Nestapa Korban Luka Tragedi Kanjuruhan: Hilang Ingatan dan Trauma Berat
Sabtu, 12 November 2022 - 07:25 WIB
loading...
A
A
A
"Saya nggak tahu ini karena memang anaknya yang nggak mau ngomong dan mengingatnya atau karena ada kendala. Tapi memang ingatan belum normal, ingatnya masih sekolah, padahal sudah bekerja, masih belum penuh ingatannya," paparnya.
Kondisi kakinya juga masih terbalut gips pasca operasi. Sang anak baru kontrol sekali di RSSA Malang dan kembali lagi kontrol pada 18 November 2022 ini. Rencananya bila hasil perawatan lukanya bagus gips itu akan dilepas enam pekan pasca operasi di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tersebut.
"Baru kontrol sekali, ini kembali tanggal 18 bulan ini, kontrol untuk kaki, yang kepalanya nggak apa-apa kata dokter, MRI-nya kata juga bagus. Lepas gips katanya enam minggu pasca operasi, kalau copot pen 6 - 7 bulan," tuturnya.
Perempuan berusia 40 tahun ini juga mengeluhkan anaknya yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan masih kerap tidak bisa tidur. Sang anak masih terlihat trauma dan kerap kali tak nyambung jika diajak bicara. Etik masih ingat betul bagaimana ia melihat sang anak koma selama 10 hari di RSSA Malang dan berada di ruang ICU selama 14 hari.
Alhasil kondisi psikologis Etik pun juga terguncang, apalagi selama sebulan lebih merawat Etik, ia sendiri yang harus wira-wiri mengobati anaknya dikarenakan sang suami tengah bekerja di luar kota. Sayang sang ia dan anak sama sekali belum mendapat layanan konseling psikolog.
Kondisi kakinya juga masih terbalut gips pasca operasi. Sang anak baru kontrol sekali di RSSA Malang dan kembali lagi kontrol pada 18 November 2022 ini. Rencananya bila hasil perawatan lukanya bagus gips itu akan dilepas enam pekan pasca operasi di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tersebut.
"Baru kontrol sekali, ini kembali tanggal 18 bulan ini, kontrol untuk kaki, yang kepalanya nggak apa-apa kata dokter, MRI-nya kata juga bagus. Lepas gips katanya enam minggu pasca operasi, kalau copot pen 6 - 7 bulan," tuturnya.
Perempuan berusia 40 tahun ini juga mengeluhkan anaknya yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan masih kerap tidak bisa tidur. Sang anak masih terlihat trauma dan kerap kali tak nyambung jika diajak bicara. Etik masih ingat betul bagaimana ia melihat sang anak koma selama 10 hari di RSSA Malang dan berada di ruang ICU selama 14 hari.
Alhasil kondisi psikologis Etik pun juga terguncang, apalagi selama sebulan lebih merawat Etik, ia sendiri yang harus wira-wiri mengobati anaknya dikarenakan sang suami tengah bekerja di luar kota. Sayang sang ia dan anak sama sekali belum mendapat layanan konseling psikolog.
Lihat Juga :