Mengembalikan Identitas Sejati Kota Medan sebagai Kota Perdagangan dan Saudagar
Minggu, 05 Juli 2020 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Masyhurnya Kota Medan pada masa lampau dapat dibuktikan dengan sejumlah bukti sejarah.
Sejarawan asal Kota Medan Ichwan Azhari mengatakan, ribuan coin yang sudah disebutkan diatas tadi berasal dari berbagai negara.
Nah coin yang ditemukan itulah sebagai bukti adanya transaksi perdagangan, terutama di utara Medan.
Di kawasan itu juga ditemukan ratusan ribu fragmen keramik, tembikar, manik- manik dari India Selatan, China, Siam, Jawa, juga kaca asal Timur Tengah. "Ini merupakan komoditi perdagangan dari luar yang didatangkan ke Medan Utara," kata sejarawan Ichwan Azhari saat menekankan bahwa Medan adalah kota perdagangan. (BACA JUGA: Penyerbuan Kapal Belanda oleh Raden Mattaher dan Pasukannya)
Bukti lainnya bahwa Medan adalah kota perdagangan yakni adanya komoditi lokal yang dibutuhkan pasar internasional dari Kota Medan, persisnya di Cotta Cinna saat itu, ungkap Ichwan, antara lain gading gajah, hasil hutan seperti damar, kemenyan, kapur barus, cendana, dan jenis rempah-rempah lainnya. Terdeteksi juga bahwa emas menjadi salah satu komiditi utama.
"Butiran atau pasir emas dibawa dari pedalaman Sumatera ke Cotta Cinna, untuk dilebur dan dijadikan perhiasan bermutu tinggi menggunakan teknologi pengrajin emas dari India Selatan. Ratusan cepuk tembikar sebagai wadah untuk melebur emas ditemukan dan juga disimpan di museum. Ini mengindikasikan ramainya Medan Utara sebagai pusat industri peleburan emas sejak zaman kuno. Ada 40 fragmen ceceran dari pengrajin emas yang dikoleksi museum sebagai bukti munculnya Medan Utara sebagai pusat peleburan dan perdagangan emas dunia," ungkapnya. (BACA JUGA: Kisah Perlawanan Raja Haji Fisabilillah terhadap Belanda)
Kejayaan bagian utara Kota Medan juga pernah tersohor sebagai pusat perdagangan internasional melalui jalur Sungai Deli hingga Pelabuhan Belawan, sekitar abad 17 hingga awal abad 20 lalu.
Sejarawan asal Kota Medan Ichwan Azhari mengatakan, ribuan coin yang sudah disebutkan diatas tadi berasal dari berbagai negara.
Nah coin yang ditemukan itulah sebagai bukti adanya transaksi perdagangan, terutama di utara Medan.
Di kawasan itu juga ditemukan ratusan ribu fragmen keramik, tembikar, manik- manik dari India Selatan, China, Siam, Jawa, juga kaca asal Timur Tengah. "Ini merupakan komoditi perdagangan dari luar yang didatangkan ke Medan Utara," kata sejarawan Ichwan Azhari saat menekankan bahwa Medan adalah kota perdagangan. (BACA JUGA: Penyerbuan Kapal Belanda oleh Raden Mattaher dan Pasukannya)
Bukti lainnya bahwa Medan adalah kota perdagangan yakni adanya komoditi lokal yang dibutuhkan pasar internasional dari Kota Medan, persisnya di Cotta Cinna saat itu, ungkap Ichwan, antara lain gading gajah, hasil hutan seperti damar, kemenyan, kapur barus, cendana, dan jenis rempah-rempah lainnya. Terdeteksi juga bahwa emas menjadi salah satu komiditi utama.
"Butiran atau pasir emas dibawa dari pedalaman Sumatera ke Cotta Cinna, untuk dilebur dan dijadikan perhiasan bermutu tinggi menggunakan teknologi pengrajin emas dari India Selatan. Ratusan cepuk tembikar sebagai wadah untuk melebur emas ditemukan dan juga disimpan di museum. Ini mengindikasikan ramainya Medan Utara sebagai pusat industri peleburan emas sejak zaman kuno. Ada 40 fragmen ceceran dari pengrajin emas yang dikoleksi museum sebagai bukti munculnya Medan Utara sebagai pusat peleburan dan perdagangan emas dunia," ungkapnya. (BACA JUGA: Kisah Perlawanan Raja Haji Fisabilillah terhadap Belanda)
Kejayaan bagian utara Kota Medan juga pernah tersohor sebagai pusat perdagangan internasional melalui jalur Sungai Deli hingga Pelabuhan Belawan, sekitar abad 17 hingga awal abad 20 lalu.
Lihat Juga :