Lutra memanas, 4 warga kena tembak
Sabtu, 03 November 2012 - 20:17 WIB
Lutra memanas, 4 warga kena tembak
A
A
A
Sindonews.com - Empat warga Desa Mappedeceng, Kecamatan Mappedeng, Kabupaten Luwu Utara, tertembak dalam penyerangan ke Kelurahan Baliase, pada Jumat 3 Nopember 2012 sekitar pukul 22.15 Wita.
Empat warga yang tertembak masing-masing, Anto (17), tertembak dibagian dada sebelah kanan, Riki (15), luka tembak di bagian paha, Jasri (16), tertembak dibagian dada sebelah kanan, dan Habibi (24), tertembak dibagian perut.
Seluruh korban langsung di larikan ke RSU Sawerigading, dan selanjutnya dirujuk ke RSU La Palopo, untuk dilakukan perawatan secara intensif.
Kapolres Luwu Utara AKBP Hery Marwanto ketika ditemui susai rapat muspida di kantor Bupati Luwu Utara mengatakan, insiden terjadi saat ratusan warga Desa Mappedeceng berniat melakukan penyerangan terhadap warga Kelurahan Baliase.
Aksi warga yang sudah mengarah ke tindakan anarkis tersebut, langsung dihalau aparat kepolisian yang sudah bersiaga yang menyebabkan adanya warga yang tertembak.
Kapolsek Masamba AKP HM Jufri yang mempimpin pasukan disuasana tegang dan gelap gelita langsung dihujani batu. Akibatnya, anggota polisi lainnya langsung bertindak tegas dengan mengeluarkan tembakan peringatan.
Namun tembakan peringatan dari aparat ini, bukannya membuat mundur. Warga justru maju menyerang, sehingga aparat kepolisian mundur sambil mengeluarkan tembakan. "Dalam kondisi gelap tersebut, sejumlah warga jatuh tertembak dan tidak diketahui darimana arahnya," ujar Jufri di Palopo, Sabtu (3/11/2012).
Untuk memastikan penyebab jatuhnya korban luka yang diduga masyarakat tertembak, maka dilakukan visum di RSU Sawerigading Palopo.
"Kami (polisi) belum memastikan apakah warga tertembak dari polisi atau senjata tradisional yang digunakan warga sebelum ada hasil visum dari RSU Sawerigading Palopo," jelasnya.
Adapun langkah yang diambil untuk mencegah kejadian selanjutnya, Polres Luwu Utara menempatkan persenil di Desa Mappedeceng dan Baliase serta melakukan patroli secara periodek yang dibantu aparat dari anggotoa Detasemen 3 Brimob Baebunta.
Selain itu, dilakukan secara intensif pertemuan dengan tokoh masyarakat, agama dan pemuda di dua desa yang bertikai tersebut.
Sekadar diketahui, penyebab terjadinya keributan tersebut berawal dari adanya warga Mappedeceng bernama Fitriana terkena panah dibagian leher saat duduk santai di depan rumahnya di Mappedeceng, pada Kamis 1 Nopember 2012, sekitar pukul 10.15 Wita, yang menyebabkan kemarahan warga Desa Mappedeceng.
Kondisi Fitriana sendiri saat ini sudah mulai membaik, anak panah yang menancap dibagian leher berhasil diangkat dokter bedah RSU Sawerigading Palopo setelah bekerja hampir 15 jam.
Empat warga yang tertembak masing-masing, Anto (17), tertembak dibagian dada sebelah kanan, Riki (15), luka tembak di bagian paha, Jasri (16), tertembak dibagian dada sebelah kanan, dan Habibi (24), tertembak dibagian perut.
Seluruh korban langsung di larikan ke RSU Sawerigading, dan selanjutnya dirujuk ke RSU La Palopo, untuk dilakukan perawatan secara intensif.
Kapolres Luwu Utara AKBP Hery Marwanto ketika ditemui susai rapat muspida di kantor Bupati Luwu Utara mengatakan, insiden terjadi saat ratusan warga Desa Mappedeceng berniat melakukan penyerangan terhadap warga Kelurahan Baliase.
Aksi warga yang sudah mengarah ke tindakan anarkis tersebut, langsung dihalau aparat kepolisian yang sudah bersiaga yang menyebabkan adanya warga yang tertembak.
Kapolsek Masamba AKP HM Jufri yang mempimpin pasukan disuasana tegang dan gelap gelita langsung dihujani batu. Akibatnya, anggota polisi lainnya langsung bertindak tegas dengan mengeluarkan tembakan peringatan.
Namun tembakan peringatan dari aparat ini, bukannya membuat mundur. Warga justru maju menyerang, sehingga aparat kepolisian mundur sambil mengeluarkan tembakan. "Dalam kondisi gelap tersebut, sejumlah warga jatuh tertembak dan tidak diketahui darimana arahnya," ujar Jufri di Palopo, Sabtu (3/11/2012).
Untuk memastikan penyebab jatuhnya korban luka yang diduga masyarakat tertembak, maka dilakukan visum di RSU Sawerigading Palopo.
"Kami (polisi) belum memastikan apakah warga tertembak dari polisi atau senjata tradisional yang digunakan warga sebelum ada hasil visum dari RSU Sawerigading Palopo," jelasnya.
Adapun langkah yang diambil untuk mencegah kejadian selanjutnya, Polres Luwu Utara menempatkan persenil di Desa Mappedeceng dan Baliase serta melakukan patroli secara periodek yang dibantu aparat dari anggotoa Detasemen 3 Brimob Baebunta.
Selain itu, dilakukan secara intensif pertemuan dengan tokoh masyarakat, agama dan pemuda di dua desa yang bertikai tersebut.
Sekadar diketahui, penyebab terjadinya keributan tersebut berawal dari adanya warga Mappedeceng bernama Fitriana terkena panah dibagian leher saat duduk santai di depan rumahnya di Mappedeceng, pada Kamis 1 Nopember 2012, sekitar pukul 10.15 Wita, yang menyebabkan kemarahan warga Desa Mappedeceng.
Kondisi Fitriana sendiri saat ini sudah mulai membaik, anak panah yang menancap dibagian leher berhasil diangkat dokter bedah RSU Sawerigading Palopo setelah bekerja hampir 15 jam.
(san)