Sultanah Safiatuddin, Raja Perempuan Aceh yang Kuasai 4 Bahasa Sempat Ditentang Ulama
Jum'at, 16 Desember 2022 - 08:34 WIB
loading...
A
A
A
Meski sebelumnya ditentang karena perempuan, namun Safiatuddin menunjukkan dirinya seorang pemimpin yang tangguh dan gagah berani.
Selama 35 memerintah, dia membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut bertempur di dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Sultanah Safiatuddin juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah.
Bukan hanya berani menentang penjajah, dia juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, sosok Sultanah Safiatuddin juga menguasai empat bahasa lain yakni Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.
Baca juga: Taman Putroe Phang, Kisah Cinta Sultan Iskandar Muda dengan Permaisuri Putri Kamaliah
Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat, sehingga di masa itu lahirlah karya-karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menampik usah-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Bahkan VOC pun tak berhasil memperoleh komoditas atas perdagangan timah dan komoditi lainnya.
Tak hanya itu, ia juga membuat peraturan untuk meningkatkan kedudukan kaum perempuan, sehingga saat itu tercipta keseteraan gender dan perlindungan kepada perempuan begitu tinggi. Salah satu aturan yang dibuat yakni Cap Sikureung, atau cap sembilan yaitu stempel sah Kesultanan Aceh Darussalam.
Pada masa pemerintahannya terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.
Selama 35 memerintah, dia membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut bertempur di dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Sultanah Safiatuddin juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah.
Bukan hanya berani menentang penjajah, dia juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, sosok Sultanah Safiatuddin juga menguasai empat bahasa lain yakni Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.
Baca juga: Taman Putroe Phang, Kisah Cinta Sultan Iskandar Muda dengan Permaisuri Putri Kamaliah
Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat, sehingga di masa itu lahirlah karya-karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menampik usah-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Bahkan VOC pun tak berhasil memperoleh komoditas atas perdagangan timah dan komoditi lainnya.
Tak hanya itu, ia juga membuat peraturan untuk meningkatkan kedudukan kaum perempuan, sehingga saat itu tercipta keseteraan gender dan perlindungan kepada perempuan begitu tinggi. Salah satu aturan yang dibuat yakni Cap Sikureung, atau cap sembilan yaitu stempel sah Kesultanan Aceh Darussalam.
Pada masa pemerintahannya terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.
Lihat Juga :