Ini Penjelasan Tim Peneliti soal Arak Bali untuk Terapi COVID-19
Kamis, 23 Juli 2020 - 22:10 WIB
loading...
A
A
A
Wirasuta menolak mengungkap detil ramuan tradisional itu karena dalam persiapan untuk dipatenkan. "Yang pasti sudah melalui riset dan tahapan fermentasi dan destilasi," ujar pengelola Laboratorium Forensik Sain dan Kriminilogi Universitas Udayana ini.
Setelah jadi, tutur Wirasuta, ramuan tradisonal itu kemudian diujicobakan kepada 19 orang yang menjalani isolasi di tempat karantina. Hasilnya, ada 15 orang yang kemudian hasil tes swab-nya negatif setelah tiga hari menjalani terapi usada arak.
Wirasuta menuturkan, terapi usada arak harus menggunakan alat bantu nebulator untuk menghirup uap atau kabut dari ramuan itu. "Karena di Amerika sudah booming juga memakai alkohol dan banyak kejadian terjadi efek burning kebakaran. Saya tidak mau itu terjadi di kita," tandas ahli toksikologi forensik ini.
Dalam menjalani terapi, ungka Wirasuta, pasien harus melakukannya setiap pagi, siang, dan sore. "Lamanya satu menit. Hanya satu menit, tidak boleh lebih," tandas Wirasuta.
Setelah jadi, tutur Wirasuta, ramuan tradisonal itu kemudian diujicobakan kepada 19 orang yang menjalani isolasi di tempat karantina. Hasilnya, ada 15 orang yang kemudian hasil tes swab-nya negatif setelah tiga hari menjalani terapi usada arak.
Wirasuta menuturkan, terapi usada arak harus menggunakan alat bantu nebulator untuk menghirup uap atau kabut dari ramuan itu. "Karena di Amerika sudah booming juga memakai alkohol dan banyak kejadian terjadi efek burning kebakaran. Saya tidak mau itu terjadi di kita," tandas ahli toksikologi forensik ini.
Dalam menjalani terapi, ungka Wirasuta, pasien harus melakukannya setiap pagi, siang, dan sore. "Lamanya satu menit. Hanya satu menit, tidak boleh lebih," tandas Wirasuta.
(awd)
Lihat Juga :