Harga Beras Belum Terkendali
Jum'at, 06 Maret 2015 - 10:01 WIB
Harga Beras Belum Terkendali
A
A
A
SURABAYA - Program operasi pasar (OP) belum mampu mengendalikan harga beras di pasaran. Berdasarkan inspeksi Gubernur Jatim Soekarwo dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ke Pasar Soponyono, kemarin, diketahui harga beras premium masih bertahan di kisaran Rp11.100–11.200 per kg.
Bahkan di beberapa toko kelontong masih berada di kisaran Rp11.500 per kg. Meski begitu, Soekarwo mengklaim bahwa sudah ada penurunan harga dari sebelumnya, kendati tidak terlalu banyak. Menurut dia, sebelum operasi pasar dijalankan harga beras premium mencapai 11.450-11.500 per kg. Sehingga ada penurunan sekitar Rp250.
Karena itu, Soekarwo mengaku akan terus menggelar operasi pasar di beberapa tempat, hingga harga kembali normal. Yakni Rp9500 per kg. Pihaknya optimistis dalam waktu yang tidak terlalu lama harga akan kembali normal. Apalagi di beberapa wilayah sudah panen. Beberapa di antaranya adalah di Jombang dan Pasuruan.
Tak hanya itu, pada akhir Maret mendatang Jatim juga akan memasuki panen raya. Mencapai 500.000 hektare (ha). Saat itulah lanjut Soekarwo harga akan lebih stabil, karena pasokan beras melimpah. ”Kalau sudah masuk panen raya dan harga stabil, maka operasi pasar berhenti agar petani tidak sampai rugi,” ujar Soekarwo di sela-sela inspeksi.
Sementara, beras yang dijual pada operasi pasar saat ini kata Soekarwo adalah beras kualitas medium. Hal ini berbeda dengan operasi pasar yang dilakukan tahun sebelumnya. Ini dilakukan atas keinginan masyarakat. Mayoritas mereka menghendaki jenis beras medium yakni jenis beras nonsuper, dengan kandungan beras patah sekitar 15%.
Meski begitu, Soekarwo yakin masyarakat tetap menerimanya. ”Dengan menir yang hanya 15%, itu sudah jauh lebih bagus. Apalagi harganya juga murah. Mudah-mudahan ini bisa meringankan masyarakat,” ungkapnya.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, operasipasar yang digelar pemerintah kota tidak hanya di pasar tradisional, namun di sejumlah titik seperti balai RT dan RW. ”Operasi pasar tidak hanya beras, melainkan ditambah kebutuhan pokok lainnya,” kata wali kota wanita pertama di Surabaya tersebut.
Pihaknya berharap, harga beras kembali normal di pasaran sehingga tidak memberatkan warga. Selain memantau harga beras, Soekarwo dan Risma juga memantau sejumlah harga kebutuhan lain, seperti gula, minyak goreng, cabai, tomat, dan lainnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Divre Jatim Witono mengatakan, beras medium yang dijual dalam operasi pasar per kilogramnya dihargai Rp7.300 dan digelar di sejumlah pasar tradisional di Jawa Timur. ”Per hari, beras untuk operasi pasar disediakan 200 ton untuk seluruh wilayah di Jatim. Sedangkan khusus Surabaya sekitar 70-80 ton per harinya,” ucapnya.
Selama sekitar dua pekan operasi pasar, Bulog sudah mengeluarkan 492.000 ton beras untuk semua kabupaten/kota di Jatim, kecuali daerah yang menolak karena musim panen, seperti Jombang dan Pasuruan. Sejumlah warga menyambut baik operasi pasar yang dilakukan Pemprov Jatim tersebut. Apalagi harga untuk setiap kilonya hanya Rp7.300 per kg. Namun, mereka sedikit mengeluh karena kondisi beras kurang bagus.
