Sekeluarga PDP di Surabaya Meninggal Dunia dalam Kurun Satu Pekan
Jum'at, 05 Juni 2020 - 19:52 WIB
Tak hanya ibu dan janin yang masih delapan bulan, indikasi Covid-19 juga merembet ke kedua orang tua D, yakni G dan C. Pasangan suami istri ini mengalami gejala demam, batuk dan sesak nafas. Akhirnya kedua orang ini dibawa ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari untuk menjalani perawatan pada 29 Mei.
Takdir berkata lain, sehari dirawat korban G meninggal dunia. Selang beberapa hari, tepatnya 2 Juni 2020 sang istri, C, menyusul untuk pergi untuk selama-lamanya.
Pasca meninggalnya satu keluarga, saat ini Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya melakukan tracking dan mengkarantina lima orang keluarga yang kontak erat dengan korban. Rapid test pun dilakukan terhadap 69 warga di satu kampung tersebut.
Wakil Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, Fikser Mora, membenarkan ada satu keluarga yang meninggal dunia. Dia menegaskan, hasil tes swab memang belum keluar.
"Pemkot sudah melakukan rapid tes di gang itu. Ada 69 orang, mereka dalam satu rumah rapid tesnya reaktif. Ada yang diisolasi di rumah dan di hotel. Akan ada skala prioritas swab agar kita bisa melakukan langkah medis apabila yang bersangkutan apa ada penyakit bawaan atau murni positif. Kita berharap hasil swabnya negative ya," ujar Fikser.
Takdir berkata lain, sehari dirawat korban G meninggal dunia. Selang beberapa hari, tepatnya 2 Juni 2020 sang istri, C, menyusul untuk pergi untuk selama-lamanya.
Pasca meninggalnya satu keluarga, saat ini Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya melakukan tracking dan mengkarantina lima orang keluarga yang kontak erat dengan korban. Rapid test pun dilakukan terhadap 69 warga di satu kampung tersebut.
Wakil Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, Fikser Mora, membenarkan ada satu keluarga yang meninggal dunia. Dia menegaskan, hasil tes swab memang belum keluar.
"Pemkot sudah melakukan rapid tes di gang itu. Ada 69 orang, mereka dalam satu rumah rapid tesnya reaktif. Ada yang diisolasi di rumah dan di hotel. Akan ada skala prioritas swab agar kita bisa melakukan langkah medis apabila yang bersangkutan apa ada penyakit bawaan atau murni positif. Kita berharap hasil swabnya negative ya," ujar Fikser.
Lihat Juga :