Keyakinan Ramalan Jayabaya oleh Pangeran Diponegoro saat Gunung Merapi Meletus
Jum'at, 20 Desember 2024 - 07:23 WIB
Sebagaimana dikutip dari Peter Carey pada bukunya berjudul "Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" mengisahkan waktu itu Sang Pangeran masih sempat tinggal sepanjang malam bermain catur dengan kawan lamanya Raden Ayu Danukusumo sehari sebelum Gunung Merapi meletus. Tepat pada Minggu pagi buta 28 Desember 1822, serangkaian gempa terjadi, Gunung Merapi akhirnya mulai meletus.
Aliran lahar terlihat menuruni lereng gunung diiringi hujan abu dan pasir. Pemandangan kepulan asap yang naik ke angkasa yang masih gelap itu kian pekat. Saat itulah Pangeran Diponegoro keluar pekarangan rumah Tegalrejo bersama istrinya, Raden Ayu Maduretno dan melihat ke langit. Sambil menyaksikan gunung yang sedang terbakar dan bumi berguncang akibat gempa, Sang Pangeran melukiskan betapa dia tersenyumnya dalam hati, karena tahu peristiwa ini merupakan pertanda kemurkaan Allah.
Baca juga: Pembagian Benda dan Keris Pusaka Pangeran Diponegoro ke Keluarga saat Diasingkan
Letusan Gunung Merapi itu memang cukup dahsyat, bahkan laporan - laporan pemerintahan kolonial Belanda kala itu mengonfirmasi apa yang digambarkan Pangeran Diponegoro. Di lereng-lereng gunung, penduduk berhamburan meninggalkan rumah mereka dan tiga desa di Kedu hancur. Catatan sejarah kala itu memperlihatkan letusan Gunung Merapi merupakan yang terburuk setelah terakhir kali terjadi pada 1772.
Peristiwa letusan Gunung Merapi juga hampir dapat dipastikan meningkatkan pengharapan akan datangnya Ratu Adil, yang diramalkan Jayabaya. Di mana pada mitologi Jawa lokal, roh penjaga gunung bernama Kiai Sapu Jagad.
Aliran lahar terlihat menuruni lereng gunung diiringi hujan abu dan pasir. Pemandangan kepulan asap yang naik ke angkasa yang masih gelap itu kian pekat. Saat itulah Pangeran Diponegoro keluar pekarangan rumah Tegalrejo bersama istrinya, Raden Ayu Maduretno dan melihat ke langit. Sambil menyaksikan gunung yang sedang terbakar dan bumi berguncang akibat gempa, Sang Pangeran melukiskan betapa dia tersenyumnya dalam hati, karena tahu peristiwa ini merupakan pertanda kemurkaan Allah.
Baca juga: Pembagian Benda dan Keris Pusaka Pangeran Diponegoro ke Keluarga saat Diasingkan
Letusan Gunung Merapi itu memang cukup dahsyat, bahkan laporan - laporan pemerintahan kolonial Belanda kala itu mengonfirmasi apa yang digambarkan Pangeran Diponegoro. Di lereng-lereng gunung, penduduk berhamburan meninggalkan rumah mereka dan tiga desa di Kedu hancur. Catatan sejarah kala itu memperlihatkan letusan Gunung Merapi merupakan yang terburuk setelah terakhir kali terjadi pada 1772.
Peristiwa letusan Gunung Merapi juga hampir dapat dipastikan meningkatkan pengharapan akan datangnya Ratu Adil, yang diramalkan Jayabaya. Di mana pada mitologi Jawa lokal, roh penjaga gunung bernama Kiai Sapu Jagad.
Lihat Juga :