Ki Ageng Wonokusumo, Muazin di Era Majapahit yang Disegani Belanda
Rabu, 21 September 2022 - 05:25 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Rampogan Macan, Kisah Tradisi Gladiator di Tanah Jawa.
Mereka berkelompok, berada di rumah-rumah warga di tigapadhukuhan, yakni Wonotoro, Warung, dan Banjar dowo. Kemudian bergabung dengan warga dari bebagai kota yang jumlah keseluruhannya mencapai 500-an orang. Dalam tradisi layaknya Nyadran ini, para warga menyembelih dan memasak apa yang di sumbangkan oleh peziarah.
Yang menarik adalah saat memasak tidak diperkenankan untuk mencicipi makanan. Dan yang unik adalah makanan yang telah dimasak tanpa dirasakan terlebih dahulu selalu saja ‘pas’ bumbunya. Setelah makanan masak lalu dikendurikan, dibagi ke sekitar, dan dimakan bersama.
Baca Juga: Kisah Eyang Bintulu Aji, Pelarian Majapahit yang Menjaga Wahyu Kelapa Gagak Emprit Kerajaan Mataram.
Setelah itu, mereka mendatangi Makam Ki Wonokusumo bersama juru kunci untuk berdoa, menyampaikan maksud (hajat), atau mengucap syukur telah melunasinadhar.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, tradisi Jumadilakiran ini sudah diakui oleh pemerintah sebagai tradisi kebudayaan. “Ini salah satu tradisi budaya yang terus dilestarikan di Gunungkidul, " katanya.
Mereka berkelompok, berada di rumah-rumah warga di tigapadhukuhan, yakni Wonotoro, Warung, dan Banjar dowo. Kemudian bergabung dengan warga dari bebagai kota yang jumlah keseluruhannya mencapai 500-an orang. Dalam tradisi layaknya Nyadran ini, para warga menyembelih dan memasak apa yang di sumbangkan oleh peziarah.
Yang menarik adalah saat memasak tidak diperkenankan untuk mencicipi makanan. Dan yang unik adalah makanan yang telah dimasak tanpa dirasakan terlebih dahulu selalu saja ‘pas’ bumbunya. Setelah makanan masak lalu dikendurikan, dibagi ke sekitar, dan dimakan bersama.
Baca Juga: Kisah Eyang Bintulu Aji, Pelarian Majapahit yang Menjaga Wahyu Kelapa Gagak Emprit Kerajaan Mataram.
Setelah itu, mereka mendatangi Makam Ki Wonokusumo bersama juru kunci untuk berdoa, menyampaikan maksud (hajat), atau mengucap syukur telah melunasinadhar.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, tradisi Jumadilakiran ini sudah diakui oleh pemerintah sebagai tradisi kebudayaan. “Ini salah satu tradisi budaya yang terus dilestarikan di Gunungkidul, " katanya.
(nag)
Lihat Juga :