Saptonan Tradisi Berkuda dan Menombak Para Raja dan Bangsawan di Kuningan

Jum'at, 06 September 2019 - 05:00 WIB
Saptonan Tradisi Berkuda...
Saptonan Tradisi Berkuda dan Menombak Para Raja dan Bangsawan di Kuningan
A A A
Saptonan merupakan tradisi yang masih hidup di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Saptonan ini merupakan salah satu warisan leluhur Kabupaten Kuningan yang berupa lomba ketangkasan dalam menunggangi kuda dan memasukan tombak ke dalam lubang yang ada di bawah ember yang digantung di atas tempat yang telah disediakan.

Jika tombak peserta permainan ini bisa melalui cincin tanpa menumpahkan airnya,maka dialah pemenangnya. Selain keluarga kerajaan, para pemain Saptonan ini biasanya adalah para demang atau kepala desa dan tumenggung atau camat yang ada di Kabupaten Kuningan.

Dikisahkan, Saptonan mulai dilakukan pada Zaman Adipati Ewangga memerintah Kabupaten Kuningan. Sang Adipati mempunyai kuda kesayangan dengan nama Windu. Walaupun kudanya berukuran kecil tapi gerakan kuda tersebut sangat lincah dan cepat. Seperti disimbolkan dengan ‘Kuda’ orang-orang Kuningan walaupun kecil-kecil tetapi semangat juangnya kuat.

Namun seiring perkembangan zaman, rupanya permainan ini juga disukai masyarakat biasa terutama mereka yang mempunyai kuda.Hingga akhirnya berkembang dan kini menjadi agenda rutin tahunan masyarakat Kuningan yang pesertanya bisa dari kalangan manapun.

“Tradisi Saptonan ini selalu digelar setiap tahun dalam rangka hari jadi Kuningan. Selain itu juga tradisi Saptonan menjadi sebuah hiburan bagi warga serta guna melestarikan budaya lokal terutama bagi generasi muda agar dapat mengenal sejarah Kuningan,” kata Bupati Kuningan Acep Purnama, dalam rangka hari jadi Kuningan yang ke 521 di Lapangan Bola Kertawangunan, Kuningan, Jawa Barat, Selasa 3 September 2019.

Acep Purnama berharap dengan digelarnya tradisi ini dapat meningkatkan promosi pariwisata agar para wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal mau berkunjung ke Kuningan.

Sementara itu sejumlah warga pun antusias melihat gelaran tradisi Saptonan yang digelar Pemkab Kuningan setiap tahun. Warga yang sudah lama menunggu langsung menyerbu hasil bumi yang dipersembahkan setelah diarak. Para warga pun saling berebut hingga saling dorong, mereka masih mempercayai dengan apa yang berhasil diambil merupakan perlambang berkah yang natinya akan diperoleh.
(sms)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
36 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
1 jam yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
2 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
2 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
2 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved