8 Tempat Lokalisasi dan Prostistusi yang Melegenda
Sabtu, 04 Juli 2020 - 11:43 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan pantauan, "surga" para hidung belang itu terlihat sepi. Di depan gerbang Jalan Kebon Tangkil, akses masuk area lokalisasi tertua di Kota Bandung tersebut, terpasang plang nama Pondok Pesantren Daarut Taubah.
Ponpes ini sengaja didirikan di tengah eks lokalasasi Saritem dengan maksud dan tujuan menghilangkan imej negatif kawasan itu sebagai tempat transaksi seksual antara pria hidung belang dan pekerja seks komersial (PSK).
Di depan gebang masuk Saritem, tampak tukang tambal ban mangkal. Terlihat pula pak ogah siaga membantu pengendara keluar masuk jalan tersebut.
Tak tampak lagi perempuan-perempuan muda dengan dandanan menor dan wewangian yang menusuk hidung. Saritem kini menjadi kampung biasa padat penduduk.
Warga sekitar mengaku, Saritem tak seramai dulu. Kini warga Saritem mmenjalani hidup "normal". Namun tak dipungkiri masih ada yang menyewakan kamar-kamar atau tempat untuk transksi seksual.
4.Sunan Kuning
Semenjak ditutup pada Oktober 2019 lalu, sudah tidak ada lagi praktik prostitusi di lingkungan Sunan Kuning atau Kampung Argorejo, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Sekarang kampung tersebut jadi tempat kuliner. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, Pemkot Semarang kerap menggelar kegiatan di kampung tersebut.
![8 Tempat Lokalisasi dan Prostistusi yang Melegenda]()
Sebelum ditutup, nama lokalisasi Sunan Kuning sangat tenar. Praktik prostituasi ditempat tersebut buka sejak pagi hingga malam. Bahkan pengunjungnya dari berbagai daerah. Mereka sengaja datang untuk menikmati surga dunia mulai karaoke, minuman keras hingga layanan seks yang dijajakan di kompleks lokalisasi tersebut.
Namun kini, tempat tersebut telah berubah menjadi kawasan bisnis. Sejumlah pemilik usaha hiburan malam di tempat tersebut juga sudah beralih profesi, seperti berdagang. Pemkot Semarang pun berupaya keras untuk merubah pandangan masyarakat terhadap eks lokalisasi Sunan Kuning dan menghidupkan kembali perekonomian di kawasan tersebut.
Ketua RW 4 Argorejo, Kelurahan Kalibanteng Kulon Suwandi mengatakan, kehidupan di eks lokalisasi Sunan Kuning sudah berubah total. Sudah tidak ada lagi prostitusi dan gemerlap dunia malam. "Dulu warga saya tiarap karena SK (sunan kuning) ditutup. Kini mereka sudah bergerak untuk menata kehidupan yang lebih baik," ujarnya.
Dia berharap, Pemkot Semarang terus mendorong dan membantu membangkirkan perekonimian warga. Warga minta Pemkot Semarang terus terus turun tangan memberikan berbagai pelatihan dan kegiatan hingga masyarakat benar-benar bisa kembali mandiri.
"Selama ini sudah ada pelatihan masak, tata boga, membuat batik dan lainnya dari Pemkot Semarang. Kami berharap kegiatan untuk mengningkatka perekonomian masyarakat bisa terus berlanjut," ujarnya.
Camat Semarang Barat Heru Soekendar mengatakan, kini kawasan Sunan Kuning sudah berubah menjadi tempat kegiatan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. "Berbagai kegiatan telah dilaksanakan untuk mewujudkan Sunan Kuning menjadi destinasi wisata kuliner dan religi," tandasnya.
5. Patok Besi
Bagi anda yang berdomisili di sekitar Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Muratara, apa yang terlintas di pikiran anda jika mendengar kata "Patok Besi”. Ya… bagi sebagian orang, kata itu akan membawa alam pikirannya menuju suatu tempat atau kompleks lokalisasi yang berada di RT.07, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
![8 Tempat Lokalisasi dan Prostistusi yang Melegenda]()
Salah satu Tokoh Pemuda di daerah Sumber Agung Bayu Sembiring mengatakan, Patok besi itu dan lokalisasi-lokalisasi lainnya sebenarnya merupakan bentuk konfirmasi dari pemerintah kita yang belum berhasil membawa kesejahteraan ke semua lini kehidupan masyarakatnya.
“Karena di sana alasan mayoritasnya karena kebutuhan ekonomi yang mendesak, pendidikan yang kurang berpihak, dan longgarnya peraturan tentang hal2 yang menyangkut sosial,” katanya.
Jadi menurut Bayu, Patok besi itu 'korban atau akibat' dari sistem pemerintahan yang masih harus banyak berbenah. Lalu apa yang pantas kita lakukan untuk korban atau akibat? Selamatkan. Bukan dijauhi apalagi dicaci maki.
