Bhinneka Tunggal Ika, Solusi Hayam Wuruk Selesaikan Persoalan Beda Agama di Kerajaan Majapahit
Selasa, 06 Desember 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, Hayam Wuruk berusaha memikirkan konsep agar perbedaan tidak menimbulkan konflik, tapi keindahan karena harmoni yang tercipta. Ia beruntung, sebab pada masanya, ada Mpu Tantular sang pujangga terkenal. Mpu inilah yang menuliskan konsep Bhinneka Tunggal Ika ini pada suatu kakawin yang berjudul Purudasanta, atau yang lebih dikenal dengan nama Sutasoma.
Kitab Sutasoma digubah antara tahun 1365 dan 1489. Kakawin Sutasoma ditulis menggunakan aksara Bali dalam bahasa Jawa Kuno, dengan bahan naskah terbuat dari daun lontar. Kitab berukuran 40,5 x 3,5 cm itu berisi 1.210 bait dalam 148 pupuh.
Kitab Sutasoma bercerita mengenai Pangeran Sutasoma. Inti cerita dalam kitab ini adalah pesan yang mengajarkan kenindaham toleransi beragama antara Hindu dan Buddha. Baca juga: Misteri Terbunuhnya Rombongan Pengantin Kerajaan Sunda di Tangan Pasukan Majapahit saat Perang Bubat
Pada bab atau pupuh 139 bait 5 dari Kakawin Sutasoma terdapat frasa Bhinneka Tunggal Ika. Lengkapnya tertulis, "Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".
Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia lebih kurang artinya begini, "Meskipun Buddha dan Siwa berbeda tetapi dapat dikenali. Sebab kebenaran Buddha dan Siwa adalah tunggal. Berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang mendua."
Kitab Sutasoma digubah antara tahun 1365 dan 1489. Kakawin Sutasoma ditulis menggunakan aksara Bali dalam bahasa Jawa Kuno, dengan bahan naskah terbuat dari daun lontar. Kitab berukuran 40,5 x 3,5 cm itu berisi 1.210 bait dalam 148 pupuh.
Kitab Sutasoma bercerita mengenai Pangeran Sutasoma. Inti cerita dalam kitab ini adalah pesan yang mengajarkan kenindaham toleransi beragama antara Hindu dan Buddha. Baca juga: Misteri Terbunuhnya Rombongan Pengantin Kerajaan Sunda di Tangan Pasukan Majapahit saat Perang Bubat
Pada bab atau pupuh 139 bait 5 dari Kakawin Sutasoma terdapat frasa Bhinneka Tunggal Ika. Lengkapnya tertulis, "Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".
Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia lebih kurang artinya begini, "Meskipun Buddha dan Siwa berbeda tetapi dapat dikenali. Sebab kebenaran Buddha dan Siwa adalah tunggal. Berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang mendua."
Lihat Juga :