Cerita Pagi

190 Tahun Keris Kiai Nogo Siluman, Pusaka Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa

loading...
190 Tahun Keris Kiai Nogo Siluman, Pusaka Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
190 Tahun Keris Kiai Nogo Siluman, Pusaka Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
SETELAH Pangeran Diponegoro dijebak dan ditangkap oleh panglima tentara Belanda Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus Baron De Kock saat pertemuan di kediaman Residen Kedu, Frans Gerhardus Valck, pada Minggu 28 Maret 1830 atau 2 Syawal 1245 H, perang Jawa (Java Oorlog) yang sudah berkobar selama lima tahun pun padam. Padahal pemimpin perlawanan rakyat Jawa itu datang untuk bersilaturahmi dengan musuhnya itu pada Lebaran hari kedua.

Namun, Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya yang tak bersenjata malah dipaksa menyerah dan meletakan senjata. Dari kediaman Residen Kedu di Magelang, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Semarang menggunakan kereta kuda dan dikawal 500 pasukan kavaleri Belanda.

Dalam kurun Mei-Juni 1830, Pangeran Diponegoro bersama keluarga dan beberapa orang dekatnya, dipindahkan ke Batavia dan dibuang ke Manado, Sulawesi. Sebagai tanda kemenangan, De Kock mengirimkan salah satu keris pusaka Pangeran Diponegoro, Kiai Nogo Siluman atau Kiai Naga Siluman kepada Raja Belanda Willem I.

Keris Kiai Nogo Siluman yang merupakan simbol kepemimpinan Pangeran Diponegoro di tanah Jawa, dibawa ke Belanda oleh utusan De Kock, Kolonel Jan-Baptist Cleerens. Sebagai bukti keaslian keris tersebut minlik Pangeran Diponegoro, disertai keterangan dari Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro.



Pengiriman keris Kiai Nogo Siluman tersebut terekam dalam korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voorWaterstaat, NationaleNijverheid en Colonies antara 11-15 Januari 1831. Keris itu kemudian disimpan di Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik atau Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden di Den Haag.

Direktur Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden, SRP van de Kasteele, juga sempat meminta keterangan dari Raden Saleh (1807-1880) untuk mengidentifikasi keaslian keris tersebut pada Januari 1831. Reden Saleh yang sedang memperdalam ilmu melukis di Eropa sejak 1829, memastikan keaslian keris tersebut dengan membuat penilaian singkat berdasarkan surat keterangan yang dibuat Sentot Alibasyah Prawirodirdjo.

Pada 1876, Keris Kiai Nogo Siluman dipamerkan di Philadelphia, Amerika Serikat. Tercatat dalam katalog pameran menyebutkan keris tersebut milik Pangeran Diponegoro. Pada 1883, ketika Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden bubar, banyak koleksi yang dimiliki tersebar ke sejumlah museum.



Banyak juga informasi mengenai koleksi ikut hilang, termasuk keris Pangeran Diponegoro Kiai Nogo Siluman yang diserahkan kepada Museum Volkenkunde di Leiden. Sejak 1883, jejak keberadaan keris Kiai Nogo Siluman takdi ketahui dan menyebabkan timbul berbagai spekulasi.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top