Banjir lahar seret truk pengangkut pasir & backhoe
Rabu, 05 Maret 2014 - 22:33 WIB
Banjir lahar seret truk pengangkut pasir & backhoe
A
A
A
Sindonews.com - Empat sungai berhulu di Gunung Merapi meluap, setelah diterjang banjir lahar. Hujan beberapa hari yang mengguyur Magelang dan sekitarnya meluruhkan sisa material yang masih berada di kawah Gunung Merapi.
Sebuah alat berat (backhoe), truk dan mobil roda empat ikut diterjang banjir lahar itu. Untung tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, banjir lahar dingin menggenangi sungai dengan ketinggian dua meter dan lebar 25 meter. Sabo dam oprit terendam sehingga akses penghubung Desa Gondowangi dan Desa Gondosuli Kecamatan
Muntilan terputus.
Ady Hermawan, salah seorang relawan mengatakan, banjir lahar datang tiba-tiba, upaya menyelamatkan alat berat tidak bisa dilakukan backhoe. Saat itu alat berat sedang beroprasi di Sungai Kali Apu.
Backhoe itu terseret sejauh tiga kilometer sampai Sabo Dam di Ngalpahan, Kabupaten, Boyolali. Sedangkan dua truk pengangkut pasir yang terjebak banjir lahar dingin, baru ditemukan satu.
"Backhoe kondisinya rusak parah. Sementara satu truk yang ditemukan tertimbun material pasir. Kalau mobil pribadi diketahui jenis Veroza," tutur Ady.
Kabag Humas SAR Kabupaten Magelang Ahmad Muslim mengatakan, telah menerjunkan 20 personel untuk memantau luapan banjir lahar dingin itu.
Tim dibagi menjadi beberapa kelompok untuk ditempatkan di sejumlah titik rawan. Di antaranya di Sungai Pabelan yang merupakan muara Sungai Apu, Tringsing dan Senowo.
"Sementara yang disiagakan di Sungai Putih dan Sungai Bebeng ini untuk mengantisipasi luapan banjir ke perkampungan penduduk di bantaran sungai itu," lanjutnya.
Sejauh ini, belum mendapat laporan terkait adanya korban jiwa atas peristiwa tersebut. Hingga pukul 18.00 WIB, kondisi aliran sungai di empat sungai itu sudah terpantau normal."Untuk itu, beberapa personel sudah ditarik ke posko induk," ungkap dia.
Kepala Pelaksana Badan Pananggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Sujadi mengatakan, banjir tersebut merupakan akumulasi lahar hujan dari alur Kali Apu, Senowo, dan Tringsing yang kemudian menjadi satu dalam alur Kali Pabelan. Curah hujan yang terpantau sekitar pukul 15.00 WIB sempat mengalami kenaikan hingga 107 mm/jam.
"Hal itu membuat arus banjir dari Kali Apu membesar. Di Dam Klampahan, dilaporkan banjir mencapai ketinggian 4 meter. Namun demikian, sampai jembatan Pabelan Kecamatan Mungkid hanya 1,5-2 meter," ucapnya.
Banjir lahar dingin yang menerjang alur Kali Pabelan kali ini merupakan terbesar sejak banjir lahar hujan 25 Desember 2012 silam.
"Saya sempat kaget juga karena sudah sekian lama tidak terjadi banjir tiba-tiba banjir dengan intensitas besar melanda alur Kali Pabelan," tandasnya.
Sebuah alat berat (backhoe), truk dan mobil roda empat ikut diterjang banjir lahar itu. Untung tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, banjir lahar dingin menggenangi sungai dengan ketinggian dua meter dan lebar 25 meter. Sabo dam oprit terendam sehingga akses penghubung Desa Gondowangi dan Desa Gondosuli Kecamatan
Muntilan terputus.
Ady Hermawan, salah seorang relawan mengatakan, banjir lahar datang tiba-tiba, upaya menyelamatkan alat berat tidak bisa dilakukan backhoe. Saat itu alat berat sedang beroprasi di Sungai Kali Apu.
Backhoe itu terseret sejauh tiga kilometer sampai Sabo Dam di Ngalpahan, Kabupaten, Boyolali. Sedangkan dua truk pengangkut pasir yang terjebak banjir lahar dingin, baru ditemukan satu.
"Backhoe kondisinya rusak parah. Sementara satu truk yang ditemukan tertimbun material pasir. Kalau mobil pribadi diketahui jenis Veroza," tutur Ady.
Kabag Humas SAR Kabupaten Magelang Ahmad Muslim mengatakan, telah menerjunkan 20 personel untuk memantau luapan banjir lahar dingin itu.
Tim dibagi menjadi beberapa kelompok untuk ditempatkan di sejumlah titik rawan. Di antaranya di Sungai Pabelan yang merupakan muara Sungai Apu, Tringsing dan Senowo.
"Sementara yang disiagakan di Sungai Putih dan Sungai Bebeng ini untuk mengantisipasi luapan banjir ke perkampungan penduduk di bantaran sungai itu," lanjutnya.
Sejauh ini, belum mendapat laporan terkait adanya korban jiwa atas peristiwa tersebut. Hingga pukul 18.00 WIB, kondisi aliran sungai di empat sungai itu sudah terpantau normal."Untuk itu, beberapa personel sudah ditarik ke posko induk," ungkap dia.
Kepala Pelaksana Badan Pananggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Sujadi mengatakan, banjir tersebut merupakan akumulasi lahar hujan dari alur Kali Apu, Senowo, dan Tringsing yang kemudian menjadi satu dalam alur Kali Pabelan. Curah hujan yang terpantau sekitar pukul 15.00 WIB sempat mengalami kenaikan hingga 107 mm/jam.
"Hal itu membuat arus banjir dari Kali Apu membesar. Di Dam Klampahan, dilaporkan banjir mencapai ketinggian 4 meter. Namun demikian, sampai jembatan Pabelan Kecamatan Mungkid hanya 1,5-2 meter," ucapnya.
Banjir lahar dingin yang menerjang alur Kali Pabelan kali ini merupakan terbesar sejak banjir lahar hujan 25 Desember 2012 silam.
"Saya sempat kaget juga karena sudah sekian lama tidak terjadi banjir tiba-tiba banjir dengan intensitas besar melanda alur Kali Pabelan," tandasnya.
(lns)