Kisah Dyah Balitung Ajak Warga Gabung ke Kerajaan Mataram Kuno dengan Pembebasan Pajak
Selasa, 02 September 2025 - 06:36 WIB
Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno", pembatasan daerah sima itu dilakukan oleh Dapunta MaƱjala, Sang Manghambin, Sang Diha, Sang Dhipa, dan Dapu Hyang Rupin. Adapun sebabnya kedua orang itu mendapat anugerah raja ialah karena mereka itu telah berhasil mengalahkan Bantan.
Masalahnya sekarang ialah di mana letak Bantan itu. L-C. Damais pernah mengemukakan, dugaan bahwa Bantan ialah Bali. Sebagai alasan dikemukakannya kenyataan bahwa beberapa nama tempat dan nama jabatan di dalam prasasti tersebut terdapat juga di dalam prasasti-prasasti Bali, seperti Batwan, Burwan, Air Gangga, Sang Bukit, Kulapati, dan Rike.
Baca juga: Mengenal Perbedaan Mataram Islam dengan Mataram Kuno, Sudah Tahu?
Akan tetapi, alasan itu kurang meyakinkan. Batwan sebagai nama tempat juga terdapat di dalam sebuah prasasti dari Jawa Timur, yaitu prasasti tembaga dari Gunung Gaprang dekat Tuban. Istilah kulapati juga banyak terdapat di dalam prasasti-prasasti dari Jawa Timur.
Kata Burwan yang oleh sejarawan dianggap sebagai nama tempat, sebenarnya merupakan bagian dari kata katuhaburwan yang berarti tempat para tuhaburu. Sedang bukti sebagai nama orang ada juga terdapat di dalam prasasti Waharu yang berasal dari Jawa Timur.
Masalahnya sekarang ialah di mana letak Bantan itu. L-C. Damais pernah mengemukakan, dugaan bahwa Bantan ialah Bali. Sebagai alasan dikemukakannya kenyataan bahwa beberapa nama tempat dan nama jabatan di dalam prasasti tersebut terdapat juga di dalam prasasti-prasasti Bali, seperti Batwan, Burwan, Air Gangga, Sang Bukit, Kulapati, dan Rike.
Baca juga: Mengenal Perbedaan Mataram Islam dengan Mataram Kuno, Sudah Tahu?
Akan tetapi, alasan itu kurang meyakinkan. Batwan sebagai nama tempat juga terdapat di dalam sebuah prasasti dari Jawa Timur, yaitu prasasti tembaga dari Gunung Gaprang dekat Tuban. Istilah kulapati juga banyak terdapat di dalam prasasti-prasasti dari Jawa Timur.
Kata Burwan yang oleh sejarawan dianggap sebagai nama tempat, sebenarnya merupakan bagian dari kata katuhaburwan yang berarti tempat para tuhaburu. Sedang bukti sebagai nama orang ada juga terdapat di dalam prasasti Waharu yang berasal dari Jawa Timur.
Lihat Juga :