Abrasi pesisir selatan Kulonprogo mengkhawatirkan
Jum'at, 14 Desember 2012 - 17:40 WIB
Abrasi pesisir selatan Kulonprogo mengkhawatirkan
A
A
A
Sindonews.com - Abrasi di sepanjang Pantai Selatan Kulonprogo semakin mengkhawatirkan. Ratusan meter bibir pantai sudah hilang sejak belasan tahun silam akibat abrasi. Ancaman abrasi akan semakin parah jika tidak segera ditangani.
Nelayan Pantai Trisik Mugiyono (41) mengatakan, abrasi menyebabkan daratan di sepanjang pantai Kulonprogo hilang. Saat ini, antara daratan dan laut menjorok dengan kemiringan yang cukup curam. Akibatnya, nelayan kesulitan mendaratkan perahu.
"Sudah sangat parah sekali. Dulu daratan sangat luas. Sekarang antara daratan dan laut menjorok sangat curam. Nelayan selalu kesulitan mendaratkan perahu," kata Mugiyono, Jumat (14/12/2012).
Dia mengatakan, ancaman abrasi harus mendapat perhatian serius pemkab setempat. Penanaman pohon cemara udang yang dilakukan nelayan maupun pemerintah dinilai belum efektif karena baru dilakukan di sisi utara, padahal, abrasi terjadi di sepanjang pesisir pantai.
Nelayan lainnya, Daljiman (45), mengatakan, ombak di pantai selatan yang cenderung besar membuat abrasi semakin meluas. Jika tidak segera ditangani, bisa mengancam keberadaan gumuk pasir. Padahal gumuk pasir ini merupakan salah satu ciri khas pantai di Kulonprogo, dan Bantul.
"Kami berharap pihak terkait segera mengambil kebijakan supaya abrasi bisa segera tertangani. Kami tidak ingin kerusakan akibat abrasi semakin parah. Karena untuk mengembalikannya akan membutuhkan waktu yang cukup lama," jelasnya.
Sementara itu Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kulonprogo Heri Purnomo mengatakan, abrasi dipengaruhi oleh alam. Gelombang di pantai selatan cukup besar sehingga abrasinya terus membesar.
"Abrasi di pantai selatan memang terjadi karena pengaruh alam," kilahnya.
Menurut dia, tanaman mangrove sebenarnya dapat dioptimalkan untuk untuk mencegah abrasi. Namun di wilayah Kulonprogo, hanya tiga lokasi saja yang bisa ditanami tanaman penahan gelombang ini, yakni muara Sungai Bogowonto, Sungai Serang, dan Sungai Progo.
“Di sepanjang pantai mulai dari Trisik hingga Congot tidak bisa ditanami mangrove karena airnya berupa air laut. Tanaman mangrove hanya bisa tumbuh di wilayah yang airnya payau. Jadi abrasi di daeraha itu tidak bisa diakendalikan,” katanya.
Dia menambahkan, tanaman cemara udang hanya berfungsi untuk menahan angin supaya pertanian warga di lahan pesisir terlindungi dari air asin.
Nelayan Pantai Trisik Mugiyono (41) mengatakan, abrasi menyebabkan daratan di sepanjang pantai Kulonprogo hilang. Saat ini, antara daratan dan laut menjorok dengan kemiringan yang cukup curam. Akibatnya, nelayan kesulitan mendaratkan perahu.
"Sudah sangat parah sekali. Dulu daratan sangat luas. Sekarang antara daratan dan laut menjorok sangat curam. Nelayan selalu kesulitan mendaratkan perahu," kata Mugiyono, Jumat (14/12/2012).
Dia mengatakan, ancaman abrasi harus mendapat perhatian serius pemkab setempat. Penanaman pohon cemara udang yang dilakukan nelayan maupun pemerintah dinilai belum efektif karena baru dilakukan di sisi utara, padahal, abrasi terjadi di sepanjang pesisir pantai.
Nelayan lainnya, Daljiman (45), mengatakan, ombak di pantai selatan yang cenderung besar membuat abrasi semakin meluas. Jika tidak segera ditangani, bisa mengancam keberadaan gumuk pasir. Padahal gumuk pasir ini merupakan salah satu ciri khas pantai di Kulonprogo, dan Bantul.
"Kami berharap pihak terkait segera mengambil kebijakan supaya abrasi bisa segera tertangani. Kami tidak ingin kerusakan akibat abrasi semakin parah. Karena untuk mengembalikannya akan membutuhkan waktu yang cukup lama," jelasnya.
Sementara itu Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kulonprogo Heri Purnomo mengatakan, abrasi dipengaruhi oleh alam. Gelombang di pantai selatan cukup besar sehingga abrasinya terus membesar.
"Abrasi di pantai selatan memang terjadi karena pengaruh alam," kilahnya.
Menurut dia, tanaman mangrove sebenarnya dapat dioptimalkan untuk untuk mencegah abrasi. Namun di wilayah Kulonprogo, hanya tiga lokasi saja yang bisa ditanami tanaman penahan gelombang ini, yakni muara Sungai Bogowonto, Sungai Serang, dan Sungai Progo.
“Di sepanjang pantai mulai dari Trisik hingga Congot tidak bisa ditanami mangrove karena airnya berupa air laut. Tanaman mangrove hanya bisa tumbuh di wilayah yang airnya payau. Jadi abrasi di daeraha itu tidak bisa diakendalikan,” katanya.
Dia menambahkan, tanaman cemara udang hanya berfungsi untuk menahan angin supaya pertanian warga di lahan pesisir terlindungi dari air asin.
(rsa)