Bagi mereka, beras yang dijual pada operasi pasar hampir mirip dengan beras untuk masyarakat miskin atau raskin. ”Ini warnanya agak kuning, mirip raskin. Akan tetapi ya mau bagaimana lagi, wong harga beras di pasar masih Rp11.200 per kg,” ucap Wahyu.
Ihyaihya ulumuddin
Bahkan di beberapa toko kelontong masih berada di kisaran Rp11.500 per kg. Meski begitu, Soekarwo mengklaim bahwa sudah ada penurunan harga dari sebelumnya, kendati tidak terlalu banyak. Menurut dia, sebelum operasi pasar dijalankan harga beras premium mencapai 11.450-11.500 per kg. Sehingga ada penurunan sekitar Rp250.
Karena itu, Soekarwo mengaku akan terus menggelar operasi pasar di beberapa tempat, hingga harga kembali normal. Yakni Rp9500 per kg. Pihaknya optimistis dalam waktu yang tidak terlalu lama harga akan kembali normal. Apalagi di beberapa wilayah sudah panen. Beberapa di antaranya adalah di Jombang dan Pasuruan.
Tak hanya itu, pada akhir Maret mendatang Jatim juga akan memasuki panen raya. Mencapai 500.000 hektare (ha). Saat itulah lanjut Soekarwo harga akan lebih stabil, karena pasokan beras melimpah. ”Kalau sudah masuk panen raya dan harga stabil, maka operasi pasar berhenti agar petani tidak sampai rugi,” ujar Soekarwo di sela-sela inspeksi.
Sementara, beras yang dijual pada operasi pasar saat ini kata Soekarwo adalah beras kualitas medium. Hal ini berbeda dengan operasi pasar yang dilakukan tahun sebelumnya. Ini dilakukan atas keinginan masyarakat. Mayoritas mereka menghendaki jenis beras medium yakni jenis beras nonsuper, dengan kandungan beras patah sekitar 15%.
Meski begitu, Soekarwo yakin masyarakat tetap menerimanya. ”Dengan menir yang hanya 15%, itu sudah jauh lebih bagus. Apalagi harganya juga murah. Mudah-mudahan ini bisa meringankan masyarakat,” ungkapnya.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, operasipasar yang digelar pemerintah kota tidak hanya di pasar tradisional, namun di sejumlah titik seperti balai RT dan RW. ”Operasi pasar tidak hanya beras, melainkan ditambah kebutuhan pokok lainnya,” kata wali kota wanita pertama di Surabaya tersebut.
Pihaknya berharap, harga beras kembali normal di pasaran sehingga tidak memberatkan warga. Selain memantau harga beras, Soekarwo dan Risma juga memantau sejumlah harga kebutuhan lain, seperti gula, minyak goreng, cabai, tomat, dan lainnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Divre Jatim Witono mengatakan, beras medium yang dijual dalam operasi pasar per kilogramnya dihargai Rp7.300 dan digelar di sejumlah pasar tradisional di Jawa Timur. ”Per hari, beras untuk operasi pasar disediakan 200 ton untuk seluruh wilayah di Jatim. Sedangkan khusus Surabaya sekitar 70-80 ton per harinya,” ucapnya.
Selama sekitar dua pekan operasi pasar, Bulog sudah mengeluarkan 492.000 ton beras untuk semua kabupaten/kota di Jatim, kecuali daerah yang menolak karena musim panen, seperti Jombang dan Pasuruan. Sejumlah warga menyambut baik operasi pasar yang dilakukan Pemprov Jatim tersebut. Apalagi harga untuk setiap kilonya hanya Rp7.300 per kg. Namun, mereka sedikit mengeluh karena kondisi beras kurang bagus.
Bagi mereka, beras yang dijual pada operasi pasar hampir mirip dengan beras untuk masyarakat miskin atau raskin. ”Ini warnanya agak kuning, mirip raskin. Akan tetapi ya mau bagaimana lagi, wong harga beras di pasar masih Rp11.200 per kg,” ucap Wahyu.
Ihyaihya ulumuddin
(ftr)