Kisah Siti Manggopoh, Sosok Wanita Legendaris Berjuluk Singa Betina dari Minang
Senin, 12 Juni 2023 - 05:02 WIB
loading...
A
A
A
Memimpin 16 orang temannya, Siti Manggopoh bak singa betina yang gagah berani melindungi tanah kelahirannya dari keserakahan Belanda. Dia begitu gagah berani mengangkat senjata melawan serdadu Belanda.
Belanda yang mengerahkan sebanyak 55 serdadunya, dibuat kalang kabut oleh serangan mematikan yang dilakukan Siti Manggopoh bersama 16 orang temannya tersebut. Akibat serangan itu, nyawa 53 serdadu Belanda melayang.
Menggunakan taktik perang gerilya dan taktik umpan untuk melakukan perlawanan, membuat pasukan Siti Manggopoh dengan mudah menakhlukkan pasukan Belanda. Tak kuasa menghadapi kekalahan, serdadu Belanda melakukan balasan secara membabibuta, dengan melakukan penangkapan massal terhadap warga Manggopoh.
Baca juga: 2 Polisi Ditikam OTK di Kendari Gara-gara Teman Wanita, Ini Penjelasan Polda Sultra
Blokade total dilakukan serdadu Belanda, untuk menumpas perlawanan Siti Manggopoh bersama pasukannya. Bahkan, akibat blokade total tersebut, Nagari Manggopoh berubah menjadi daerah terisolir karena seluruh jalan ditutup barikade serdadu Belanda.
Perang yang dipicu oleh penarikan pajak secara semena-mena ini, terjadi pada tahun 1908. Dilansir dari kesbangpol.sumbarprov.go.id, perang Manggopoh bukanlah perlawanan lokal anak Nagari Manggopoh semata, namun merupakan bentuk perlawanan rakyat Sumatera Barat, terhadap penjajahan Belanda.
Siti Manggopoh, perempuan Minang yang begitu pemberani dan gagah berani mengangkat sejata melawan penjajah Belanda. Dia seperti singa betina dari Minang, yang tak mengenal rasa takut untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah.
Siti Manggopoh wafat pada 20 Agustus 1965 di Gasan Gadang, Padang Pariaman. Proses pemakaman Siti Manggopoh dilaksanakan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.
Belanda yang mengerahkan sebanyak 55 serdadunya, dibuat kalang kabut oleh serangan mematikan yang dilakukan Siti Manggopoh bersama 16 orang temannya tersebut. Akibat serangan itu, nyawa 53 serdadu Belanda melayang.
Menggunakan taktik perang gerilya dan taktik umpan untuk melakukan perlawanan, membuat pasukan Siti Manggopoh dengan mudah menakhlukkan pasukan Belanda. Tak kuasa menghadapi kekalahan, serdadu Belanda melakukan balasan secara membabibuta, dengan melakukan penangkapan massal terhadap warga Manggopoh.
Baca juga: 2 Polisi Ditikam OTK di Kendari Gara-gara Teman Wanita, Ini Penjelasan Polda Sultra
Blokade total dilakukan serdadu Belanda, untuk menumpas perlawanan Siti Manggopoh bersama pasukannya. Bahkan, akibat blokade total tersebut, Nagari Manggopoh berubah menjadi daerah terisolir karena seluruh jalan ditutup barikade serdadu Belanda.
Perang yang dipicu oleh penarikan pajak secara semena-mena ini, terjadi pada tahun 1908. Dilansir dari kesbangpol.sumbarprov.go.id, perang Manggopoh bukanlah perlawanan lokal anak Nagari Manggopoh semata, namun merupakan bentuk perlawanan rakyat Sumatera Barat, terhadap penjajahan Belanda.
Siti Manggopoh, perempuan Minang yang begitu pemberani dan gagah berani mengangkat sejata melawan penjajah Belanda. Dia seperti singa betina dari Minang, yang tak mengenal rasa takut untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah.
Siti Manggopoh wafat pada 20 Agustus 1965 di Gasan Gadang, Padang Pariaman. Proses pemakaman Siti Manggopoh dilaksanakan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.
Lihat Juga :