Yakin Tak Akan Pernah Ditinggalkan Pendengarnya
Senin, 10 November 2014 - 15:27 WIB
Yakin Tak Akan Pernah Ditinggalkan Pendengarnya
A
A
A
Dunia teknologi informasi terus berkembang cepat. Tidak terkecuali dengan perkembangan dunia broadcasting bidang radio yang juga mengikuti arus modernisasi.
Kini di era digital, pendengar radio tidak sebatas bisa mendengarkan alunan musik dan berbagai informasi saja dari channel radio kesayangannya. Saat ini beberapa stasiun pemancar radio di tanah air telah melengkapi instrumen penyiarannya dengan teknologi nirkabel. Hasilnya, cuap-cuap penyiarnya dari dapur studio bisa diikuti dari ponsel, iPad, laptop, dan komputer meja yang dihubungkan dengan jaringan internet.
Begitulah sisi positif dari perkembangan broadcasting saat ini. Kemajuan teknologi digital semakin memanjakan pendengar radio yang tersebar mulai wilayah perkotaan sampai pelosok desa. “Kami yakin radio tidak akan ditinggalkan pendengarnya. Karena pelaku usaha di bidang radio selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi masa kini,” kata Presiden Forum Diskusi Radio (FDR) Harley Prayudha.
Alumnus S-3 Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini menerangkan, di Indonesia diperkirakan terdapat 4.000 studio penyiaran radio. Yang sudah mengubah siarannya dalam bentuk digital radio sudah mencapai 50%. Kegiatan FDR Summit 7 tahun ini juga diikuti SINDO Trijaya FM Surabaya . Secara perlahan, kata mantan penyiar radio Hardrock FM Bandung ini, semakin banyak studio penyiaran radio yang menggunakan penyiaran digital. Kata dia, awalnya siaran radio hanya bisa dinikmati secara konvensional sebatas didengarkan telinga saja.
“Tapi saat ini pendengar bisa melihat penyiarnya siaran. Bisa langsung chatting dengan penyiarnya hanya lewat ponsel yang kita pegang setiap harinya,” ungkap Herly saat diskusi bersama anggota Forum FDR di Pondok Jatim Park, kemarin. Kata dia, walaupun sudah merambah era digital, siaran radio tetap dibagi empat bidang. Yaitu bidang hiburan, informasi berita, iklan/bisnis, dan talk /percakapan.
Kemudian maju dan tidaknya studio radio tergantung manajemen dan sumber daya manusianya (SDM). Lebih lanjut diterangkan, semakin banyak program siarannya dan semakin kreatif penyiarnya. Maka bisa berdampak positif terhadap perkembangan radionya. Pengiklan semakin bertambah dan banyak lagi dampak positifnya.
“Hari ini kami berkumpul bersama 157 orang penyiar radio dari 32 kota di Indonesia. Kami saling berbagi ilmu tentang dunia penyiaran radio. Tujuannya hanya satu supaya pendengar radio terpuaskan dengan berbagai program acara yang kami sajikan dari balik dapur studio radio masing-masing,” ungkap Harley. Hal lain yang dibahas dalam pelaksanaan FDR di Kota Batu yakni, soal penerapan pajak terhadap media elektronik.
Katanya, penerapan aturan pajak untuk media elektronik belum memenuhi unsur keadilan. Selama ini penerapan pajak media elektronik disamakan antara media televisi dan radio. Padahal, seharusnya ada perbedaan atas komersialisasi yang dilakukan dua jenis media elektronik ini. Dampaknya para praktisi radio di tanah air sangat terbebani dengan tingginya pajak yang ditanggung.
“Beberapa kalangan menilai bisnis radio kurang menjanjikan. Sehingga tugas anggota FDR untuk meyakinkan praktisi radio bahwa bisnis radio masih menguntungkan,” ucapnya. Dimas, penyiar Radio Tidar Sakti , Kota Batu merasa yakin, keberadaan siaran radio masih dibutuhkan masyarakat. Apalagi programnya bernuansa hiburan musik dan hiburan kesenian tradisional seperti lawak Cak Kartolo cs.
