Ribuan warga Aceh peringati sewindu tsunami
Rabu, 26 Desember 2012 - 17:49 WIB
Ribuan warga Aceh peringati sewindu tsunami
A
A
A
Sindonews.com - Ribuan masyarakat Aceh berzikir dan berdoa bersama memperingati sewindu bencana gempa dan tsunami Aceh. Sejak pagi, masyarakat memadati sejumlah masjid-masjid, surau, serta lokasi-lokasi bersejarah tsunami lainnya. Peringatan sewindu Aceh dipusatkan di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya Aceh Besar.
Di pelabuhan ini, sedikitnya 5.000 warga larut dalam zikir. "Upacara kita hari ini bukan untuk membangkitkan luka lama, tapi untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan kebencanaan," kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Rabu (26/12/2012).
Menurut Zaini, tsunami bukan kali pertama menyapu Aceh, tahun 1907 pernah terjadi di Simeulu. Pengalaman itu telah melahirkan kearifan lokal yang disebut smong, menceritakan tsunami turun temurun. Sehingga saat tsunami 2004 banyak masyarakat yang selamat.
Zaini mengimbau agar masyarakat membentuk komunitas-komunitas peduli bencana ditingkat kecamatan. "Jika pemahaman masyarakat cukup baik, maka upaya penanggulangan bencana akan efektif dilakukan," terang Zaini.
Selain zikir dan doa, peringatan juga diisi tausiah pengurangan risiko bencana oleh Ir Faizal Ardiansyah, ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh. Menurut Faisal, masyarakat Indonesia hidup bersama bencana dan bencana tak dapat dihilangkan. Untuk itu, dia berharap masyarakat siaga bencana.
"Free disasater mustahil, tapi kita hidup bersama bencana harus siaga harus waspada," paparnya.
Selain itu, masyarakat diminta mampu membaca tanda-tanda akan datangnya bencana. Ramainya korban berjatuhan saat tsunami salah satu penyebabnya lemahnya pengetahuan tentang tsunami. "Alam telah memberi isyarat ganjil air laut surut, kapal kandas, burung-burung terbang tapi kita tidak membaca tanda itu," jelasnya.
Di Pelabuhan Malahayati, turut dihadiri delapan orang guru asal Jepang. Para guru ini berharap Jepang dan Indonesia terus bekerja sama dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Kami datang ke sini dengan tujuan untuk membawa semangat Anda semua kepada anak-anak Jepang,” kata Jun Ogaswara, guru sekolah menengah atas di Kota Miyako, Prefektur Iwate, Jepang.
"Saya yakin jika Indonesia dan Jepang saling membantu dengan bergandengan tangan bisa membangun masa depan yang cerah," jelasnya.
Selain di Krueng Raya, masyarakat Aceh juga memperingati gempa dan tsunami dengan ziarah kuburan massal di Ule lheu dan Lambaro, Warga jugakawasan Siron, serta Lampuuk. Masyarakat memanjatkan doa dan tabur bunga.
Di pelabuhan ini, sedikitnya 5.000 warga larut dalam zikir. "Upacara kita hari ini bukan untuk membangkitkan luka lama, tapi untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan kebencanaan," kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Rabu (26/12/2012).
Menurut Zaini, tsunami bukan kali pertama menyapu Aceh, tahun 1907 pernah terjadi di Simeulu. Pengalaman itu telah melahirkan kearifan lokal yang disebut smong, menceritakan tsunami turun temurun. Sehingga saat tsunami 2004 banyak masyarakat yang selamat.
Zaini mengimbau agar masyarakat membentuk komunitas-komunitas peduli bencana ditingkat kecamatan. "Jika pemahaman masyarakat cukup baik, maka upaya penanggulangan bencana akan efektif dilakukan," terang Zaini.
Selain zikir dan doa, peringatan juga diisi tausiah pengurangan risiko bencana oleh Ir Faizal Ardiansyah, ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh. Menurut Faisal, masyarakat Indonesia hidup bersama bencana dan bencana tak dapat dihilangkan. Untuk itu, dia berharap masyarakat siaga bencana.
"Free disasater mustahil, tapi kita hidup bersama bencana harus siaga harus waspada," paparnya.
Selain itu, masyarakat diminta mampu membaca tanda-tanda akan datangnya bencana. Ramainya korban berjatuhan saat tsunami salah satu penyebabnya lemahnya pengetahuan tentang tsunami. "Alam telah memberi isyarat ganjil air laut surut, kapal kandas, burung-burung terbang tapi kita tidak membaca tanda itu," jelasnya.
Di Pelabuhan Malahayati, turut dihadiri delapan orang guru asal Jepang. Para guru ini berharap Jepang dan Indonesia terus bekerja sama dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Kami datang ke sini dengan tujuan untuk membawa semangat Anda semua kepada anak-anak Jepang,” kata Jun Ogaswara, guru sekolah menengah atas di Kota Miyako, Prefektur Iwate, Jepang.
"Saya yakin jika Indonesia dan Jepang saling membantu dengan bergandengan tangan bisa membangun masa depan yang cerah," jelasnya.
Selain di Krueng Raya, masyarakat Aceh juga memperingati gempa dan tsunami dengan ziarah kuburan massal di Ule lheu dan Lambaro, Warga jugakawasan Siron, serta Lampuuk. Masyarakat memanjatkan doa dan tabur bunga.
(san)