Dosen FK Unair Beri Edukasi DBD kepada Masyarakat Bintan Kepri

Kamis, 10 November 2022 - 15:17 WIB
loading...
Dosen FK Unair Beri Edukasi DBD kepada Masyarakat Bintan Kepri
Dosen FK Unair Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes saat mengedukasi masyarakat Desa Pengudang, Kecamatan Sebong, Kabupaten Bintan.Foto/ist
A A A
BINTAN - Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan serius di beberapa wilayah Indonesia. Data Kemenkes per 15 Juni lalu ditemukan 45.387 kasus. Sementara jumlah kematian akibat DBD mencapai 432 kasus.

Tingginya kasus ini mendorong pakar kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes selalu mengedukasi masyarakat di setiap kesempatan.

Melalui acara Airlangga Community Development Hub (ACDH) 2022 di Desa Pengudang, Kecamatan Sebong, Kabupaten Bintan, Riau, pada 19 hingga 22 Juni lalu Sulis memberikan penyuluhan mengenai DBD dan pencegahannya kepada ibu-ibu.

“DBD ini menjadi perhatian bersama karena setiap tahun kasusnya ada. Apalagi memasuki musim peralihan menuju ke hujan,” terang Sulis, Kamis (10/11/2022).

Baca juga: Memilukan! Demi Makan Keluarga, Petugas Kebersihan Curi Bahan Pokok di Pasar

Acara ACDH 2022 ini menggandeng berbagai fakultas di Universitas Airlangga. Dokter Sulis sendiri bergabung dalam klaster kesehatan bersama dosen dari Fakultas Keperawatan dan Fakultas Psikologi.

Selain Sulis, Fakultas Kedokteran juga menerjunkan Linda Dewanti,dr., M.Kes, MHSC., Ph.D yang memberikan edukasi mengenai pneumonia dan diare pada anak-anak.

Tak hanya fakultas-fakultas kesehatan, Fakultas sosial seperti ekonomi dan bisnis juga bergabung untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat terutama ibu-ibu di Bintan.

“Pengmas ini memang sasarannya adalah ibu dan balita. Kami berharap terjadi peningkatan kesehatan dan ekonomi untuk ibu-ibu di Kepulauan Riau ini,” tukasnya.

Anak Obesitas Rentan DBD Berat
Sebelum era 60-an, DBD banyak menjangkit anak-anak di bawah 15 tahun. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran. Kini orang dewasa pun juga memiliki resiko sama besarnya. Kendati demikian, tingkat keparahan antara pasien satu dan yang lain akan berbeda.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2413 seconds (11.97#12.26)