Gayatri Rajapatni, Penguasa Majapahit yang Memilih Menjadi Biksu daripada Ratu
Senin, 03 Oktober 2022 - 05:51 WIB
loading...
A
A
A
Bersama dengan Raden Wijaya, Gayatri menyusun strategi untuk membangun sebuah tatanan pemerintahan di atas sisa kejayaan Kerajaan Singasari. Putri yang digambarkan sebagai sosok Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan Tertinggi ini berhasil melahirkan pemimpin Majapahit.
Para pemimpin Majapahit itu, bukan saja yang lahir dari rahimnya, tapi juga dari kebijaksanaan dan akal budi Gayatri. Dia adalah sosok di belakang nama besar Raden Wijaya, Gadjah Mada, Ratu Tribhuwana, hingga Raja Hayam Wuruk.
Dalam buku ini, digambarkan Gayatri Rajapatni lebih memilih untuk tidak menjadi Raja Majapahit saat raja kedua Majapahit Jayanegara wafat. Dia justru menjadikan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi sebagai raja ketiga Kerajaan Majapahit.
Langkah bijak tersebut diambil karena berbagai alasan, salah satunya karena Gayatri tidak ingin sengketa internal di masa lalu berlanjut, mengingat ia adalah putri Raja Singasari.
Alasan lainnya adalah karena Gayatri telah memasuki masa bhiksuni. Gayatri dengan kearifannya lebih memilih menjadi ibu suri, dan memastikan Kerajaan Majapahit dijalankan oleh orang-orang yang tepat. Seperti bagaimana ia menjadikan seorang Gadjah Mada, yang merupakan rakyat biasa menjadi Mahapatih.
Baca juga: Tak Kuat Tahan Nafsu, Pasangan Selingkuh Berstatus ASN Guru Nekat Bersetubuh di Tepi Jalan
Ia tidak hanya menuruti kehendak egonya semata untuk menjadi pemimpin, tetapi ia memikirkan masa depan Kerajaan Majapahit. Gayatri dengan lelaku hidupnya, sungguh telah memberikan inspirasi nyata bagi perempuan bahkan di masa kini.
Peranan Gayatri dalam Perjuangan Kitab Pararaton, menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri.
Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, Raden Wijaya menikahi Mahadewi, dan Jayendradewi.
Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri.
Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali. Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang.
Baca juga: Nyala Lilin dan Doa Bonek untuk Aremania Korban Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
Para pemimpin Majapahit itu, bukan saja yang lahir dari rahimnya, tapi juga dari kebijaksanaan dan akal budi Gayatri. Dia adalah sosok di belakang nama besar Raden Wijaya, Gadjah Mada, Ratu Tribhuwana, hingga Raja Hayam Wuruk.
Dalam buku ini, digambarkan Gayatri Rajapatni lebih memilih untuk tidak menjadi Raja Majapahit saat raja kedua Majapahit Jayanegara wafat. Dia justru menjadikan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi sebagai raja ketiga Kerajaan Majapahit.
Langkah bijak tersebut diambil karena berbagai alasan, salah satunya karena Gayatri tidak ingin sengketa internal di masa lalu berlanjut, mengingat ia adalah putri Raja Singasari.
Alasan lainnya adalah karena Gayatri telah memasuki masa bhiksuni. Gayatri dengan kearifannya lebih memilih menjadi ibu suri, dan memastikan Kerajaan Majapahit dijalankan oleh orang-orang yang tepat. Seperti bagaimana ia menjadikan seorang Gadjah Mada, yang merupakan rakyat biasa menjadi Mahapatih.
Baca juga: Tak Kuat Tahan Nafsu, Pasangan Selingkuh Berstatus ASN Guru Nekat Bersetubuh di Tepi Jalan
Ia tidak hanya menuruti kehendak egonya semata untuk menjadi pemimpin, tetapi ia memikirkan masa depan Kerajaan Majapahit. Gayatri dengan lelaku hidupnya, sungguh telah memberikan inspirasi nyata bagi perempuan bahkan di masa kini.
Peranan Gayatri dalam Perjuangan Kitab Pararaton, menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri.
Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, Raden Wijaya menikahi Mahadewi, dan Jayendradewi.
Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri.
Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali. Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang.
Baca juga: Nyala Lilin dan Doa Bonek untuk Aremania Korban Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
Lihat Juga :