Sedangkan menurut Ersak Dianto, salah satu pemangku adat Kelurahan Sumber Agung menjelaskan sejarah penamaan Patok Besi bagi Kelurahan Sumber Agung. Bagaimana bisa Patok Besi justru menjadi "Brand" bagi lokalisasi yang dibuka sejak Desember 1985 itu.
"Nah pada tahun 1985 lokalisasi yang awalnya berada di daerah Talang Ban - Mesat. Lokalisasi ini dipindahkan ke desa kami karena lokalisasi Mesat berada di tengah kota waktu itu. Sehingga dibuatlah keputusan memindahkan lokalisasi ke tempat yang belum ramai yaitu salah satu sudut di desa kami, Desa Sumber Agung," sambung Ersak, yang berambut gondrong itu.
6.Teratai Putih
Mendengar Jalan Teratai Putih sebagain masyarakat Kota Palembang tentunya bukan hal yang baru lagi. Jalan yang berada di wilayah Kecamatan Sukarame menjadi tempat hiburan yang menarik bagi sebagian pria atau mungkin para pria hidung belang.
![8 Tempat Lokalisasi dan Prostistusi yang Melegenda]()
Berbicara tentang Teratai Putih, mantan Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad pasti akan diingat, minimal disebut. Kenapa? Karena gubernur satu ini pada sekitar 2001 mengeluarkan keputusan penutupan lokalisasi Teratai Putih.
Namun entah apa yang menjadi kendala dan pemicu, tempat ini masih menggeliat. Bahkan hingga di masa Pandemi COVID-19, walaupun terdampak, Kampung Baru masih ada.
Pantauan SINDO Media ini terlihat tempat ini masih menjalankan operasionalnya terbukti dari penjagaan di pintu keluar masuknya yang dijaga sejumlah orang. Jika ingin memasuk kedalam anda harus menyiapkan uang Rp20.000 untuk biaya administrasinya.
Ketika masuk ke dalam sungguh sangat mengejutkan, walaupun tak seramai sebelum pandemi, beberapa wanita tetap terlihat. Memang perubahan cukup dratis terlihat di kawasan perkampungan ini yang sangat sepi, berbeda dengan sebelum pandemi Corona menyerang, dimana sejak kita masuk sejumlah wanita duduk berbaris sambil menawarkan jasanya dan suara dentuman music juga ikut terdengar. Namun, sekarang tidak terlihat.
Puluhan rumah rumah diduga bordir yang berada di kawasan tersebut banyak yang tutup, namun beberapa wanita masih terlihat.
Salah seorang wanita, sebut saja Eneng (28). Wanita asal Bandung ini sudah 4 bulan bekerja di Kawasan yang akrab di telinga sebagai kawasan Kampung Baru. "Perubahannya sangat drastis, saya saja saat ini baru 1 dapat pelanggan selama seminggu ini,” ujarnya.
Ponpes ini sengaja didirikan di tengah eks lokalasasi Saritem dengan maksud dan tujuan menghilangkan imej negatif kawasan itu sebagai tempat transaksi seksual antara pria hidung belang dan pekerja seks komersial (PSK).
Di depan gebang masuk Saritem, tampak tukang tambal ban mangkal. Terlihat pula pak ogah siaga membantu pengendara keluar masuk jalan tersebut.
Tak tampak lagi perempuan-perempuan muda dengan dandanan menor dan wewangian yang menusuk hidung. Saritem kini menjadi kampung biasa padat penduduk.
Warga sekitar mengaku, Saritem tak seramai dulu. Kini warga Saritem mmenjalani hidup "normal". Namun tak dipungkiri masih ada yang menyewakan kamar-kamar atau tempat untuk transksi seksual.
4.Sunan Kuning
Semenjak ditutup pada Oktober 2019 lalu, sudah tidak ada lagi praktik prostitusi di lingkungan Sunan Kuning atau Kampung Argorejo, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Sekarang kampung tersebut jadi tempat kuliner. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, Pemkot Semarang kerap menggelar kegiatan di kampung tersebut.

Sebelum ditutup, nama lokalisasi Sunan Kuning sangat tenar. Praktik prostituasi ditempat tersebut buka sejak pagi hingga malam. Bahkan pengunjungnya dari berbagai daerah. Mereka sengaja datang untuk menikmati surga dunia mulai karaoke, minuman keras hingga layanan seks yang dijajakan di kompleks lokalisasi tersebut.
Namun kini, tempat tersebut telah berubah menjadi kawasan bisnis. Sejumlah pemilik usaha hiburan malam di tempat tersebut juga sudah beralih profesi, seperti berdagang. Pemkot Semarang pun berupaya keras untuk merubah pandangan masyarakat terhadap eks lokalisasi Sunan Kuning dan menghidupkan kembali perekonomian di kawasan tersebut.
Ketua RW 4 Argorejo, Kelurahan Kalibanteng Kulon Suwandi mengatakan, kehidupan di eks lokalisasi Sunan Kuning sudah berubah total. Sudah tidak ada lagi prostitusi dan gemerlap dunia malam. "Dulu warga saya tiarap karena SK (sunan kuning) ditutup. Kini mereka sudah bergerak untuk menata kehidupan yang lebih baik," ujarnya.
