orang, Pria Sumenep Tewas Penuh Luka Bacok
Oleh karena itu, kemudian tidak terdapat sikap saling membantu. Dengan demikian, pasal 5 ini praktis tidak banyak artinya. Pemerintah kompeni Belanda juga tidak dapat menerima permintaan supaya semua pedagang di bawah kekuasaan Raja Mataram, boleh secara bebas berlayar dan berdagang di mana-mana, dan juga tidak akan merintangi orang Melayu yang menuju Istana.
Sebab, ini akan berarti hancurnya sistem perdagangan kompeni. Oleh karena itu, pasal 6 melarang pelayaran bebas di Kepulauan Maluku, dan lebih jauh dari Malaka. Anehnya, perdagangan bebas bagi orang Belanda di pelabuhan-pelabuhan Mataram tidak terjamin. Hal ini setelah tahun 1652 akan menimbulkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan.
Baca juga: Selingkuh dengan Istri Orang, Pria Sumenep Tewas Penuh Luka Bacok
Oleh karena itu, kemudian tidak terdapat sikap saling membantu. Dengan demikian, pasal 5 ini praktis tidak banyak artinya. Pemerintah kompeni Belanda juga tidak dapat menerima permintaan supaya semua pedagang di bawah kekuasaan Raja Mataram, boleh secara bebas berlayar dan berdagang di mana-mana, dan juga tidak akan merintangi orang Melayu yang menuju Istana.
Sebab, ini akan berarti hancurnya sistem perdagangan kompeni. Oleh karena itu, pasal 6 melarang pelayaran bebas di Kepulauan Maluku, dan lebih jauh dari Malaka. Anehnya, perdagangan bebas bagi orang Belanda di pelabuhan-pelabuhan Mataram tidak terjamin. Hal ini setelah tahun 1652 akan menimbulkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan.
(eyt)
Lihat Juga :