Kisah Mistis Alas Purwo Dijaga Wanita Cantik Bernama Gayatri
Senin, 18 Juli 2022 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan, Hayam Wuruk yang merupakan cucu Gayatri, membawa Kerajaan Majapahit berada pada masa keemasan, dan menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Bersama Mahapatih Gajahmada, Raja Hayam Wuruk membawa Majapahit sebagai kerajaan terkuat.
Earl Drake dalam bukunya menyebut, sejak meninggalnya raja kedua Kerajaan Majapahit, Jayanegara, yang merupakan putre dari Raden Wijaya, Gayatri seharusnya diangkat menjadi Raja Majapahit, karena saat itu Jayanegara tidak memiliki anak.
Namun, Gayatri memilih untuk tidak menjadi Raja Majapahit, karena sudah menjadi Bhiksuni. Kekuasaan Majapahit, diserahkan kepada putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, untuk menggantikan Jayanegara yang telah mangkat.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Gayatri memilih peran menjadi penjaga kedamaian, dan memastikan Kerajaan Majapahit berjalan di jalan yang tepat, dengan dipimpin orang-orang yang tepat pula. Dia tidak mengedepankan egonya untuk berkuasa, dan lebih memilih untuk memikirkan masa depan Kerajaan Majapahit.
Gambaran sosok Gayatri putri bungsu Kertanegara itu, tentunya memiliki kemiripan sifat dengan sosok Gayatri penunggu Alas Purwo. Terlepas dari misteri sosok Gayatri, hingga kini Alas Purwo masih tetap terjaga dan lestari, dan menjadi tempat hidup bagi ribuan spesies satwa dan tanaman.
Dilansir dari situs resmi Taman Nasional Alas Purwo, tnalaspurwo.go.id, kawasan Alas Purwo, sebelum menjadi taman nasional, semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 stbl 456 tanggal 1 September 1939 dengan luas areal 62.000 hektare.
Kemudian, diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo pada tahun 1992 dengan luas 43.420 hektare melalui SK Menhut No. 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992, dan pada tahun 2014 ditetapkan dengan luas 44.037,30 hekatera melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.3629 /Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 6 Mei 2014.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di Pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana buatan dan hutan tanaman.
Baca juga: Asyik Ngamar Bareng 2 Wanita Tanpa Baju, Pemuda Panik Digerebek Petugas Gabungan
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi vegetasi. Tumbuhan khas pada taman nasional ini yaitu Sawo Kecik (Manilkara kauki), dan jenis yang dilindungi yaitu Sadeng (Livistoma rotundifolia).
Di samping kaya akan jenis-jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya akan jenis-jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Sampai saat ini teridentifikasi 45 jenis mamalia di Taman Nasional Alas Purwo.
Beberapa jenis mamalia yang sering dijumpai di kawasan TN Alas Purwo diantaranya Banteng (Bos javanicus), Rusa Timor (Rusa timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Lutung Budeng (Tracypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
Untuk aves teridentifikasi lebih dari 250 jenis burung. Beberapa jenis burung yang sering dijumpai diantaranya Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan Hijau (Galus varius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Kuntul Kecil (Egreta garzeta), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Merak Hijau Jawa (Pavo muticus muticus), Dara Laut Jambul (Sterna bergii) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris).
Earl Drake dalam bukunya menyebut, sejak meninggalnya raja kedua Kerajaan Majapahit, Jayanegara, yang merupakan putre dari Raden Wijaya, Gayatri seharusnya diangkat menjadi Raja Majapahit, karena saat itu Jayanegara tidak memiliki anak.
Namun, Gayatri memilih untuk tidak menjadi Raja Majapahit, karena sudah menjadi Bhiksuni. Kekuasaan Majapahit, diserahkan kepada putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, untuk menggantikan Jayanegara yang telah mangkat.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Gayatri memilih peran menjadi penjaga kedamaian, dan memastikan Kerajaan Majapahit berjalan di jalan yang tepat, dengan dipimpin orang-orang yang tepat pula. Dia tidak mengedepankan egonya untuk berkuasa, dan lebih memilih untuk memikirkan masa depan Kerajaan Majapahit.
Gambaran sosok Gayatri putri bungsu Kertanegara itu, tentunya memiliki kemiripan sifat dengan sosok Gayatri penunggu Alas Purwo. Terlepas dari misteri sosok Gayatri, hingga kini Alas Purwo masih tetap terjaga dan lestari, dan menjadi tempat hidup bagi ribuan spesies satwa dan tanaman.
Dilansir dari situs resmi Taman Nasional Alas Purwo, tnalaspurwo.go.id, kawasan Alas Purwo, sebelum menjadi taman nasional, semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 stbl 456 tanggal 1 September 1939 dengan luas areal 62.000 hektare.
Kemudian, diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo pada tahun 1992 dengan luas 43.420 hektare melalui SK Menhut No. 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992, dan pada tahun 2014 ditetapkan dengan luas 44.037,30 hekatera melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.3629 /Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 6 Mei 2014.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di Pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana buatan dan hutan tanaman.
Baca juga: Asyik Ngamar Bareng 2 Wanita Tanpa Baju, Pemuda Panik Digerebek Petugas Gabungan
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi vegetasi. Tumbuhan khas pada taman nasional ini yaitu Sawo Kecik (Manilkara kauki), dan jenis yang dilindungi yaitu Sadeng (Livistoma rotundifolia).
Di samping kaya akan jenis-jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya akan jenis-jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Sampai saat ini teridentifikasi 45 jenis mamalia di Taman Nasional Alas Purwo.
Beberapa jenis mamalia yang sering dijumpai di kawasan TN Alas Purwo diantaranya Banteng (Bos javanicus), Rusa Timor (Rusa timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Lutung Budeng (Tracypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
Untuk aves teridentifikasi lebih dari 250 jenis burung. Beberapa jenis burung yang sering dijumpai diantaranya Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan Hijau (Galus varius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Kuntul Kecil (Egreta garzeta), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Merak Hijau Jawa (Pavo muticus muticus), Dara Laut Jambul (Sterna bergii) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris).
Lihat Juga :