Sempat Terpuruk karena Covid-19 hingga Dapat Rapor Merah, Pendidikan di Batanghari Bangkit
Kamis, 20 Oktober 2022 - 02:29 WIB
loading...
A
A
A
Akibatnya, pendidikan hanya diserahkan kepada guru di sekolah. Yang menjadi soal, Batanghari saat ini kekurangan tenaga pengajar berkualitas hingga sebanyak 950 orang dan harus ditutupi dengan honorer.
"Untuk tenaga pengajar, kita juga masih kekurangan orang. Kebutuhan guru masih kurang 950 orang lagi. Akhirnya kita menutupinya dengan pengangkatan P3K 950 orang dan sedang proses," terangnya.
Baca: Mewujudkan Merdeka Belajar Butuh Merdeka Jaringan Internet
Maka itu, pemerintah daerah merasa sangat terbantu dengan kehadiran Tanoto Foundation (TF) yang telah bermitra dengan mereka. Di mana, para guru dilatih menjadi tenaga pendidikan yang berkualitas.
Sedikitnya, ada sebanyak 24 sekolah tingkat SD dan SMP sederajat yang telah menjadi mitra TF. Terdiri dari 16 SDN dan 8 SMPN yang dua di antaranya sekolah madrasah.
Dari 24 sekolah mitra itu, sebanyak 32 guru dan kepala sekolah di antaranya telah mendapatkan pelatihan peningkatan kualitas belajar mengajar dari TF. Para guru inilah yang menjadi tenaga penggerak pendidikan.
Metty Hartina, salah seorang guru tersebut mengatakan, saat pandemi Covid-19, para guru sempat bingung. Mereka tidak tahu cara mengajar siswa di masa pagebluk itu.
Baca: Nobel Indonesia Dorong Mahasiswa Ikut Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka
"Ketika pemerintah pusat melakukan pembatasan sekolah, kami bingung, baru setelah mengikuti pelatihan TF, kami tahu menghadapi pengajaran saat pandemi," katanya, kepada SINDOnews.
Namun, fakta di lapangan yang sangat kompleks membuat para guru harus lebih kreatif dalam mengajar para siswa.
"Ternyata banyak kendalanya, banyak guru kita yang tidak terbiasa dengan zoom. Kendala lain muncul, banyak siswa kita yang daerahnya sulit sinyal. Akhirnya, kami juga menyiapkan pelajaran luring," paparnya.
"Untuk tenaga pengajar, kita juga masih kekurangan orang. Kebutuhan guru masih kurang 950 orang lagi. Akhirnya kita menutupinya dengan pengangkatan P3K 950 orang dan sedang proses," terangnya.
Baca: Mewujudkan Merdeka Belajar Butuh Merdeka Jaringan Internet
Maka itu, pemerintah daerah merasa sangat terbantu dengan kehadiran Tanoto Foundation (TF) yang telah bermitra dengan mereka. Di mana, para guru dilatih menjadi tenaga pendidikan yang berkualitas.
Sedikitnya, ada sebanyak 24 sekolah tingkat SD dan SMP sederajat yang telah menjadi mitra TF. Terdiri dari 16 SDN dan 8 SMPN yang dua di antaranya sekolah madrasah.
Dari 24 sekolah mitra itu, sebanyak 32 guru dan kepala sekolah di antaranya telah mendapatkan pelatihan peningkatan kualitas belajar mengajar dari TF. Para guru inilah yang menjadi tenaga penggerak pendidikan.
Metty Hartina, salah seorang guru tersebut mengatakan, saat pandemi Covid-19, para guru sempat bingung. Mereka tidak tahu cara mengajar siswa di masa pagebluk itu.
Baca: Nobel Indonesia Dorong Mahasiswa Ikut Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka
"Ketika pemerintah pusat melakukan pembatasan sekolah, kami bingung, baru setelah mengikuti pelatihan TF, kami tahu menghadapi pengajaran saat pandemi," katanya, kepada SINDOnews.
Namun, fakta di lapangan yang sangat kompleks membuat para guru harus lebih kreatif dalam mengajar para siswa.
"Ternyata banyak kendalanya, banyak guru kita yang tidak terbiasa dengan zoom. Kendala lain muncul, banyak siswa kita yang daerahnya sulit sinyal. Akhirnya, kami juga menyiapkan pelajaran luring," paparnya.
Lihat Juga :