Sultanah Safiatuddin, Raja Perempuan Aceh yang Kuasai 4 Bahasa Sempat Ditentang Ulama
Jum'at, 16 Desember 2022 - 08:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Misteri 3 Sungai Besar yang Konon Mengapit Ibu Kota Kerajaan Pajajaran
Selain itu, juga terdapat berbagai karya sastra penting yang ditulis pada masa kekuasaannya. Syekh al-Islam Aceh Nuruddin ar-Raniri menulis setidaknya tujuh buku mengenai agama, sejarah, literatur, dan hukum, seperti Shiratul Mustaqim (Jalan Lurus), Syaiful-Qutub (Obat untuk Hati), dan Bustanul Salathin fi Dzikrilawwalin wal-Akhirin (Kebun Sultan mengenai Biografi Tokoh Masa Lalu dan Depan).
Safiatuddin juga menugaskan Abdul Rauf al-Singkel untuk menulis sebuah buku mengenai fikih, yang kini dikenal dengan sebutan Mir’at al Tullab. Buku yang diselesaikan pada tahun 1663 ini merupakan buku pertama mengenai hukum agama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Dengan perkembangan berbagai karya ini, sejarawan Sher Banu A.L. Khan berkomentar bahwa masa Sultanah Safiatuddin dapat dianggap sebagai "zaman keemasan Islam dan Melayu di Aceh yang tak tertandingi hingga kini"
Sang perempuan pertama penguasa Kesultanan Aceh Darussalam ini pun wafat pada 23 Oktober 1675. Sebagai pengganti raja yang bukan laki-laki, Sultanah Safiatuddin mendapat gelar Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam.
Sumber: dok.sindonews/inews/okezone
Selain itu, juga terdapat berbagai karya sastra penting yang ditulis pada masa kekuasaannya. Syekh al-Islam Aceh Nuruddin ar-Raniri menulis setidaknya tujuh buku mengenai agama, sejarah, literatur, dan hukum, seperti Shiratul Mustaqim (Jalan Lurus), Syaiful-Qutub (Obat untuk Hati), dan Bustanul Salathin fi Dzikrilawwalin wal-Akhirin (Kebun Sultan mengenai Biografi Tokoh Masa Lalu dan Depan).
Safiatuddin juga menugaskan Abdul Rauf al-Singkel untuk menulis sebuah buku mengenai fikih, yang kini dikenal dengan sebutan Mir’at al Tullab. Buku yang diselesaikan pada tahun 1663 ini merupakan buku pertama mengenai hukum agama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Dengan perkembangan berbagai karya ini, sejarawan Sher Banu A.L. Khan berkomentar bahwa masa Sultanah Safiatuddin dapat dianggap sebagai "zaman keemasan Islam dan Melayu di Aceh yang tak tertandingi hingga kini"
Sang perempuan pertama penguasa Kesultanan Aceh Darussalam ini pun wafat pada 23 Oktober 1675. Sebagai pengganti raja yang bukan laki-laki, Sultanah Safiatuddin mendapat gelar Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam.
Sumber: dok.sindonews/inews/okezone
(nic)
Lihat Juga :