Kisah Legenda Banyuwangi, Tragedi Kesetian Cinta Sri Tanjung pada Patih Sidopekso yang Berujung Petaka Berdarah
Minggu, 07 Agustus 2022 - 08:45 WIB
loading...
A
A
A
Sayang peristiwa penyerangan itu, tidak tercatat secara lengkap tanggalnya. Selain itu, ada kesan bahwa dalam penyerangan itu para pejuang Blambangan kalah total, sementara VOC Belanda terkesan tidak menderita kerugian apapun.
Pangeran Puger yang memimpin penyerangan itu gugur. Sedangkan Wong Agung Wilis, tertangkap dan terluka setelah Lateng dihancurkan. Wong Agung Wilis akhirnya dibuang oleh VOC Belanda ke Pulau Banda.
Berdasarkan data sejarah, nama Banyuwangi terkait erat dengan kejayaan Blambangan. Tanah di timur Pulau Jawa ini, dipimpin Pangeran Tawang Alun (1655-1691), dan dilanjutkan oleh Pangeran Danuningrat (1736-1763).
Baca juga: Kisah Gundik dan Nyai Pribumi di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda
Blambangan juga tercatat pernah berada di bawah perlindungan Bali yakni pada 1763-1767. Selama masa itu, VOC Belanda belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan.
Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur, termasuk di dalamnya wilayah Blambangan, diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC Belanda. Kala itu VOC Belanda, merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya, namun belum tertarik untuk mengelolanya.
Siapa sangka, Inggris yang datang ke wilayah tersebut, justru menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Tak hanya itu, Inggris juga mendirikan kantor dagangnya pada tahun 1766 di wilayah yang kini dikenal dengan sebutan Kompleks Inggrisan.
Di wilayah tempat pendirian kantor dagang Inggris tersebut, terdapat bandar kecil Banyuwangi. Kala itu, bandar kecil tersebut dikenal dengan nama Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum.
Baca juga: Kisah Putri Gading Cempaka, Keturunan Majapahit yang Kecantikannya Memicu Tragedi Berdarah
Melihat kehadiran Inggris yang menjalin hubungan dagang dengan Banyuwangi, VOC Belanda bergerak untuk segera merebut Banyuwangi, dan mengamankan seluruh Blambangan. Peperangan di tanah Blambangan itu terjadi selama lima tahun, yakni pada tahun 1767-1772.
Perusahaan dagang milik Belanda tersebut, berupaya merebut seluruh wilayah Blambangan, utamanya Banyuwangi, yang kala itu dikuasai perusahaan dagang Inggris, dan berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan.
Perang maha dahsyat, yang disebut perang Puputan Bayu itu meletus pada 18 Desember 1771. Perang Puputan Bayu ini, menjadi bagian dari proses lahirnya Banyuwangi, dan hingga kini diperingati sebagai hari jadi Banyuwangi.
Pangeran Puger yang memimpin penyerangan itu gugur. Sedangkan Wong Agung Wilis, tertangkap dan terluka setelah Lateng dihancurkan. Wong Agung Wilis akhirnya dibuang oleh VOC Belanda ke Pulau Banda.
Berdasarkan data sejarah, nama Banyuwangi terkait erat dengan kejayaan Blambangan. Tanah di timur Pulau Jawa ini, dipimpin Pangeran Tawang Alun (1655-1691), dan dilanjutkan oleh Pangeran Danuningrat (1736-1763).
Baca juga: Kisah Gundik dan Nyai Pribumi di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda
Blambangan juga tercatat pernah berada di bawah perlindungan Bali yakni pada 1763-1767. Selama masa itu, VOC Belanda belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan.
Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur, termasuk di dalamnya wilayah Blambangan, diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC Belanda. Kala itu VOC Belanda, merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya, namun belum tertarik untuk mengelolanya.
Siapa sangka, Inggris yang datang ke wilayah tersebut, justru menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Tak hanya itu, Inggris juga mendirikan kantor dagangnya pada tahun 1766 di wilayah yang kini dikenal dengan sebutan Kompleks Inggrisan.
Di wilayah tempat pendirian kantor dagang Inggris tersebut, terdapat bandar kecil Banyuwangi. Kala itu, bandar kecil tersebut dikenal dengan nama Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum.
Baca juga: Kisah Putri Gading Cempaka, Keturunan Majapahit yang Kecantikannya Memicu Tragedi Berdarah
Melihat kehadiran Inggris yang menjalin hubungan dagang dengan Banyuwangi, VOC Belanda bergerak untuk segera merebut Banyuwangi, dan mengamankan seluruh Blambangan. Peperangan di tanah Blambangan itu terjadi selama lima tahun, yakni pada tahun 1767-1772.
Perusahaan dagang milik Belanda tersebut, berupaya merebut seluruh wilayah Blambangan, utamanya Banyuwangi, yang kala itu dikuasai perusahaan dagang Inggris, dan berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan.
Perang maha dahsyat, yang disebut perang Puputan Bayu itu meletus pada 18 Desember 1771. Perang Puputan Bayu ini, menjadi bagian dari proses lahirnya Banyuwangi, dan hingga kini diperingati sebagai hari jadi Banyuwangi.
(eyt)
Lihat Juga :