Penjara Kalisosok, Sumur Ajaib, dan Tembok yang Tak Bisa Dipaku (Bagian 2)

Minggu, 02 September 2018 - 05:01 WIB
Penjara Kalisosok, Sumur...
Penjara Kalisosok kini terlihat lebih cerah dengan banyaknya mural di berbagai sisi tembok. Foto/SINDOnews/Ali Masduki
A A A
Ketika Sekutu mendarat di Surabaya, Kalisosok menjadi saksi sejarah keberanian rakyat Surabaya melawan pasukan Inggris. Pada 26 Oktober 1965, pasukan Inggris dibawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu Penjara Kalisosok untuk membebaskan seorang perwira Belanda, Kolonel Huiyer.

Di zaman Orde Baru, Penjara Kalisosok juga menjadi tempat ditahannya para tapol Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Banyak di antara mereka, sebelum dibuang ke Pulau Buru atau Nusakambangan, harus mendekam di Kalisosok.

Mohammad Sholeh, Aktivis Pro Demokrasi di pengujung kekuasaan Orde Baru, pernah merasakan dinginnya lantai Kalisosok. Ia menjadi penghuni di penjara legendaris yang terkenal dengan tahanan politiknya selama 1,5 tahun.

Di ruangan penjara berukuran 1,5x2,5 meter, nalar politik dan gerakan yang dibawanya tak luntur. Kebiasaannya membaca buku masih bisa disalurkan di dalam penjara.

Ia termasuk beruntung masih bisa menempati Blok E Penjara Kalisosok. Di blok tersebut, ia tak dijadikan satu dengan kumpulan penghuni penjara lainnya. Sebab, ia termasuk tahanan politik, sehingga pengajuannya untuk menempati Blok E diizinkan oleh sipir penjara.

"Di bagian paling belakang ada penjara khusus anak yang tak ada lampu penerangan. Ruang itu sengaja gelap untuk memberikan efek jera bagi anak yang terlibat kejahatan," jelasnya.

Saat menjadi musuh Orde Baru, Sholeh divonis Pengadilan Negeri (PN) Surabaya 4 tahun penjara pada 1996. Ia divonis bersama rekan satu organisasinya di Partai Rakyat Demokratik (PRD), Coen Husain Pontoh yang juga dijebloskan ke Kalisosok.

Setumpuk kenangan yang sulit dilupakannya dari Kalisosok. Momen yang paling sulit dihilangkan adalah ketika mandi di Kalisosok. Saat masih menjadi tahanan, ia mandi di sumur yang konon memiliki cerita panjang di masa silam. Air sumur itu dipercaya menyembuhkan jenis luka apa pun bagi orang yang mandi di sana.

"Jadi luka yang ada di tubuh cepat sembuh kalau mandi di sumur itu. Ini sudah menjadi kepercayaan di sana," jelasnya.

Pria yang saat ini berprofesi sebagai pengacara itu melanjutkan, tembok yang ada di Kalisosok tak bisa dipaku. Penjara warisan kolonial itu terkenal kuat meskipun dindingnya tak tebal. Ketebalan dinding penjara sebenarnya hanya 15 sentimeter. Namun, tembok itu tak bisa dipaku.

"Kalau mau membuat gantungan baju kulit tembok dilubangi dulu. Baru setelah itu kami memakai kayu dan lem untuk tempat baju. Paku yang ditancapkan tak akan bisa tembus, bisa langsung bengkong," tegasnya.

Baginya, menjadi penghuni penjara yang dikenal paling angker itu bukanlah cita-cita. Sejak awal ia selalu terbayang rasa ketakutan setelah pindah dari Rutan Medaeng. Selama 10 bulan, Sholeh sempat mendekam di Rutan Medaeng sebelum dipindah ke Kalisosok.

Di blok penjara yang sama, ia pernah satu blok dengan narapidana kasus pembunuhan dan penjahat kakap. Salah satunya dengan Sugik, narapidana yang divonis mati karena pembunuhan satu keluarga di Jojoran. Ada pula Prayit dan Sugeng, mertua dan menantu yang membunuh perwira TNI aktif. Mereka semua adalah terpidana mati.

"Kami berinteraksi seperti saudara dan saling peduli, awalnya sempat takut, tapi lama-lama Kalisosok menyenangkan. Apalagi waktu itu ada taman khusus yang indah di Blok E," ungkapnya.

Bagi Sholeh, Kalisosok dianggapnya sebagai sekolah ketimbang penjara. Di masa Orde Baru buku 'kiri' sempat dibatasi, namun di Kalisosok dia bebas memasukkan buku-buku bacaan beraliran 'kiri'. Bahkan, sarana hiburan seperti televisi juga bebas ditonton di lemari kamarnya.

Sholeh sendiri mengakui kalau banyak sumber ilmu yang bisa diserap otaknya ketika di Kalisosok. Dia bebas berdiskusi dengan semua orang yang lahir dari latar belakang beragam.

Kenangan kuat dari Kalisosok membuat Sholeh dengan para narapidana lain sering membuatnya kembali ke ke sana meskipun sudah bebas. Ia sendiri akhirnya bebas setelah mendapatkan amnesti dari Presiden BJ Habibie pada 1998.

"Saya tetap berharap penjara Kalisosok jangan dijual ke swasta. Banyak sejarah yang dibangun di sana. Jadi sangat disayangkan kalau sejarah itu dihilangkan. Kalisosok bisa menjadi wisata sejarah yang penuh dengan cerita di Surabaya," ucapnya. (Selesai)

(vhs)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
1 jam yang lalu
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
1 jam yang lalu
Kepala UPTD Diciptabintar...
Kepala UPTD Diciptabintar Pemkot Bandung Dorong Penegakan Aturan Pemanfaatan Ruang
3 jam yang lalu
JKF Fun Padel Competition...
JKF Fun Padel Competition 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Instansi di Jakarta
4 jam yang lalu
Isak Tangis Keluarga...
Isak Tangis Keluarga Kecelakaan Maut di Bekasi Timur: Saya Nggak Kuat Anaknya Masih Kecil
5 jam yang lalu
Manfaat MBG Dirasakan...
Manfaat MBG Dirasakan Petani dan Pedagang di Pedesaan dan Daerah 3T
5 jam yang lalu
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved