Aksi teror di Solo diduga balas dendam
Senin, 03 September 2012 - 07:23 WIB
Aksi teror di Solo diduga balas dendam
A
A
A
Sindonews.com - Aksi terorisme yang dilakukan beruntun di Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng) dengan sasaran polisi adalah suatu tindakan balas dendam.
Sosiolog sekaligus Buru Besar Uversitas Sebelas Maret (UNS) Soemanto mengatakan terorisme yang muncul dan berututan dalam dua minggu terakir di Kota Solo timbul karena ada sebab atau peristiwa pendahulunya. Yakni sebelumnya empat bulan lalu terjadi semacam konflik terbuka ( kasus Gandekan) yakni massa berdatangan ke Solo dari luar daerah menyerang warga Solo.
Menurutnya massa yang datang dari berbagai daerah ini adalah upaya semacam mengecek kembali solidaritas selama 10 tahun tumbuh dengan baik, karena solo dulu dikenal sumbu pendek.
Hal ini menurut Soemanto hampir sama dengan kasus terorisme di Solo, yakni hampir dua minggu berturut turut sejak dari penyerangan Pos Pam Gemblekan, Pos Polisi Gladag dengan granat, penembakan polisi di pos Pol Singosaren dan penyergapan.
"Mereka sengaja mengacaukan dengan menyerang polisi karena polisi sebagai lambang negara lambang ketertiban dan keamanan negara," ujar Soemanto menjelaskan kepada wartawan, Senin (3/9/2012).
Polisi menjadi sasaran utama karena manurut Soemato ada semacam serangan balik dan ada sesuatu yang ditinggalkan dan tidak puas dengan polisi. Hal ini diwujudkan dalam konflik terbuka, berbenturan secara fisik yang mengakibatkan jatuh korban.
Sosiolog sekaligus Buru Besar Uversitas Sebelas Maret (UNS) Soemanto mengatakan terorisme yang muncul dan berututan dalam dua minggu terakir di Kota Solo timbul karena ada sebab atau peristiwa pendahulunya. Yakni sebelumnya empat bulan lalu terjadi semacam konflik terbuka ( kasus Gandekan) yakni massa berdatangan ke Solo dari luar daerah menyerang warga Solo.
Menurutnya massa yang datang dari berbagai daerah ini adalah upaya semacam mengecek kembali solidaritas selama 10 tahun tumbuh dengan baik, karena solo dulu dikenal sumbu pendek.
Hal ini menurut Soemanto hampir sama dengan kasus terorisme di Solo, yakni hampir dua minggu berturut turut sejak dari penyerangan Pos Pam Gemblekan, Pos Polisi Gladag dengan granat, penembakan polisi di pos Pol Singosaren dan penyergapan.
"Mereka sengaja mengacaukan dengan menyerang polisi karena polisi sebagai lambang negara lambang ketertiban dan keamanan negara," ujar Soemanto menjelaskan kepada wartawan, Senin (3/9/2012).
Polisi menjadi sasaran utama karena manurut Soemato ada semacam serangan balik dan ada sesuatu yang ditinggalkan dan tidak puas dengan polisi. Hal ini diwujudkan dalam konflik terbuka, berbenturan secara fisik yang mengakibatkan jatuh korban.
(azh)