Kisah Kemenangan Pasukan Pangeran Diponegoro Hancurkan Tentara Belanda
Senin, 19 Agustus 2024 - 06:27 WIB
Di bawah komando Pangeran Diponegoro, serangan besar-besaran terhadap pasukan Belanda menjadi salah satu episode paling heroik dalam Perang Jawa. Foto/Ilustrasi/Ist
Di bawah komando Pangeran Diponegoro , serangan besar-besaran terhadap pasukan kolonial Belanda di wilayah Kulon Progo menjadi salah satu episode paling heroik dalam Perang Jawa. Serangan yang dilancarkan di daerah Dekso, Kulon Progo—sekarang bagian dari Yogyakarta—merupakan serangan kedua yang menunjukkan betapa gigihnya perlawanan yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro.
Dengan gagah berani, pasukan Diponegoro berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Belanda dan sekutu-sekutunya. Serangan ini bukan hanya mengacaukan pertahanan Belanda, tetapi juga menyebabkan banyak bangsawan Yogyakarta yang loyal kepada Belanda kehilangan nyawa.
Kemenangan demi kemenangan diraih oleh pasukan Diponegoro, terutama di bawah kepemimpinan Sentot Ali Basya. Di Kasuran dan Lengkong, pasukan Diponegoro menunjukkan ketangguhannya dengan mengalahkan banyak elite bangsawan yang mendukung Belanda, seperti yang terjadi di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Kemenangan-kemenangan ini tidak hanya mengangkat moral pasukan Diponegoro, tetapi juga membawa mereka maju dari Kali Progo hingga ke pinggiran barat Surakarta. Dalam laporan para perwira Belanda, mereka menggambarkan tentara Diponegoro seperti pasukan yang mengamuk, menyerang dengan kepala tertunduk sambil berteriak pekikan yang menggetarkan jiwa. Keberanian dan kegigihan pasukan Diponegoro membuat Belanda terpaksa menarik pasukannya dari garnisun-garnisun di luar Jawa dan mendatangkan bala bantuan dari Eropa.
Namun, di balik kemenangan ini, ada perdebatan panjang antara Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo mengenai taktik yang harus diambil. Perdebatan ini memberikan celah bagi Belanda untuk mengonsolidasikan kekuatan mereka. Pada 15 Oktober 1826, dalam pertempuran di Gawok, Belanda berhasil memukul mundur pasukan Diponegoro, kemenangan yang mereka raih dengan susah payah.
Dengan gagah berani, pasukan Diponegoro berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Belanda dan sekutu-sekutunya. Serangan ini bukan hanya mengacaukan pertahanan Belanda, tetapi juga menyebabkan banyak bangsawan Yogyakarta yang loyal kepada Belanda kehilangan nyawa.
Kemenangan demi kemenangan diraih oleh pasukan Diponegoro, terutama di bawah kepemimpinan Sentot Ali Basya. Di Kasuran dan Lengkong, pasukan Diponegoro menunjukkan ketangguhannya dengan mengalahkan banyak elite bangsawan yang mendukung Belanda, seperti yang terjadi di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Kemenangan-kemenangan ini tidak hanya mengangkat moral pasukan Diponegoro, tetapi juga membawa mereka maju dari Kali Progo hingga ke pinggiran barat Surakarta. Dalam laporan para perwira Belanda, mereka menggambarkan tentara Diponegoro seperti pasukan yang mengamuk, menyerang dengan kepala tertunduk sambil berteriak pekikan yang menggetarkan jiwa. Keberanian dan kegigihan pasukan Diponegoro membuat Belanda terpaksa menarik pasukannya dari garnisun-garnisun di luar Jawa dan mendatangkan bala bantuan dari Eropa.
Namun, di balik kemenangan ini, ada perdebatan panjang antara Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo mengenai taktik yang harus diambil. Perdebatan ini memberikan celah bagi Belanda untuk mengonsolidasikan kekuatan mereka. Pada 15 Oktober 1826, dalam pertempuran di Gawok, Belanda berhasil memukul mundur pasukan Diponegoro, kemenangan yang mereka raih dengan susah payah.
Lihat Juga :