Monumen Palagan Ambarawa, Simbol Ketangguhan TKR Usir Tentara Sekutu

Sabtu, 09 Juni 2018 - 05:00 WIB
Monumen Palagan Ambarawa,...
Monumen Palagan Ambarawa, Simbol Ketangguhan TKR Usir Tentara Sekutu
A A A
Monumen Palagan Ambarawa yang berada di Jalan Mgr Sugiyopranoto, Panjang Lor, Panjang, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah adalah bangunan yang didirikan untuk mengenang pertempuran Ambarawa antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan tentara Sekutu pada 12-15 Desember 1945 silam.

Monumen yang didirikan pada tahun 1973 tersebut, juga dijadikan simbol keberanian dan ketangguhan para pejuang dalam mengusir penjajah dari Ambarawa. Di area Monumen Palagan Ambarawa juga didirikan Museum Isdiman.

Museum tersebut dibangun untuk mengabadikan dan mengenang jasa Letkol Isdiman yang gugur dalam pertempuran untuk merebut dua desa di Ambarawa yang diduduki tentara Sekutu. Letkol Isdiman merupakan perwira terbaik yang dimiliki Komandan Divisi V Banyumas, Kolonel Soedirman yang dikini dikenal dengan nama Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Pengelola Monumen Palagan Ambarawa Sudiri menceritakan, pertempuran Ambarawa berawal dari kedatangan tentara Sekutu yang diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration) pada Oktober 1945 yang awalnya berniat untuk mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang ada di Jawa Tengah.

Namun setelah tiba di Magelang dan membebaskan tawanan perang yang tak lain adalah tentara Belanda, Sekutu berulah dengan mempersenjatai para tawanan. "Yang dilakukan Sekutu membuat TKR marah dan menyerang Sekutu. Akhirnya Sekutu meninggalkan Magelang menuju Ambarawa dan mengusai beberapa desa," jelasnya, kemarin.

Pasukan TKR tidak tinggal diam dan menyerang tentara Sekutu yang telah menduduki dua desa di pinggiran Ambarawa. Namun dalam penyerangan tersebut, pimpinan pasukan TKR Letkol Isdiman gugur dalam pertempuran.

Selanjutnya, pertempuran dipimpin langsung oleh Komandan Divisi V Banyumas, Kolonel Soedirman. Puncaknya, pada 12 Desember 1945 pasukan TKR dan laskar menyerang tentara Sekutu yang berada di pusat Kota Ambarawa dari berbagai penjuru.

Dengan peralatan tempur seadanya seperti bambu runcing dan senjata sitaan dari pasukan Jepang, pasukan TKR terus menggempur tentara Sekutu yang memiliki persenjataan modern.

Akhirnya pada 15 Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin Kolonel Soedirman berhasil mengalahkan tentara Sekutu. "Guna mengabadikan pertempuran Ambarawa pada 1973, tepatnya tanggal 15 Desember pemerintah Indonesia mendirikan Monumen Palagan dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 15 Desember 1974," terang Sudiri.

Menurut dia, pembangunan Monumen Palagan Ambarawa menelan biaya Rp105 juta. Dana tersebut merupakan bantuan dari Kodam I sampai dengan XVII dan Hankam. Bangunan monumen terdiri dari tugu setinggi 17 meter. Persis di depan tugu didirikan patung Letkol Isdiman yang diapit patung dua prajurit TKR.

Kemudian di selatan tugu, didirkan patung Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sedangkan di utara tugu didirkan patung Gatot Subroto. Adapun relief yang terpasang di dinding tugu (dari selatan ke utara) menggambarkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Indonesia bangkit kembali, perebutan senjata dari tentara Jepang.

Kemudian pasukan Inggris (Sekutu) mendarat di Semarang pada 20 Oktober 1945, Kolonel Soedirman menentukan siasat supit udang, partisipasi masyarakat kepada BKR (Badan Keamanan Rakyat) atau TKR, pasukan Inggris meninggalkan Ambarawa pada 15 Desember 1945.

Sedangkan Museum Isdiman didirikan untuk mengabadikan nama pahlawan Isdiman yang gugur di medan laga Palagan Ambarawa pada 26 November 1945 di Desa Kelurahan, Jambu, Ambarawa. "Museum Isdiman dibangun dengan bentuk rumah joglo yang digunakan untuk menyimpan koleksi senjata dan pakaian yang digunakan dalam pertempuran Palagan Ambarawa hasil rampasan dari pasukan Jepang," katanya.

Di Museum Isdiman juga dipajang bom molotov, bambu runcing dan persenjataan perang lainnya yang digunakan oleh TKR melawan tentara Sekutu. Selain itu, juga dipajang persenjataan yang digunakan tentara Sekutu seperti tank, mobil angkut personil dan meriam, pesawat Mustang P-51 milik Belanda yang ditembak jatuh pasukan TKR.

Sudiri mengatakan, Monumen Palagan Ambarawa dan Museum Isdiman ini merupakan bangunan untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan pertempuran Palagan Ambarawa serta ketangguhan prajurit TKR dalam mengusir tentara Sekutu.

"Dengan senjata pokok bambu runcing yang dilantasi dengan tekat lebih baik mati dari pada dijajah lagi dan semangat pantang mundur, prajurit TKR akhirnya bisa mengusir penjajah. Kita tinggal menikmati hasil perjuangan dan jasa para pahlawan, maka dari itu mari kita rawat dan jaga bersama kelestarian Monumen Palagan," pungkasnya.
(nag)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Menekraf Dukung Festival...
Menekraf Dukung Festival Burger Dunia, Perkuat Ekosistem Kuliner Nasional
1 jam yang lalu
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
2 jam yang lalu
El Nino Bawa Kemarau...
El Nino Bawa Kemarau Lebih Kering, Puncaknya Agustus-September 2026
2 jam yang lalu
Kaesang Ungkap Dewan...
Kaesang Ungkap Dewan Pembina PSI Mulai Turun ke Daerah Akhir Juni
4 jam yang lalu
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
11 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
12 jam yang lalu
Infografis
Gaji Pokok Tentara Pakistan,...
Gaji Pokok Tentara Pakistan, Sersan Rp14 Juta Per Bulan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved