Tantang bahaya, penambang pasir marak di 7 sungai lahar
Selasa, 25 Februari 2014 - 04:17 WIB
Tantang bahaya, penambang pasir marak di 7 sungai lahar
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kabupaten Blitar mengeluarkan larangan keras terhadap aktivitas penambangan pasir dan batu yang masih terus berjalan di tujuh sungai yang berhulu di Gunung Kelud.
Peringatan tersebut sebagai antisipasi ancaman lahar dingin sewaktu-waktu bisa menerjang. "Sebab hingga kini, aktivitas penambangan pasir itu masih berjalan seperti biasa," ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Linmas (Satpol PP dan Linmas) Pemerintah Kabupaten Blitar Toha Mashuri kepada wartawan, Senin 24 Februari 2014.
Tujuh sungai yang menjadi jalur lahar dingin Gunung Kelud itu adalah Kali Bladak. Sungai yang menyimpan banyak material vulkanik tersebut mengalir di wilayah Kecamatan Nglegok hingga Kecamatan Ponggok.
Selain cara manual, kata Toha tidak sedikit warga yang nekat mendatangkan peralatan bego dan truk untuk membawa material pasir ke luar. "Tentunya apa yang dilakukan warga ini sangat berbahaya," terangnya.
Banyaknya penambang nekat juga dijumpai di Sungai Tremas Lama, yang melintas wilayah Kecamatan Wonodadi hingga Udanawu.
Kemudian juga Sungai Tremas Baru di wilayah Kecamatan Udanawu, Kali Putih, di Kecamatan Garum dan sebagian Gandusari, Kali Lekso di Kecamatan Gandusari, Wlingi dan Selopuro, serta Kali Semut, di Kecamatan Wlingi dan Gandusari.
"Selain meminta para penambang untuk tidak mendekati sungai, kita juga memasang papan tanda larangan di lokasi," jelas Toha.
Sementara berdasarkan pantauan SINDO di lapangan, larangan pemerintah tidak membawa efek jera bagi para penambang. Misalnya di Kali Bladak. Hampir semua penambang tahu bahwa lahar dingin Kelud masih mengancam.
Hal itu mengingat jutaan material masih tersisa pasca erupsi pada Kamis 13 Februari 2014 malam lalu.
Karenanya selain mensiasati beraktivitas pagi hari, mereka juga buru-buru menghentikan kegiatannya ketika langit memberi tanda akan turun hujan.
"Kita tidak bisa menghentikan kegiatan ini begitu saja. Karena ini sudah menjadi mata pencarian. Dan kita tahu lahar dingin datang ketika hujan turun dengan deras," ujar Bambang, salah seorang penambang pasir Kali Bladak.
Baca:
Kelud meletus, sepeserpun Pemkab Kediri tak keluar uang
Peringatan tersebut sebagai antisipasi ancaman lahar dingin sewaktu-waktu bisa menerjang. "Sebab hingga kini, aktivitas penambangan pasir itu masih berjalan seperti biasa," ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Linmas (Satpol PP dan Linmas) Pemerintah Kabupaten Blitar Toha Mashuri kepada wartawan, Senin 24 Februari 2014.
Tujuh sungai yang menjadi jalur lahar dingin Gunung Kelud itu adalah Kali Bladak. Sungai yang menyimpan banyak material vulkanik tersebut mengalir di wilayah Kecamatan Nglegok hingga Kecamatan Ponggok.
Selain cara manual, kata Toha tidak sedikit warga yang nekat mendatangkan peralatan bego dan truk untuk membawa material pasir ke luar. "Tentunya apa yang dilakukan warga ini sangat berbahaya," terangnya.
Banyaknya penambang nekat juga dijumpai di Sungai Tremas Lama, yang melintas wilayah Kecamatan Wonodadi hingga Udanawu.
Kemudian juga Sungai Tremas Baru di wilayah Kecamatan Udanawu, Kali Putih, di Kecamatan Garum dan sebagian Gandusari, Kali Lekso di Kecamatan Gandusari, Wlingi dan Selopuro, serta Kali Semut, di Kecamatan Wlingi dan Gandusari.
"Selain meminta para penambang untuk tidak mendekati sungai, kita juga memasang papan tanda larangan di lokasi," jelas Toha.
Sementara berdasarkan pantauan SINDO di lapangan, larangan pemerintah tidak membawa efek jera bagi para penambang. Misalnya di Kali Bladak. Hampir semua penambang tahu bahwa lahar dingin Kelud masih mengancam.
Hal itu mengingat jutaan material masih tersisa pasca erupsi pada Kamis 13 Februari 2014 malam lalu.
Karenanya selain mensiasati beraktivitas pagi hari, mereka juga buru-buru menghentikan kegiatannya ketika langit memberi tanda akan turun hujan.
"Kita tidak bisa menghentikan kegiatan ini begitu saja. Karena ini sudah menjadi mata pencarian. Dan kita tahu lahar dingin datang ketika hujan turun dengan deras," ujar Bambang, salah seorang penambang pasir Kali Bladak.
Baca:
Kelud meletus, sepeserpun Pemkab Kediri tak keluar uang
(rsa)