Dokter Moewardi, Pejuang Kemerdekaan yang Hilang Saat Bertugas

Minggu, 16 April 2017 - 05:00 WIB
Dokter Moewardi, Pejuang...
Dokter Moewardi, Pejuang Kemerdekaan yang Hilang Saat Bertugas
A A A
DI Solo, Jawa Tengah, ada sebuah rumah sakit yang diberi nama Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Nama rumah sakit itu diambil dari nama seorang pahlawan nasional, Dokter Moewardi. Siapa Moewardi?

Dalam catatan perjalanan bangsa, banyak jasa Moewardi bagi negeri ini. Pria kelahiran Pati, 30 Januari 1907 itu merupakan putra ketujuh dari pasangan Sastrowardojo dan Roepeni, seorang mantri guru.

Sewaktu belajar di STOVIA, Moewardi menunjukkan perhatiannya yang besar kepada pergerakan pemuda. la seorang Jong Java dan giat di dalam kepanduannya.

Peleburan Jong Java bersama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda ke daerah lainnya ke dalam Indonesia Muda yang berdasar kebangsaan Indonesia, berakibat Kepanduan Jong Java menjelma menjadi Pandu Kebangsaan. Moewardi terpilih menjadi ketua umumnya hingga Pandu Kebangsaan berganti nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Meski menjadi dokter, Moewardi masih giat sebagai anggota Kwartir Besar hingga KBI dibubarkan oleh Jepang. Setelah KBI dibubarkan, nama Moewardi muncul dalam pembentukan Barisan Pelopor. Dia dipercaya sebagai pemimpin Barisan Pelopor Kotapraja Jakarta.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, sebelum pembacaan Proklamasi RI, Moewardi yang menjadi penanggung jawab keamanan khawatir rencana proklamasi diketahui oleh Jepang sebelum proklamasi dibacakan. Dia sempat meminta agar Soekarno atau Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu seorang diri. Tapi, Bung Karno menolak dan tetap menunggu kedatangan Bung Hatta.

Setelah Bung Karno menjadi Presiden hendak menyusun kabinet, Moewardi mendapat tawaran langsung dari Bung Karno untuk menjadi menteri pertahanan. Tapi, Moewardi menolak karena hendak meneruskan kariernya sebagai dokter.

Saat Pemerintahan Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946, Pengurus Barisan Pelopor mengadakan perundingan untuk memindahkan markasnya. Keputusan bulat dicapai untuk memindahkan markas ke Solo.

Pemindahan Markas Besar Barisan Pelopor ditandai kongres di Solo. Dalam kongres itu diputuskan pergantian namanya menjadi 'Barisan Banteng Republik Indonesia'. Moewardi terpilih jadi pemimpin umum. Dia lalu meluaskan sayap Barisan Banteng.

Singkat cerita, pada 13 September 1948, Moewardi bangun pagi sekali karena akan melakukan operasi di Rumah Sakit Jebres. Sebelum berangkat, Moewardi cerita kepada istrinya bahwa dua orang anak buahnya telah diambil atau diculik. Seperti diketahui, pada bulan September 1948 ini pula terjadi Peristiwa Madiun, yakni pemberontakan komunis.

Istri Moewardi, Susilowati, mengingatkan sang suami agar berhati-hati. Moewardi berangkat dengan berpamitan pada istrinya: "Wis yo jeng" (Sudah ya, adinda). Baru sampai di pintu depan, Moewardi kembali karena ada sesuatu yang ketinggalan, lalu berangkat lagi sambil berpamitan dengan kata-kata yang sama.

Dari rumah, Moewardi mampir di Markas Besar Barisan Banteng. Anggota-anggota stafnya masih berkesempatan minta agar Pak Dokter Moewardi jangan pergi. Namun, Moewardi tidak sampai hati menunda operasi pasiennya yang sudah ditentukannya lebih dahulu. Maka, pergilah ia dengan naik andong.

Perjalanan naik andong ke Rumah sakit Jebres itulah perjalanan terakhir dari Moewardi menunaikan tugasnya sebagai dokter. Sejak itulah ia tidak kembali lagi, karena diculik dan dibawa entah ke mana.

Pencarian Moewardi segera dilakukan, namun sia-sia. Setiap kali ada berita dan tanda-tanda kemungkinan makam Moewardi, segera dilakukan pelacakan oleh putranya maupun kawan-kawan almarhum eks Barisan Banteng. Pencarian dan pelacakan yang telah dilakukan beberapa kali hingga kini tidak menunjukkan sesuatu titik terang.

Atas jasa dan perjuangannya, Moewardi dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan SK Presiden Nomor 190 Tahun 1964, tertanggal 4 Agustus 1964.

Sumber
: id.wikipedia.org dan www.pahlawancenter.com (diolah dari berbagai sumber).
(zik)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
7 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
52 menit yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
1 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
1 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
1 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved