Bhinneka Tunggal Ika, Solusi Hayam Wuruk Selesaikan Persoalan Beda Agama di Kerajaan Majapahit

Selasa, 06 Desember 2022 - 05:04 WIB
loading...
Bhinneka Tunggal Ika, Solusi Hayam Wuruk Selesaikan Persoalan Beda Agama di Kerajaan Majapahit
Raja Hayam Wuruk saat memerintah Majapahit menyadari adanya perbedaan. Bahwa perbedaan dari sisi agama yaitu Hindu dan Buda kala itu berpotensi menimbulkan disharmoni dalam kerajaan. Foto ilsutrasi
A A A
JAKARTA - Perbedaan atau kemajemukan, di satu sisi menghasilkan keindahan yang luar biasa. Orang kerap menganalogikan keindahan perbedaan seperti harmoni dalam musik. Musik yang indah terbentuk dari tangga nada yang berbeda, dinamika lembut dan keras, tempo pelan hingga cepat.



Di sisi lain, perbedaan kerap berpotensi menimbulkan disharmoni. Jika tidak dikelola dengan baik, maka potensi konflik akan menjadi nyata. Raja Hayam Wuruk saat memerintah Majapahit menyadari hal itu. Bahwa perbedaan dari sisi agama yaitu Hindu dan Buda kala itu berpotensi menimbulkan disharmoni dalam kerajaan yang dipimpinnya. Baca juga: Hayam Wuruk dan Usaha Menyatukan 3 Aliran Keyakinan di Kerajaan Majapahit

Sebagaimana dikutip dari "700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai" pada masa Kerajaan Majapahit hubungan antara agama Hindu Siwa dan agama Buddha Mahayana memang berdampingan begitu bagus. Namun fakta bahwa kedua agama itu terpisah satu dari yang lain.

Masing-masing agama mempunyai candi-candi yang berbeda dan terpisah, masing-masing bahkan mempunyai arca-arca pemujaan yang dapat dibedakan dengan jelas satu sama lain. Singkat cerita, saat itu konon permasalahan keagamaan tengah dihadapi Kerajaan Majapahit.

Karena itu, Hayam Wuruk berusaha memikirkan konsep agar perbedaan tidak menimbulkan konflik, tapi keindahan karena harmoni yang tercipta. Ia beruntung, sebab pada masanya, ada Mpu Tantular sang pujangga terkenal. Mpu inilah yang menuliskan konsep Bhinneka Tunggal Ika ini pada suatu kakawin yang berjudul Purudasanta, atau yang lebih dikenal dengan nama Sutasoma.

Kitab Sutasoma digubah antara tahun 1365 dan 1489. Kakawin Sutasoma ditulis menggunakan aksara Bali dalam bahasa Jawa Kuno, dengan bahan naskah terbuat dari daun lontar. Kitab berukuran 40,5 x 3,5 cm itu berisi 1.210 bait dalam 148 pupuh.

Kitab Sutasoma bercerita mengenai Pangeran Sutasoma. Inti cerita dalam kitab ini adalah pesan yang mengajarkan kenindaham toleransi beragama antara Hindu dan Buddha. Baca juga: Misteri Terbunuhnya Rombongan Pengantin Kerajaan Sunda di Tangan Pasukan Majapahit saat Perang Bubat

Pada bab atau pupuh 139 bait 5 dari Kakawin Sutasoma terdapat frasa Bhinneka Tunggal Ika. Lengkapnya tertulis, "Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia lebih kurang artinya begini, "Meskipun Buddha dan Siwa berbeda tetapi dapat dikenali. Sebab kebenaran Buddha dan Siwa adalah tunggal. Berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang mendua."

Konon karya besar Mpu Tantular membuat situasi kedua agama itu harmonis. Dengan situasi yang kondusif, Raja Hayam Wuruk bisa menjalankan pemerintahan, cita-cita menyatukan Nusantara terwujud.

Apa yang dihasilkan Majapahit melalui karya pujangga besar Mpu Tantular itu menjadi sumber inspirasi bagi para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang juga menyadari perbedaan sebagai keniscayaan.

Maka sama seperti Hayam Wuruk, raja Kerajaan Majapahit, pendiri NKRI juga menjadikan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai solusi mengelola perbedaan.
(don)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3884 seconds (10.177#12.26)