Curhat Emak-Emak Buruh Linting Rokok: Dulu Bisa Lembur Kita Makan Enak, Kini Tak Ada Lagi
Rabu, 21 September 2022 - 12:57 WIB
loading...
A
A
A
“Karena (rokok) permintaan konsumen turun, sehingga pekerjaan juga berkurang. Akhirnya jam kerja kita juga berkurang. Kalau sekarang jam kerja normal 7 jam. Masuk pukul 06.00 pulang jam 14.00 WIB,” lanjutnya. Baca juga: Rugikan Negara, Produsen Rokok Ilegal Harus Ditindak Tegas
Padahal, jam lembur sangat berarti bagi buruh untuk menambah penghasilan. Lembur juga melibatkan seluruh divisi, sehingga hampir seluruh buruh bisa mendapatkan uang lebih untuk dibawa pulang.
“Lembur itu besar hasilnya. Satu jam pertama itu kita mendapatkan Rp15 ribu. Jadi dalam sepekan kita setidaknya bisa mendapatkan Rp800 ribu. Jadi kalau ada lembur kita bisa makan enak lah,” tambah Agustina.
Semua bagian divisi itu bisa ikut lembur. "Karena kan enggak mungkin misalnya hanya bagian pelintingan saja, karena mesti di-packing, hingga di bagian gudang. Jadi kalau lembur itu melibatkan banyak buruh dari hulu sampai hilir,” imbuh perempuan asal Semarang Utara itu.
Dia menuturkan, sekira lima tahun terakhir menjadi waktu paling berat bagi buruh linting rokok. Mereka hampir tak pernah lembur bekerja karena tak banyak produksi seperti semula. “Ya penyebabnya termasuk kenaikan cukai rokok. Itu sangat berdampak. Apalagi ada kabar pada tahun 2023 cukai rokok akan meningkat. Ini bakal semakin memperberat kondisi kami,” cetusnya.
Sekarang harga BBM naik, harga-harga kebutuhan naik. Padahal nanti kalau cukai rokok benar-benar dinaikkan maka produksi rokok juga akan turun. "Akibatnya kami yang bekerja sebagai buruh rokok ini akan semakin terdampak. Harapannya jelas, cukai rokok tak naik,” bebernnya.
Padahal, jam lembur sangat berarti bagi buruh untuk menambah penghasilan. Lembur juga melibatkan seluruh divisi, sehingga hampir seluruh buruh bisa mendapatkan uang lebih untuk dibawa pulang.
“Lembur itu besar hasilnya. Satu jam pertama itu kita mendapatkan Rp15 ribu. Jadi dalam sepekan kita setidaknya bisa mendapatkan Rp800 ribu. Jadi kalau ada lembur kita bisa makan enak lah,” tambah Agustina.
Semua bagian divisi itu bisa ikut lembur. "Karena kan enggak mungkin misalnya hanya bagian pelintingan saja, karena mesti di-packing, hingga di bagian gudang. Jadi kalau lembur itu melibatkan banyak buruh dari hulu sampai hilir,” imbuh perempuan asal Semarang Utara itu.
Dia menuturkan, sekira lima tahun terakhir menjadi waktu paling berat bagi buruh linting rokok. Mereka hampir tak pernah lembur bekerja karena tak banyak produksi seperti semula. “Ya penyebabnya termasuk kenaikan cukai rokok. Itu sangat berdampak. Apalagi ada kabar pada tahun 2023 cukai rokok akan meningkat. Ini bakal semakin memperberat kondisi kami,” cetusnya.
Sekarang harga BBM naik, harga-harga kebutuhan naik. Padahal nanti kalau cukai rokok benar-benar dinaikkan maka produksi rokok juga akan turun. "Akibatnya kami yang bekerja sebagai buruh rokok ini akan semakin terdampak. Harapannya jelas, cukai rokok tak naik,” bebernnya.
Lihat Juga :