Berkedok normalisasi sungai, Pemkab Sleman jual beli pasir

Minggu, 10 Februari 2013 - 03:01 WIB
Berkedok normalisasi...
Berkedok normalisasi sungai, Pemkab Sleman jual beli pasir
A A A
Sindonews.com - Pemberian izin untuk normalisasi akibat erupsi Merapi 2010 di Daerah Aliran Sungai (DAS) wilayah Sleman disinyalir hanya sebagai kedok. Fakta yang terlihat di lapangan, tidak ada prosedur yang jelas dalam melakukan normalisasi untuk mitigasi bencana itu.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Suparlan menuding, normalisasi sungai yang selama ini dilakukan hanya untuk jual beli pasir saja. Dalam hal ini, konteks jual beli adalah legalitas, antara pemberi izin dengan yang diberi izin. "Ini bukan normalisasi, tapi bisnis pasir atau penambangan," ujarnya, Sabtu (9/2/2013).

Menurutnya, para penambang pasir di sungai-sungai yang dilewati material lahar dingin tersebut, hanya mengambil pasirnya saja, dan batu kerikil yang dianggap tidak bernilai ekonomis, ditinggalkan.

Selain itu, payung hukum yang diberikan oleh pihak pemberi izin, yaitu Pemerintah Kabupaten Sleman, tidak jelas. Sarana prasarana, waktu atau durasi dalam melakukan normalisasi, dan skema normalisasi, tidak diketahui kejelasannya.

"Lahan yang dinormalisasi harus jelas durasi waktunya dan pemetaan. Selama ini juga tidak ada kontrol seberapa lebar dan dalamnya sungai dinormalisasi. Ada sungai yang seharusnya mempunyai kedalaman enam meter namun dikeruk hingga sepuluh meter," imbuhnya.

Ke depannya, pihak pemerintah harus melakukan upaya yang tegas dan kontrol yang ketat dalam memberikan izin normalisasi ini. Sebab, normalisasi yang dilakukan seharusnya difungsikan untuk mitigasi bencana banjir lahar dingin Merapi.

Terpisah, Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Heri Suprapto mengatakan, di wilayahnya yang dilakukan normalisasi sungai, yaitu di Sungai Gendol sepanjang tujuh kilometer.

Untuk alat berat yang masuk di dalam sungai sebanyak 13 hingga 15 unit. Sedangkan alat berat yang digunakan di luar sungai, yaitu di lahan-lahan pinggi sungai sebanyak sembilan unit. "Kalau pengerukan pasir dilakukan dari pukul 04.00 hingga pukul 18.00 WIB. Jalanan yang dilewati truk pasir tidak terlalu parah kerusakannya," ucapnya.
(lns)
Berita Terkait
Takut Wedus Gembel,...
Takut Wedus Gembel, Ratusan Warga Kemalang Klaten Mengungsi
Merapi Masuk Fase Erupsi,...
Merapi Masuk Fase Erupsi, Ganjar Minta BPBD Memastikan Kondisi Pengungsi
Selain Lava Pijar, Pagi...
Selain Lava Pijar, Pagi Ini Merapi Luncurkan Awan Panas
Pagi Ini Merapi Keluarkan...
Pagi Ini Merapi Keluarkan Dua Kali Suara Gemuruh
Selama 6 Jam Terjadi...
Selama 6 Jam Terjadi 9 kali, Intensitas Guguran Lava Pijar Merapi Terus Meningkat
BPPTKG Prediksi Erupsi...
BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi Menuju Selatan dan Tenggara
Berita Terkini
Penelitian Unair: Galon...
Penelitian Unair: Galon Polikarbonat Tak Terkait Gangguan Hormon hingga Kanker
38 menit yang lalu
Pramono Minta Penambahan...
Pramono Minta Penambahan 1.000 Siswa Sekolah Rakyat untuk Anak Broken Home hingga Pengamen
41 menit yang lalu
Berbagi Kebahagiaan,...
Berbagi Kebahagiaan, Komunitas Pajero One Santuni Puluhan Anak Yatim
1 jam yang lalu
Dinilai Tak Sesuai Budaya...
Dinilai Tak Sesuai Budaya Sunda, MUI Sesalkan Lagu 'Lalaki Langit' karya Bupati Purwakarta
1 jam yang lalu
BEM Psikologi UI Sebut...
BEM Psikologi UI Sebut LGBT Bukan Penyimpangan, MUI: Kampus Harus Ajarkan Mental Spiritual
3 jam yang lalu
Viral Video Letusan...
Viral Video Letusan Gunung Anak Krakatau Disertai Semburan Api Merah, PVMBG: Hoaks Buatan AI
4 jam yang lalu
Infografis
2 Raksasa Perusahaan...
2 Raksasa Perusahaan Rokok Setop Beli Tembakau Temanggung
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved