Wabah Penyakit dalam Sejarah; Konspirasi Calon Arang hingga Konsep Karantina

Sabtu, 02 Mei 2020 - 05:00 WIB
Sejarah juga mencatat dalam kurun waktu 15 tahun, antara 1911-1926, Indonesia pernah terjangkit wabah mematikan, yaitu Pes. Wabah yang bersumber dari virus yang dibawa oleh kutu yang menempel pada hewan tikus ini menewaskan sekitar 120.000 jiwa.

Awal diketahui penyakit tersebut terjadi di Malang pada 27 Maret 1911. Wabah ini dibawa oleh tikus dari Rangoon, Myanmar (Burma) yang terbawa saat dilakukan impor beras ke Surabaya. Kemudian penyakit Pes pun merebak ke seantero Jawa dan Sumatera.

Pada Desember 1915, kasus penyakit pes ditemukan di Desa Nglano dekat pabrik gula Tasikmadu, Praja Mangkunegaran. Kemudian pada periode 1915-1929, penyakit pes ditemukan di distrik dalam kota jauh lebih banyak dibandingkan dengan Distrik Karanganyar. Jumlah kasus wabah penyakit pes di distrik dalam Kota Mangkunegaran teridentifikasi sebanyak 1.043 kasus

Sebenarnya, penyakit Pes sudah ditemukan pertama kali di Deli, Pantai Timur Sumatera pada 1905 dan menyebabkan dua korban meninggal. Tapi pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat itu hanya menganggap angin lalu. Padahal dokter dari Utrecht University sudah mengingatkan akan ancaman penyakit pes karena pada saat bersamaan di China dan Myanmar (Burma), sudah merebak wabah tersebut.

Setelah penyakit itu merebak, pemerintah kolonial Belanda melalui Dienst der Pestbestijding (Dinas Pemberantasan Pes) mengeluarkan larangan menjenguk orang sakit. Desa yang terjangkit Pes dikarantina dengan diberi dinding pembatas antardesa.

Barak isolasi juga dibangun tak jauh dari desa tersebut. Secara rutin, dokter dan mantri mengontrol tiap barak dan memantau kondisi desa terjangkit Pes. Malang sebagai kota awal munculnya Pes dikarantina selama setahun. Seluruh penduduk di sepanjang Lawang hingga Pohgajih dikarantina selama 5-10 hari, meski pada praktiknya ada yang dikarantina hingga 30 hari.



Pemerintah Hindia Belanda pun langsung membuat Rumah Sakit Karantina di Pulau Onrust & Pulau Kuyper (Pulau Cipir) di Kepulauan Seribu, Batavia. Pembangunan rumah sakit ini selesai dikerjakan pada akhir 1911 dan menghabiskan biaya sebesar 607.000 gulden.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!