DGII-UIA Gelar Webinar Potensi Kerja di Jepang

Kamis, 21 Januari 2021 - 13:29 WIB
Pembicara selanjutnya adalah HR Department Advisor Hitowa Holding Co Ltd Shinji Kurata. Dia menjelaskan, kebutuhan tenaga kerja perawat di Jepang sangatlah besar. Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2006, berlokasi di Ark Hills South Tower , Minato-ku, Tokyo ini memiliki jasa pelayanan yaitu pelayanan keperawatan untuk orang tua, anak-anak, individu dan juga jasa pelayanan makanan.

"Kami menghadapi problem dan situasi dimana generasi baby boomer akan masuk ke dalam penduduk usia tidak produktif di tahun 2025. Populasi ini akan meningkat 17,8% dari total populasi di Jepang. Sedangkan angkatan kerja produktif di Jepang akan mengalami penurunan, sehingga kebutuhan akan tenaga kerja di sektor keperawatan akan terus meningkat," jelas Shinji.

Pembicara terakhir adalah GM Business Development Group The Nishiniphon Shimbun, Co.Ltd Yoichiro Higashi. Dia menjelaskan, The Nishinippon Newspaper adalah surat kabar yang telah berdiri sejak 1876.

"NNP ini adalah anggota dari Actis Group Foreign Employment Center (AGFEC) salah satu asosiasi ketenagakerjaan asing di Jepang yang terbesar di Kyushyu," kata dia.

Yoichiro mengatakan, AGFEC ini bertujuan untuk menawarkan lowongan pekerjaan yang tepat bagi pekerja asing di perusahaan-perusahaan yang berada di kota Kyushyu. The NNP juga bekerja sama dengan Liana Segrus C Ltd (Registered Support Organization).

"Dimana kami bukan hanya menawarkan lowongan pekerjaan di Jepang, tetapi kami juga menyupport para pekerja asing untuk hidup di Jepang," kata dia.

Komisaris DGII lainnya Prof Ace Suryadi MSc PhD, yang juga Dewan Pakar dan Ketua Pusat Kajian Kebijakan Pendidikan Nasional PGRI mengatakan, pada kesempatan lain mengatakan, dalam 10 tahun kedepan, Jepang membutuhkan sekitar 8-10 juta pekerja terdidik Indonesia untuk bekerja di berbagai jenis dan sektor industri.

Dengan program Goes To Japan, Indonesia memerlukan investasi Rp15 triliun untuk membentuk 1 juta lulusan SMK-Sarjana yang siap kerja di Jepang, tetapi potensi devisa negara bisa mencapai sekitar Rp750 triliun. "Sebuah investasi yang tidak mudah dicapai oleh BUMN yang besar sekalipun," kata dia.
(nth)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!