Kisah Pertemuan Misterius Bung Karno dengan Raja Jayabaya, Minta Restu Sebelum Proklamasikan Kemerdekaan
Senin, 08 Agustus 2022 - 07:16 WIB
loading...
A
A
A
Di masa Jayabaya, Kerajaan Panjalu atau Kadiri atau Kediri dengan ibu kota Dahanapura atau Daha, mencapai masa keemasannya. Jayabaya merupakan keturunan Raja Airlangga (1019-1042). Ia adalah raja ketiga Panjalu setelah Airlangga membelah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Dengan kekuatan dan kebijakannya, Jayabaya berhasil menyatukan Panjalu dan Jenggala yang bertahun-tahun berseteru dalam perang saudara. Jayabaya juga termasyhur dengan ramalannya yang dikenal bernama Jangka Jayabaya.
Baca juga: Kisah Putri Mandalika, Berwajah Cantik Jelita Rela Berkorban jadi Cacing Laut Demi Kedamaian Abadi
Ramalan itu disusun dalam bentuk tembang (macapat) dan gancaran (prosa) serta aforisma-aforisma singkat dan padat sehingga mudah dihafalkan. Di dalam ramalan Jayabaya, Pulau Jawa terbagi atas tiga zaman besar.
Yakni jaman Kali Swara atau zaman permulaan yang lamanya 700 tahun matahari atau 721 berdasarkan hitungan tahun bulan. Kemudian zaman Kaliyoga atau zaman pertengahan yang lamanya juga 700 tahun dan jaman Kali Sangsara atau zaman akhir yang lamanya juga 700 tahun terhitung sejak 1401 hingga 2100.
Peneliti asing George Quinn dalam Wali Berandal Tanah Jawa menuliskan, dalam Jangka Jayabaya terdapat dua bait ikonik yang dianggap menjadi bukti bahwa Raja Jayabaya dapat meramalkan masa depan.
"Tersembunyi dalam kedua bait itu, Soekarno pun tampil sekilas," tulisnya. Teks ramalan yang terkait Soekarno diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berbunyi: Lalu Garuda Ngwangga akan berkuasa. Ibunya putri dari Bali. Ia akan berkuasa di tanah Jawa, bala tentaranya setan dan demit.
Garuda ditafsirkan sebagai burung garuda, lambang negara Republik Indonesia. Kemudian Ngwangga dianggap merujuk kepada Soekarno. Ngwangga merupakan nama lain dari Adipati Karna, tokoh pewayangan saudara Pandawa satu ibu beda ayah.
Baca juga: Kisah Legenda Banyuwangi, Tragedi Kesetian Cinta Sri Tanjung pada Patih Sidopekso yang Berujung Petaka Berdarah
Dengan kekuatan dan kebijakannya, Jayabaya berhasil menyatukan Panjalu dan Jenggala yang bertahun-tahun berseteru dalam perang saudara. Jayabaya juga termasyhur dengan ramalannya yang dikenal bernama Jangka Jayabaya.
Baca juga: Kisah Putri Mandalika, Berwajah Cantik Jelita Rela Berkorban jadi Cacing Laut Demi Kedamaian Abadi
Ramalan itu disusun dalam bentuk tembang (macapat) dan gancaran (prosa) serta aforisma-aforisma singkat dan padat sehingga mudah dihafalkan. Di dalam ramalan Jayabaya, Pulau Jawa terbagi atas tiga zaman besar.
Yakni jaman Kali Swara atau zaman permulaan yang lamanya 700 tahun matahari atau 721 berdasarkan hitungan tahun bulan. Kemudian zaman Kaliyoga atau zaman pertengahan yang lamanya juga 700 tahun dan jaman Kali Sangsara atau zaman akhir yang lamanya juga 700 tahun terhitung sejak 1401 hingga 2100.
Peneliti asing George Quinn dalam Wali Berandal Tanah Jawa menuliskan, dalam Jangka Jayabaya terdapat dua bait ikonik yang dianggap menjadi bukti bahwa Raja Jayabaya dapat meramalkan masa depan.
"Tersembunyi dalam kedua bait itu, Soekarno pun tampil sekilas," tulisnya. Teks ramalan yang terkait Soekarno diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berbunyi: Lalu Garuda Ngwangga akan berkuasa. Ibunya putri dari Bali. Ia akan berkuasa di tanah Jawa, bala tentaranya setan dan demit.
Garuda ditafsirkan sebagai burung garuda, lambang negara Republik Indonesia. Kemudian Ngwangga dianggap merujuk kepada Soekarno. Ngwangga merupakan nama lain dari Adipati Karna, tokoh pewayangan saudara Pandawa satu ibu beda ayah.
Baca juga: Kisah Legenda Banyuwangi, Tragedi Kesetian Cinta Sri Tanjung pada Patih Sidopekso yang Berujung Petaka Berdarah
Lihat Juga :