Pulau Serangan Jadi Lokasi Bio-Energetic Architecture di G20 Bali
Senin, 14 November 2022 - 04:27 WIB
loading...
Kura Kura Bali, Pulau Serangan, Denpasar, Bali jadi lokasi penyelenggaraan Bio-Energetic Architecture selama penyelenggaraan pertemuan puncak G20. Foto/Ilustrasi/Kemenkeu
A
A
A
DENPASAR - Kura Kura Bali, Pulau Serangan, Denpasar, Bali jadi lokasi penyelenggaraan Bio-Energetic Architecture selama penyelenggaraan pertemuan puncak G20 pada Senin-Minggu (14-20/11/2022). Event ini selanjutnya terbuka untuk umum.
Bio-Arsitektur merupakan seni dan ilmu merancang ruang yang terilhami dari prinsip energik alami. Pameran ini menampilkan bahan-bahan alami terbuat dari limbah pertanian dan produk sampingan. Sehingga diharapkan dapat membantu memperbaiki energi rumah atau tempat kerja sehingga menciptakan ruangan yang lebih sehat.
Baca juga: Energi Bersih Jadi Pokok Bahasan di G20
"Secara ilmiah telah dibuktikan, berdasarkan prinsip arisitektur bio-energik kita akan mendapatkan keseimbangan dalam hidup saat dikelilingi oleh bahan-bahan energik alami," kata Vice President United in Diversity (UID), Suyoto selaku penyelenggara dalam keterangannya, Minggu (13/11/2022).
Di Bio-Energetic Architecture ini dikembangkan sebuah bangunan bio-living hibrida dengan struktur atap, dinding, dan lantai yang terbuat dari basalt, bubur kertas daur ulang, dan diperkuat oleh bio-epoksi alami.
Bahan-bahan tersebut membentuk sebuah struktur hibrida yang kuat, dengan 2,5 kali lebih kuat dari baja paduan dan 1,5 kali kekuatan serat kaca. Basalt 4 kali lebih ringan dari baja, namun 2,5 kali lebih kuat.
Baca juga: G20 Momentum Tepat Bangkitkan Pariwisata Indonesia
Pameran ini juga menampilkan beberapa contoh bahan-bahan limbah pertanian yang digunakan untuk industri bangunan, serta panel surya terbuat dari limbah papaya dan furnitur dari jagung.
Bio-Arsitektur merupakan seni dan ilmu merancang ruang yang terilhami dari prinsip energik alami. Pameran ini menampilkan bahan-bahan alami terbuat dari limbah pertanian dan produk sampingan. Sehingga diharapkan dapat membantu memperbaiki energi rumah atau tempat kerja sehingga menciptakan ruangan yang lebih sehat.
Baca juga: Energi Bersih Jadi Pokok Bahasan di G20
"Secara ilmiah telah dibuktikan, berdasarkan prinsip arisitektur bio-energik kita akan mendapatkan keseimbangan dalam hidup saat dikelilingi oleh bahan-bahan energik alami," kata Vice President United in Diversity (UID), Suyoto selaku penyelenggara dalam keterangannya, Minggu (13/11/2022).
Di Bio-Energetic Architecture ini dikembangkan sebuah bangunan bio-living hibrida dengan struktur atap, dinding, dan lantai yang terbuat dari basalt, bubur kertas daur ulang, dan diperkuat oleh bio-epoksi alami.
Bahan-bahan tersebut membentuk sebuah struktur hibrida yang kuat, dengan 2,5 kali lebih kuat dari baja paduan dan 1,5 kali kekuatan serat kaca. Basalt 4 kali lebih ringan dari baja, namun 2,5 kali lebih kuat.
Baca juga: G20 Momentum Tepat Bangkitkan Pariwisata Indonesia
Pameran ini juga menampilkan beberapa contoh bahan-bahan limbah pertanian yang digunakan untuk industri bangunan, serta panel surya terbuat dari limbah papaya dan furnitur dari jagung.
(shf)
Lihat Juga :