Bukti Komitmen Keraton Yogyakarta Terhadap Penyebaran Ajaran Islam

Minggu, 17 Juni 2018 - 05:00 WIB
Bukti Komitmen Keraton...
Bukti Komitmen Keraton Yogyakarta Terhadap Penyebaran Ajaran Islam
A A A
Persebaran Islam di Gunungkidul semakin kuat pada pertengahan 1800-an hingga awal 1900-an. Setelah masjid Al Huda Playen yang menunjukkan peranan Keraton Yogyakarta untuk penyebaran siar Islam, di Wonosari juga terdapat sebuah masjid tua pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Masjid yang kini diberi nama Nurul Huda ini terletak di Dusun Kepek I, Desa Kepek, Wonosari. Masjid kecil yang berada di atas tanah seluas 500 meter persegi ini merupakan salah satu masjid dengan bangunan inti masih kuno, yaitu model joglo (model rumah jawa).

Meskipun telah mengalami pemugaran atau rehab pada 1984, namun model inti masjid berupa empat tiang (saka) dan atapnya yang khas joglo masih utuh seperti saat masjid ini dipindah dari dusun Purbosari, yang dulu disebut Kakiman sekitar 1901.

Takmir masjid setempat Suripto mengungkapkan, bangunan masjid ini awalnya berupa joglo dengan gebyok kayu. Namun pada 1984, masjid yang dulu dikenal dengan sebutan mesjid lawas tersebut diperbaiki dengan penggunaan dinding tembok.Namun, model joglo khas masjid gaya keraton Yogyakarta masih terlihat di bangunan yang kini menjadi dua ruang tersebut.

”Masjid ini pemberian Sri Sultan HB VIII untuk salah seorang naib (penghulu) di panewon ( sekarang KUA) Wonosari, begitu juga dengan tanahnya adalah tanah milik keraton,” ucapnya.

Suripto mengakui dengan pemberian masjid Sultoni ini, membuktikan peran kuat keraton Yogyakarta untuk membesarkan pengaruh Islam di wilayah Yogyakarta. Para penewon, diberikan masjid untuk dibangun dan digunakan untuk ibadah.

Dia menjelaskan, selain bangunan masjid bentuk rumah joglo, di masjid juga diberikan bedug besar. Namun sayang semenjak pemerintah membangun masjid Agung Al Iklhas, bedug diboyong ke masjid besar tersebut dan kini sulit dilacak keberadaannya. ”Katanya bedug dibawa ke ponjong,” ulasnya.

Diapun mengaku di Gunungkidul ada beberapa masjid lain yang umurnya hampir bersamaan dengan masjid Nurul Huda tersebut.” Yang jelas hampir sama adalah masjid di Ponjong dan Playen” katanya

Meskipun berstatus sebagai masjid, namun beberapa pemuka Islam sempat memberikan aturan untuk menggunakan Masjid Al Ikhlas yang letaknya sekitar 300 meter dari masjid tersebut untuk salat Jumat. Akibatnya, sejak 1952 masjid ini hanya untuk ibadah lima waktu warga sekitar saja.

Sedangkan salat jumat dipindah ke masjid Al Ikhlas yang berada di sisi barat Alun-Alun Wonosari. ”Dulu katanya biar masjid yang besar ramai. Maka umat di sekitar mesjid lawas ini pindah salat jumat di masjid Al Ikhlas,” lanjutnya.

Karena untuk salat jumat dipindah, jamaah putrilah yang sering menggunakan masjid yang hingga kini belum jelas berdirinya tersebut untuk berbagai kegiatan pengajian. ”Dulu masjid ini juga dikenal sebagai masjid putri, karena banyak digunakan untuk pengajian dan kegiatan ibu-ibu kompleks pasar Wonosari,” bebernya.

Gempa yang terjadi 2006 lalu menjadikan sejarah baru dan digunakan kembali untuk salat jumat di masjid lawas tersebut. Pengurus takmir dan warga akhirnya sepakat menggunakan masjid tersebut untuk salat jumat kembali. ”Jadi masjid Al iklas juga sudah ramai dan kami gelar salat jumat di sini, sampai sekarang,” kata Suripto.

Seorang jamaah masjid Nurul Huda Ervan Bambang mengatakan, sejak kecil dirinya berjamaah dan juga belajar mengaji di masjid tersebut. Kegiatan Taman Pendidikan Alquran (TPA) di lingkungan masjid juga berjalan setiap bulan Ramadhan.” Dulu saya sering takut kalau sendirian di dalam bangunan inti,” tuturnya.

Menurut dia, masjid ini berbeda dengan masjid-masjid modern lainnya.” Suasananya di dalam sangat lain, kedekatan dengan keraton masih terlihat di bangunan utama dan model pintu pintunya,” pungkasnya.
(wib)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
3 jam yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
3 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
4 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
4 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
6 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
7 jam yang lalu
Infografis
Daftar Nilai Rerata...
Daftar Nilai Rerata TKA 2025 Tiap Provinsi, Yogyakarta Tertinggi untuk Skor Matematika
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved