Gempa Malang sebabkan Gunung Merapi kontraksi
Senin, 10 Maret 2014 - 12:28 WIB
Gempa Malang sebabkan Gunung Merapi kontraksi
A
A
A
Sindonews.com - Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jawa Tengah kembali menakutkan warga. Pagi tadi, tercatat gunung teraktif di Indonesia itu mengeluarkan asap sulfatara setinggi kurang lebih 1,5 kilo dari puncaknya.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi DIY, Subandrio menyatakan, kemunculan asap itu muncul karena terpengaruh adanya gempa tektonik berkekuatan 5,4 Skala Richter (SR) di Malang, Jawa Timur.
"Pasca erupsi Merapi 2010 lalu, perut Merapi banyak gas Co2. Saat ada goncangan dipicu kegempaan magma-magma gas Co2 ini naik ke atas sehingga menimbulkan asap Sulfatara," kata Subandrio saat dihubungi, Senin (10/3/2014).
Dikatakannya, kemunculan asap ini sering terjadi pasca erupsi Tahun 2010 lalu. Terlebih, saat ada goncangan atau kegempaan tektonik, Merapi akan berkontraksi meski tidak selalu menimbulkan reaksi langsung.
Subandrio menyampaikan, keluarnya asap sulfatara pagi tadi dibarengi dengan keluarnya debu vulkanik tipis yang menuju arah timur sekira 5-6 kilometer dari puncak.
"Hujan abu tipis ke sektor timur seperti Sidorejo, Balerante, dan Kepoharjo," katanya.
Meski demikian, Subandrio meminta agar masyarakat yang tinggal di kawasan Merapi tidak perlu khawatir karena fenomena alam itu sering terjadi. Dia menegaskan tidak ada peningkatan status Gunung Merapi.
"Statusnya normal, aktif normal, tidak ada peningkatan status Merapi," paparnya.
Baca:
Asap hitam membumbung dari Merapi, warga Klaten panik
Warga di sekitar Gunung Merapi diminta tenang!
Gunung Merapi kembali bergemuruh
Hujan abu di Gunung Merapi, warga berhamburan
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi DIY, Subandrio menyatakan, kemunculan asap itu muncul karena terpengaruh adanya gempa tektonik berkekuatan 5,4 Skala Richter (SR) di Malang, Jawa Timur.
"Pasca erupsi Merapi 2010 lalu, perut Merapi banyak gas Co2. Saat ada goncangan dipicu kegempaan magma-magma gas Co2 ini naik ke atas sehingga menimbulkan asap Sulfatara," kata Subandrio saat dihubungi, Senin (10/3/2014).
Dikatakannya, kemunculan asap ini sering terjadi pasca erupsi Tahun 2010 lalu. Terlebih, saat ada goncangan atau kegempaan tektonik, Merapi akan berkontraksi meski tidak selalu menimbulkan reaksi langsung.
Subandrio menyampaikan, keluarnya asap sulfatara pagi tadi dibarengi dengan keluarnya debu vulkanik tipis yang menuju arah timur sekira 5-6 kilometer dari puncak.
"Hujan abu tipis ke sektor timur seperti Sidorejo, Balerante, dan Kepoharjo," katanya.
Meski demikian, Subandrio meminta agar masyarakat yang tinggal di kawasan Merapi tidak perlu khawatir karena fenomena alam itu sering terjadi. Dia menegaskan tidak ada peningkatan status Gunung Merapi.
"Statusnya normal, aktif normal, tidak ada peningkatan status Merapi," paparnya.
Baca:
Asap hitam membumbung dari Merapi, warga Klaten panik
Warga di sekitar Gunung Merapi diminta tenang!
Gunung Merapi kembali bergemuruh
Hujan abu di Gunung Merapi, warga berhamburan
(rsa)