Korban tewas pesta oplosan tiner bertambah
Kamis, 19 Juli 2012 - 16:26 WIB
Korban tewas pesta oplosan tiner bertambah
A
A
A
Sindonews.com - Korban tewas pesta oplosan teh dan thinner sekawanan narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kota Pasuruan bertambah satu jiwa. Sholeh (30) yang sempat kritis akhirnya tewas setelah menjalani perawatan di RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan.
Kondisi fisik korban semakin memburuk karena daya tahan tubuhnya tidak bisa menetralkan cairan tiner yang ditelannya. Selama masa perawatan, korban terus dibantu tabung oksigen untuk membantu pernafasannya.
Namun setelah lebih dari 12 jam berada dalam pengawasan tim medis, nyawa napi yang tersandung kasus pencurian sepeda motor itu akhirnya tidak terselamatkan.
Ibu korban, Sholiha, yang mendamping selama masa perawatan di RSUD tak mampu mengendalikan kesedihannya. Dengan berlinang air mata, ia mengaku ikhlas atas kepergiannya anaknya.
"Ini sudah menjadi takdirnya. Saya merelakan kepergiannya," ujar Sholiha saat menunggui jenazah anaknya di RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan, Kamis (19/7/2012).
Sementara itu untuk kepentingan penyelidikan polisi atas persetujuan pihak keluarga kemudian membawa jenazah warga asal Kecamatan Rejoso ini ke RS Bhayangkara, Porong, Sidoarjo, untuk divisum. Menurut Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota AKP Kholil, penyelidikan tersebut untuk mengetahui penyebab tewasnya korban.
Sebelumnya seorang napi, Beni Suripto warga Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, juga tewas gara-gara menenggak teh yang dioplos tiner sisa pengecatan masjid di LP Kota Pasuruan.
Kepala LP Kota Pasuruan Winarsangka menyatakan, petugas jaga pada Selasa malam mendapati para napi mengeluh sakit perut. Karena kondisinya yang terus melemah, petugas berinisiatif merujuknya ke RSUD untuk segera mendapatkan perawatan.
Pihaknya baru mengetahui penyebab sakit tersebut berasal dari teh oplosan tiner yang didapat dari sisa pengecatan masjid untuk menyambut bulan Ramadan.
Kondisi fisik korban semakin memburuk karena daya tahan tubuhnya tidak bisa menetralkan cairan tiner yang ditelannya. Selama masa perawatan, korban terus dibantu tabung oksigen untuk membantu pernafasannya.
Namun setelah lebih dari 12 jam berada dalam pengawasan tim medis, nyawa napi yang tersandung kasus pencurian sepeda motor itu akhirnya tidak terselamatkan.
Ibu korban, Sholiha, yang mendamping selama masa perawatan di RSUD tak mampu mengendalikan kesedihannya. Dengan berlinang air mata, ia mengaku ikhlas atas kepergiannya anaknya.
"Ini sudah menjadi takdirnya. Saya merelakan kepergiannya," ujar Sholiha saat menunggui jenazah anaknya di RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan, Kamis (19/7/2012).
Sementara itu untuk kepentingan penyelidikan polisi atas persetujuan pihak keluarga kemudian membawa jenazah warga asal Kecamatan Rejoso ini ke RS Bhayangkara, Porong, Sidoarjo, untuk divisum. Menurut Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota AKP Kholil, penyelidikan tersebut untuk mengetahui penyebab tewasnya korban.
Sebelumnya seorang napi, Beni Suripto warga Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, juga tewas gara-gara menenggak teh yang dioplos tiner sisa pengecatan masjid di LP Kota Pasuruan.
Kepala LP Kota Pasuruan Winarsangka menyatakan, petugas jaga pada Selasa malam mendapati para napi mengeluh sakit perut. Karena kondisinya yang terus melemah, petugas berinisiatif merujuknya ke RSUD untuk segera mendapatkan perawatan.
Pihaknya baru mengetahui penyebab sakit tersebut berasal dari teh oplosan tiner yang didapat dari sisa pengecatan masjid untuk menyambut bulan Ramadan.
(azh)