20 Tahun Lalu Terlibat Bom Bali, Kini Ali Fauzi Ajak Mahasiswa Lawan Radikalisme
Selasa, 02 Agustus 2022 - 20:34 WIB
loading...
A
A
A
Ali yang sudah terasimilasi ini menyebutkan, pada tahun 2015-2022 lebih dari 3.000 orang terduga teroris telah ditangkap. Jumlah ini bahkan melebihi jumlah penangkapan pada periode 2002-2014 lalu.
Ia membeberkan, hasil riset Marc Sageman yang menunjukkan faktor terbesar orang untuk bergabung dengan jaringan radikalisme dikarenakan faktor friendship dan kinship (pertemanan dan kekeluargaan). "Saya dulu bersama saudara saya dalam menjalankan pengalaman menyedihkan ini," kata adik kandung Amrozi tersebut.
Baca juga: Ribuan Pelajar SMAN 2 Rantepao Gelar Demonstrasi Tolak Penggusuran Sekolah
Radikalisasi, menurut Ali bukanlah sebuah produk dari keputusan yang singkat, tetapi hasil dari sebuah proses panjang. Menurut pengalamannya, proses ini terjadi dengan perlahan-lahan mendorong seseorang untuk berkomitmen pada aksi kekerasan atas nama Tuhan. Namun alasan yang membuat anggotanya tetap tinggal yakni, adanya dukungan sesama anggota.
Lebih dalam, Ali mengungkapkan bahwa pada dasarnya komunitas teroris itu menyediakan dua dukungan kepada para anggotanya. Pertama adalah dukungan moral, hal ini dapat terbentuk melalui pemberian pemahaman radikal kepada para anggotanya dengan pengajian, idad, rihlah, mukhoyamah, dan sebagainya. Kedua adalah dukungan material seperti halnya bantuan pendidikan, lapangan kerja, bantuan kesehatan, dan lain-lain.
Hadirnya kedua dukungan itu yang mengikat para anggotanya, sehingga nyaman dan sulit untuk ke luar. Namun, jika ke luar mereka tidak punya teman, dikucilkan, dimusuhi bahkan diancam pembunuhan. Oleh karenanya, sangat penting membentuk sebuah komunitas baru yang memberikan dukungan serupa tetapi bersifat positif. "Seperti cinta negara, cinta polisi/TNI, cinta perdamaian, toleransi, menjunjung Islam yang ramah bukan marah," ucapnya.
Baca juga: Kisah Putri Gading Cempaka, Keturunan Majapahit yang Kecantikannya Memicu Tragedi Berdarah
Ia membeberkan, hasil riset Marc Sageman yang menunjukkan faktor terbesar orang untuk bergabung dengan jaringan radikalisme dikarenakan faktor friendship dan kinship (pertemanan dan kekeluargaan). "Saya dulu bersama saudara saya dalam menjalankan pengalaman menyedihkan ini," kata adik kandung Amrozi tersebut.
Baca juga: Ribuan Pelajar SMAN 2 Rantepao Gelar Demonstrasi Tolak Penggusuran Sekolah
Radikalisasi, menurut Ali bukanlah sebuah produk dari keputusan yang singkat, tetapi hasil dari sebuah proses panjang. Menurut pengalamannya, proses ini terjadi dengan perlahan-lahan mendorong seseorang untuk berkomitmen pada aksi kekerasan atas nama Tuhan. Namun alasan yang membuat anggotanya tetap tinggal yakni, adanya dukungan sesama anggota.
Lebih dalam, Ali mengungkapkan bahwa pada dasarnya komunitas teroris itu menyediakan dua dukungan kepada para anggotanya. Pertama adalah dukungan moral, hal ini dapat terbentuk melalui pemberian pemahaman radikal kepada para anggotanya dengan pengajian, idad, rihlah, mukhoyamah, dan sebagainya. Kedua adalah dukungan material seperti halnya bantuan pendidikan, lapangan kerja, bantuan kesehatan, dan lain-lain.
Hadirnya kedua dukungan itu yang mengikat para anggotanya, sehingga nyaman dan sulit untuk ke luar. Namun, jika ke luar mereka tidak punya teman, dikucilkan, dimusuhi bahkan diancam pembunuhan. Oleh karenanya, sangat penting membentuk sebuah komunitas baru yang memberikan dukungan serupa tetapi bersifat positif. "Seperti cinta negara, cinta polisi/TNI, cinta perdamaian, toleransi, menjunjung Islam yang ramah bukan marah," ucapnya.
Baca juga: Kisah Putri Gading Cempaka, Keturunan Majapahit yang Kecantikannya Memicu Tragedi Berdarah
Lihat Juga :