Perang Dingin Kubu Risma dan Whisnu Berlanjut di Pilwali Surabaya 2020
Senin, 24 Agustus 2020 - 19:38 WIB
Ia memperkirakan, sebenarnya kans Eri maupun Whisnu adalah sama-sama berpeluang menjadi calon wali kota. Tapi karena waktu pilwali yang terus berjalan dan sangat mepet waktu pendaftaran, PDIP tidak bisa mencri irisan lainnya.
"Waktu yang semakin mepet, apalagi kansnya hampir sama Whisnu dan Eri Cahyadi untuk menjadi calon wali kota. Tidak bisa mencari irisan lain ketika dua itu bersatu," katanya.
Pertarungan di Pilwali Surabaya 2020 ini juga berat, karena Whisnu maupun Eri Cahyadi basisnya sama yakni dari kalangan abangan atau PDIP. “Berat juga, basisnya sama tidak memperluas basis kalau kedua kubu bersatu,” ujarnya.
Apabila pasangan Whisnu-Eri ini mengalami kemenangan atau kekalahan di Pilwali Surabaya 2020, maka Eri tidak akan bisa membawa pesan ‘ibunya’ wali kota Risma. (Baca: Lima Warga Binaan di Lapas Mojokerto Positif COVID-19).
Juga tidak menutup kemungkinan hubungan antara wali kota dan wakilnya, tidak menguntungkan warga Kota Surabaya.
"Karena mereka kawin paksa. Dan komunikasi antara wali kota dan wakilnya akan terputus, tidak ada pembagian tugas yang jelas untuk kepentingan masyarakat Surabaya," katanya.
"Eri kan wakilnya dan tidak bisa mengambil policy kebijakan. Semua kebijakan dari Whisnu. Sebenarnya mereka berpasangan ini karena kompromi bukan sehati," terang Mubarok.
"Waktu yang semakin mepet, apalagi kansnya hampir sama Whisnu dan Eri Cahyadi untuk menjadi calon wali kota. Tidak bisa mencari irisan lain ketika dua itu bersatu," katanya.
Pertarungan di Pilwali Surabaya 2020 ini juga berat, karena Whisnu maupun Eri Cahyadi basisnya sama yakni dari kalangan abangan atau PDIP. “Berat juga, basisnya sama tidak memperluas basis kalau kedua kubu bersatu,” ujarnya.
Apabila pasangan Whisnu-Eri ini mengalami kemenangan atau kekalahan di Pilwali Surabaya 2020, maka Eri tidak akan bisa membawa pesan ‘ibunya’ wali kota Risma. (Baca: Lima Warga Binaan di Lapas Mojokerto Positif COVID-19).
Juga tidak menutup kemungkinan hubungan antara wali kota dan wakilnya, tidak menguntungkan warga Kota Surabaya.
"Karena mereka kawin paksa. Dan komunikasi antara wali kota dan wakilnya akan terputus, tidak ada pembagian tugas yang jelas untuk kepentingan masyarakat Surabaya," katanya.
"Eri kan wakilnya dan tidak bisa mengambil policy kebijakan. Semua kebijakan dari Whisnu. Sebenarnya mereka berpasangan ini karena kompromi bukan sehati," terang Mubarok.
(nag)
Lihat Juga :