Dia berharap, Pemkot Semarang terus mendorong dan membantu membangkirkan perekonimian warga. Warga minta Pemkot Semarang terus terus turun tangan memberikan berbagai pelatihan dan kegiatan hingga masyarakat benar-benar bisa kembali mandiri.
"Selama ini sudah ada pelatihan masak, tata boga, membuat batik dan lainnya dari Pemkot Semarang. Kami berharap kegiatan untuk mengningkatka perekonomian masyarakat bisa terus berlanjut," ujarnya.
Camat Semarang Barat Heru Soekendar mengatakan, kini kawasan Sunan Kuning sudah berubah menjadi tempat kegiatan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. "Berbagai kegiatan telah dilaksanakan untuk mewujudkan Sunan Kuning menjadi destinasi wisata kuliner dan religi," tandasnya.
5. Patok Besi
Bagi anda yang berdomisili di sekitar Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Muratara, apa yang terlintas di pikiran anda jika mendengar kata "Patok Besi”. Ya… bagi sebagian orang, kata itu akan membawa alam pikirannya menuju suatu tempat atau kompleks lokalisasi yang berada di RT.07, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Salah satu Tokoh Pemuda di daerah Sumber Agung Bayu Sembiring mengatakan, Patok besi itu dan lokalisasi-lokalisasi lainnya sebenarnya merupakan bentuk konfirmasi dari pemerintah kita yang belum berhasil membawa kesejahteraan ke semua lini kehidupan masyarakatnya.
“Karena di sana alasan mayoritasnya karena kebutuhan ekonomi yang mendesak, pendidikan yang kurang berpihak, dan longgarnya peraturan tentang hal2 yang menyangkut sosial,” katanya.
Jadi menurut Bayu, Patok besi itu 'korban atau akibat' dari sistem pemerintahan yang masih harus banyak berbenah. Lalu apa yang pantas kita lakukan untuk korban atau akibat? Selamatkan. Bukan dijauhi apalagi dicaci maki.
Sedangkan menurut Ersak Dianto, salah satu pemangku adat Kelurahan Sumber Agung menjelaskan sejarah penamaan Patok Besi bagi Kelurahan Sumber Agung. Bagaimana bisa Patok Besi justru menjadi "Brand" bagi lokalisasi yang dibuka sejak Desember 1985 itu.
"Nah pada tahun 1985 lokalisasi yang awalnya berada di daerah Talang Ban - Mesat. Lokalisasi ini dipindahkan ke desa kami karena lokalisasi Mesat berada di tengah kota waktu itu. Sehingga dibuatlah keputusan memindahkan lokalisasi ke tempat yang belum ramai yaitu salah satu sudut di desa kami, Desa Sumber Agung," sambung Ersak, yang berambut gondrong itu.
6.Teratai Putih
Mendengar Jalan Teratai Putih sebagain masyarakat Kota Palembang tentunya bukan hal yang baru lagi. Jalan yang berada di wilayah Kecamatan Sukarame menjadi tempat hiburan yang menarik bagi sebagian pria atau mungkin para pria hidung belang.

Berbicara tentang Teratai Putih, mantan Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad pasti akan diingat, minimal disebut. Kenapa? Karena gubernur satu ini pada sekitar 2001 mengeluarkan keputusan penutupan lokalisasi Teratai Putih.
Namun entah apa yang menjadi kendala dan pemicu, tempat ini masih menggeliat. Bahkan hingga di masa Pandemi COVID-19, walaupun terdampak, Kampung Baru masih ada.
Pantauan SINDO Media ini terlihat tempat ini masih menjalankan operasionalnya terbukti dari penjagaan di pintu keluar masuknya yang dijaga sejumlah orang. Jika ingin memasuk kedalam anda harus menyiapkan uang Rp20.000 untuk biaya administrasinya.
Ketika masuk ke dalam sungguh sangat mengejutkan, walaupun tak seramai sebelum pandemi, beberapa wanita tetap terlihat. Memang perubahan cukup dratis terlihat di kawasan perkampungan ini yang sangat sepi, berbeda dengan sebelum pandemi Corona menyerang, dimana sejak kita masuk sejumlah wanita duduk berbaris sambil menawarkan jasanya dan suara dentuman music juga ikut terdengar. Namun, sekarang tidak terlihat.
Puluhan rumah rumah diduga bordir yang berada di kawasan tersebut banyak yang tutup, namun beberapa wanita masih terlihat.
Salah seorang wanita, sebut saja Eneng (28). Wanita asal Bandung ini sudah 4 bulan bekerja di Kawasan yang akrab di telinga sebagai kawasan Kampung Baru. "Perubahannya sangat drastis, saya saja saat ini baru 1 dapat pelanggan selama seminggu ini,” ujarnya.
Lihat Juga :