alexametrics

Cerita Pagi

Kisah Sultan Agung, Imogiri, dan Segenggam Tanah dari Mekkah

loading...
Kisah Sultan Agung, Imogiri, dan Segenggam Tanah dari Mekkah
Tempat pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri. (Ist)
A+ A-
Ada kisah menarik dari pembangunan makam raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram di Dusun Pajimatan, Desa Giriloyo, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisah ini sering dituturkan oleh pemandu dan juru kunci pasareyan soal legenda kesaktian Sultan Agung dan proses pembangunan Pasareyan Pajimatan Imogiri atau lebih dikenal Makam Imogiri ini.

Dalam satu versi dikisahkan, berkat tingginya ilmu kanuragan yang dimilikinya, Sultan Agung selalu menjalankan salat Jumat di Makkah al Mukarramah yang berjarak ribuan kilometer dari Pulau Jawa.

Sering hadir dan merasakan kedamaian di tanah suci umat Islam ini, memunculkan hasrat bagi Sang Raja Jawa ini untuk dapat dimakamkan disana, suatu saat kelak jika dipanggil Allah SWT.

Konon pada suatu hari setelah selesai menunaikan salat Jumat di Mekkah, Sultan Agung bercakap-cakap dengan ulama Mekkah Imam Sufingi yang juga merupakan pejabat.

Sultan Agung menyatakan keinginannya kepada Imam Sufingi untuk membangun makam di Kota Mekkah di sebelah Barat makam Nabi Muhammad SAW.

Namun Imam Sufingi menolak secara halus permintaan Sultan Agung. Alasannya bahwa Sultan Agung adalah raja Jawa sehingga jika wafat, rakyat di tanah Jawa tidak bisa dengan mudah berziarah ke makamnya.

Sehingga oleh ulama Arab tersebut Sultan Agung disarankan untuk membuat pemakaman di tanah kelahirannya.

Kemudian ulama Arab tersebut memberikan segenggam tanah dari Mekkah kepada Sultan Agung. Kepada Sultan Mataram ini sang Ulama menyarankan agar tanah ini dilemparkannya saat tiba di tanah Jawa.

Ulama tersebut mengatakan, dimana tanah itu jatuh dan berbau harum, disitulah tempat terbaik yang pantas menjadi makamnya.

Konon setelah Sultan Agung kembali ke tanah Jawa, sebagian tanah itu lalu dilemparkannya dan jatuh di sebuah bukit di sebelah selatan istananya di Kerta.

Sultan Agung lalu memerintahkan untuk membangun pesareyan di bukit yang kemudian dikenal dengan nama Giriloyo itu.

Namun ketika pembangunan makam di Giriloyo itu tengah dikerjakan, salah satu paman Sultan Agung yang bernama Gusti Pangeran Juminah mengajukan permintaan kepada Sultan Agung agar jika dia wafat dimakamkan di tempat berbau harum itu.

Atas permintaan tersebut Sultan Agung berkata bahwa sebaiknya sekarang sajalah Pangeran Juminah meninggal dan segera dimakamkan di Giriloyo. Tak lama kemudian pamannya itu meninggal dan akhirnya dimakamkan di Giriloyo.

Karena lokasi makam di Giriloyo telah digunakan untuk memakamkan pamannya, maka Sultan Agung berencana membuat makam baru buat dirinya dan keturunannya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak