Kisah Penyamaran Putri Gayatri dari Singosari Ketika Ditawan Musuh di Kediri

Selasa, 13 September 2022 - 05:54 WIB
loading...
Kisah Penyamaran Putri Gayatri dari Singosari Ketika Ditawan Musuh di Kediri
Foto ilustrasi SINDOnews
A A A
Perang selalu menimbulkan duka mendalam, ketakutan dan dendam. Pilu dan duka dirasakan karena ditinggal selamanya oleh orang paling dicintai. Dendam pun tumbuh, diiringi rasa takut karena nyawa selau dincar maut.

Situasi seperti itu dialami Gayatri, Putri Raja Kertanagara, saat istana Kerajaan Singasari diluluhlantakkan oleh pasukan Jayakatwang. Gayatri sendiri menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi oleh tentara Jayakatwang. Dia bersama sang pelayan pribadinya Sodrakala selamat, saat banyak orang Istana Singasari yang dibantai Jayakatwang, meski kemudian mereka diangkut jadi tawanan.



Melihat putri raja dalam bayang-bayang maut, Sodrakala membisiki Gayatri agar melakukan penyamaran selama ditawan musuh. Sodrakala meminta agar identitasnya sebagai anak raja tak diketahui. Sebab, bisa saja musuh menghabisi keturunan raja Kertanagara, agar kelak tidak ada aksi balas dendam. Baca juga: Polisi Desa Zaliznychne, Ukraina Timur Selidiki Kejahatan Perang Oleh Tentara Rusia

Nasihat Sodrakala diterima. Selama berada di tempat tawanan, yaitu di Keraton Kediri, Gayatri yang ditempatkan di bangsal perempuan tersebut melakukan penyamaran. Dikutip dari buku "Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit" karya Earl Drake, disebutkan bahwa Gayatri berhasil menyembunyikan indentitasnya sebagai putri raja.

Tak satupun musuh yang mencurigai bahwa itu putri raja. Bahkan Ratu Kediri menaruh perhatian terhadap Gayatri yang masih berusia muda. Gayatri juga diperkenalkan kepada putri raja Kediri yang ternyata masih seumuran dengannya. Sang putri pun menyambut Gayatri.

Karena tak ada kecurigaan, pihak musuh tidak pernah mempertanyakan lebih jauh asal usul Gayatri. Singaktnya, dia menyamar sambil mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.

Setelah menghancurkan istana Singasari, Jayakatwang terus memburu pasukan yang masih tersisa. Pangeran Wijaya yang terpaksa mundur ke Sungai Brantas juga dikejar. Terdesak pasukan Jayakatwang, Pangeran Wijaya bersama pengikut setianya harus bertaruh nyawa menyeberan Sungai Berantas. Di sini sang pangeran menelan kenyataan pahit. Sebagian besar pasukannya yang tak seberapa jumlahnya tenggelam terseret arus di sungai ini.

Sebagian lagi berhasil ditangkap oleh pasukan Jayakatwang. Sisanya yang berhasil menyeberang, lari kocar-kacir menyelamatkan dirinya dari kejaran pasukan Jayakatwang. Pangeran Wijaya sendiri sedikit beruntung. Ia diselamatkan oleh seorang kepala desa yang memberinya tumpangan perlindungan, makan dan minum. Sang pangeran disembunyikan oleh kepala desa tersebut dari musuh-musuh yang masih berkeliaran mengejar Pangeran Wijaya.

Merasa tidak nyaman, Pangeran Wijaya akhirnya memutuskan kabur ke Pulau Madura. Di sana, dia menemui Bupati Madura Arya Wiraraja. Bupati ini sebelumnya merupakan pejabat istana Singasari yang dilengser oleh Kertanagara. Arya Wiraraja sosok yang licik dan suka berkomplot ke sana kemari. Baca juga: Gayatri Rajapatni Wafat, Raja Majapahit Hayawurung Gelar Perayaan Tujuh Hari 7 Malam

Di hadapan Pangeran Wijaya dia menyatakan komitmennya membantu Pangeran Wijaya merebut kembali kekuasaan dari Raja Jayakatwang. Namun, ternyata itu hanya ucapan di mulut. Sebab, satu sisi Arya Wiraraja sebenarnya memiliki hubungan baik dengan Jayakatwang. Sisi lain, dia memiliki ambisi pribadi. Sikapnya tidak konsisten, tergantung situasi mana yang menguntungkan dirinya.

Pada akhirnya, demi keuntungan dirinya, Pangeran Wijaya diputuskan oleh Arya Wiraraja menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Arya Wiraraja sendiri bersedia menjadi insiator dan fasilitator penyerahan diri itu. Ia kemudian meminta Jayakatwang untuk menyambut penyerahan sang menantu Kertanagara ini.

Hari penyerahan diri itu pun tiba. Iring-iringan rombongan Wijaya menuju ibu kota Kediri di Daha disambut meriah oleh pihak Kediri. Semua warga ingin menyaksikan dari dekat prosesi penyerahan diri Pangeran Wijaya. Gayatri yang juga dalam penyamaran, ada di antara kerumunan rakyat banyak itu.

Menembus barisan rakyat yang menyaksikan prosesi itu, mata Pangeran Wijaya diam-diam mengintai sosok Gayatri. Ia berharap, matanya bertemu mata Gayatri yang sudah lama terpisah oleh kejamnya perang.

Usahanya pun tidak sia-sia. Setelah memperhatikan satu per satu penonton yang menyambutnya, mata Pangeran Wijaya menangkap sosok Gayatri di antara para rakyat Kediri itu. Sepasang mata Wijaya berkedip sejenak, lalu menatapnya dalam-dalam.

Wijaya dan Gayatri beradu pandang, namun tidak bisa berlama-lama. Sebab, keduanya menyadari bahwa mereka berada di wilayah musuh. Gayatri pun masih berusaha menutup rapat identitas sebenarnya, agar penyamarannya tidak terbongkar.
(don)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1964 seconds (10.55#12.26)