“Untuk siaran radio digital kami sudah merencanakannya untuk mengarah ke situ. Lalu untuk program siarannya, saat ini pendengar Radio Tidar Sakti suka yang interaktif. Baik dalam program hiburan musik atau yang lainnya,” ucap Dimas.
Maman Adi Saputro
Batu
Kini di era digital, pendengar radio tidak sebatas bisa mendengarkan alunan musik dan berbagai informasi saja dari channel radio kesayangannya. Saat ini beberapa stasiun pemancar radio di tanah air telah melengkapi instrumen penyiarannya dengan teknologi nirkabel. Hasilnya, cuap-cuap penyiarnya dari dapur studio bisa diikuti dari ponsel, iPad, laptop, dan komputer meja yang dihubungkan dengan jaringan internet.
Begitulah sisi positif dari perkembangan broadcasting saat ini. Kemajuan teknologi digital semakin memanjakan pendengar radio yang tersebar mulai wilayah perkotaan sampai pelosok desa. “Kami yakin radio tidak akan ditinggalkan pendengarnya. Karena pelaku usaha di bidang radio selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi masa kini,” kata Presiden Forum Diskusi Radio (FDR) Harley Prayudha.
Alumnus S-3 Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini menerangkan, di Indonesia diperkirakan terdapat 4.000 studio penyiaran radio. Yang sudah mengubah siarannya dalam bentuk digital radio sudah mencapai 50%. Kegiatan FDR Summit 7 tahun ini juga diikuti SINDO Trijaya FM Surabaya . Secara perlahan, kata mantan penyiar radio Hardrock FM Bandung ini, semakin banyak studio penyiaran radio yang menggunakan penyiaran digital. Kata dia, awalnya siaran radio hanya bisa dinikmati secara konvensional sebatas didengarkan telinga saja.
“Tapi saat ini pendengar bisa melihat penyiarnya siaran. Bisa langsung chatting dengan penyiarnya hanya lewat ponsel yang kita pegang setiap harinya,” ungkap Herly saat diskusi bersama anggota Forum FDR di Pondok Jatim Park, kemarin. Kata dia, walaupun sudah merambah era digital, siaran radio tetap dibagi empat bidang. Yaitu bidang hiburan, informasi berita, iklan/bisnis, dan talk /percakapan.
Kemudian maju dan tidaknya studio radio tergantung manajemen dan sumber daya manusianya (SDM). Lebih lanjut diterangkan, semakin banyak program siarannya dan semakin kreatif penyiarnya. Maka bisa berdampak positif terhadap perkembangan radionya. Pengiklan semakin bertambah dan banyak lagi dampak positifnya.
“Hari ini kami berkumpul bersama 157 orang penyiar radio dari 32 kota di Indonesia. Kami saling berbagi ilmu tentang dunia penyiaran radio. Tujuannya hanya satu supaya pendengar radio terpuaskan dengan berbagai program acara yang kami sajikan dari balik dapur studio radio masing-masing,” ungkap Harley. Hal lain yang dibahas dalam pelaksanaan FDR di Kota Batu yakni, soal penerapan pajak terhadap media elektronik.
Katanya, penerapan aturan pajak untuk media elektronik belum memenuhi unsur keadilan. Selama ini penerapan pajak media elektronik disamakan antara media televisi dan radio. Padahal, seharusnya ada perbedaan atas komersialisasi yang dilakukan dua jenis media elektronik ini. Dampaknya para praktisi radio di tanah air sangat terbebani dengan tingginya pajak yang ditanggung.
“Beberapa kalangan menilai bisnis radio kurang menjanjikan. Sehingga tugas anggota FDR untuk meyakinkan praktisi radio bahwa bisnis radio masih menguntungkan,” ucapnya. Dimas, penyiar Radio Tidar Sakti , Kota Batu merasa yakin, keberadaan siaran radio masih dibutuhkan masyarakat. Apalagi programnya bernuansa hiburan musik dan hiburan kesenian tradisional seperti lawak Cak Kartolo cs.
“Untuk siaran radio digital kami sudah merencanakannya untuk mengarah ke situ. Lalu untuk program siarannya, saat ini pendengar Radio Tidar Sakti suka yang interaktif. Baik dalam program hiburan musik atau yang lainnya,” ucap Dimas.
Maman Adi Saputro
Batu
(ars)